Makam Keramat Panjang: Tempat Peristirahatan Terakhir Aulia

Rumah adalah tempat untuk kembali, untuk sekedar bernaung dari terik matahari, atau sebagai tempat beristirahat saat dingin malam menerjang. Meski demikian, rumah sangat universal jika disebut sebagai tempat kembali pulang.  Tidak hanya tempat tinggal sementara, namun bisa dikatakan juga, rumah adalah tempat peristirahatan untuk selamanya.

Ada berbagai macam rumah sebagai tempat peristirahatan terakhir manusia. Hal mendasar dan menjadikannya berbeda adalah keyakinan yang dianut oleh manusia semasa hidup. Menurut keyakinan orang yang beragama islam, seseorang yang sudah tidak bernyawa maka jasadnya haruslah dikubur di dalam tanah, tempat peristirahatan tersebut kemudian biasa disebut makam. Lain hal dengan keyakinan yang diyakini umat agama Hindu. Mereka yang telah tiada, jasadnya akan dibakar dan dilakukan dalam bentuk prosesi upacara yang disebut ngaben.

Membahas makam, ada hal menarik yang sekiranya kita bisa jumpai di Tangerang. Makam dengan ukurannya yang tidak biasa dari kebanyakan makam.

Makam ini terletak di desa Sukawali, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Panjang makam ini sekitar 9 meter dan memiliki lebar sekitar satu meter. Menurut sumber mengatakan, bahwa di dalam makam tersebut terdapat perahu sang ahlul makam, perahu tersebut adalah perahu yang biasa digunakan untuk berdakwah menyebarkan ajaran islam.

Banyak sumber lain juga mengatakan, jika makam ini diperkirakan berusia lebih dari seribu tahun, karena disekitaran makam telah ditemukan beberapa objek arkeologi seperti gerabah, fragmen keramik, dan fragmen kapan.

Ada dua spekulasi yang hadir terkait besarnya makam ini, entah makam tersebut terdapat perahu yang ikut disemayamkan bersama sang ahlul makam atau mungkin makam ini berukuran sepanjang itu karena memang menyesuaikan tinggi postur tubuh orang jaman dulu yang tingginya tidak lazim. Wallahu alam.

Kemudian, warga sekitar memberi keterangan terhadap beberapa kejadian aneh di makam ini. Suatu ketika banjir melanda daerah tersebut, hanya sekitaran makam ini saja yang tidak terendam banjir. Lalu, konon saat gunung Krakatau meletus, makam ini bersih dari lumpur atau material lainnya yang disemburkan oleh gunung Krakatau tersebut. Hal lain yang menjadi keanehan selanjutnya ialah, ada beberapa orang mengaku dalam mimpinya sempat didatangkan seseorang yang berwajah arab, mengenakan baju putih, diminta untuk mendatangi makam tersebut.

Seiring berjalannya waktu atas beberapa kejadian tersebut, maka makam ini kemudian dikeramatkan.

Dahulu, makam keramat panjang ini pernah dikunjungi oleh orang Yaman, dan memampang plang besar yang bertuliskan Habib Abdullah bin Ali bin Uraidhi. Padahal warga sekitar menyebut ahlul kubur dengan nama syekh Daud.

Sumber lainnya mengatakan, pemberian nama Habib Abdullah bin Ali bin Uraidhi berawal dari seorang aulia bernama Habib Muhammad bin Syamsu bin hasan bin Alwi bin Syech Assegaff, beliau mengetahui nama tersebut dari dialog dengan cara ghaib.

Jika benar bahwa nama asli dari ahlulkubur adalah Habib Abdullah bin Ali bin Uraidhi, maka beliau adalah salah satu keturunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang ketujuh, masih satu zaman dengan imam Maliki. Artinya, beliau adalah orang yang pertama kali menyebarkan islam di Indonesia, jauh sebelum penyebaran agama islam yang diajarkan Wali Songo.  Wallahu alam.

Setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi ini memang selalu menjadi misteri, karena sejarah selalu menawarkan teka-teki, tidak seperti ilmu pasti yang dapat dipecahkan dengan logika dan perhitungan rumus yang sudah diketahui.

 

Komentar

Engga suka digigit nyamuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *