Madrasah Pertama Bagi Seluruh Anak di Dunia

Hal pertama yang terlintas dipikiran kita ketika mendengar kata “ibu-ibu” umumnya pasti mengurusi kegiatan rumah tangga seperti masak, merapihkan rumah atau bahkan ada yang hobinya menghabiskan uang suami dengan merawat diri ke salon. Hal lainnya adalah sebagai seorang guru hebat yang akan terus mendidik anaknya hingga akhir hayat.

Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Saya sepakat dengan pepatah yang sering didengungkan oleh banyak orang bijak ketika sedang mengikuti seminar pendidikan “Jika ingin membuat sebuah negara yang maju, maka didiklah anak sedari dini, seorang ibu cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula” saya mulai mengamini ungkapan itu ketika
saya secara tidak sengaja membaca artikel yang menceritakan kisah hidup ibu Nursyda Syam.

Beliau adalah pendiri Klub Baca Perempuan, sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang
bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya pemberdayaan kaum
perempuan. Berlokasi di Dusun Prawira Desa Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok
Utara.

Kecintaannya terhadap buku tak lepas dari tangan sang ayah yang sering membelikan buku dongeng inspiratif seperti biografi PM India Mahatma Gandhi dan PM Pakistan Benazir Bhutto.
Berbagai sumber mengatakan bahwa tujuan sederhananya membangun Klub Baca Perempuan adalah supaya lebih banyak orang yang hidupnya berubah dan tercerahkan dengan membaca. Beliau merasakan betapa membaca sangat memperkaya pengetahuan dan membuatnya berdaya untuk membantu orang-orang di sekitarnya.
Usahanya dalam membangun gerakan sosial ini terbilang tidak mudah dan butuh banyak perjuangan, beliau sempat mengalami penolakan dari daerah tempat tinggalnya, masyarakat yang cenderung pasif dan kurang memiliki minat membaca adalah tantangan awal yang telah dilewatinya. Hingga akhirnya beliau memilih kembali ke kampung halamannya.
Di kampung halamannya sendiri, beliau dianggap ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa atau bupati, karena saat itu sedang musim kampanye politik. Mereka berpikir dirinya akan mendapatkan perhatian khalayak umum dengan mendirikan tempat baca gratis.
Memang benar pepatah yang mengatakan, buah kerja keras tidak akan pernah menghianati hasil. Kini, usahanya untuk dapat meningkatkan minat baca masyarakat dan membantu pemerintah dalam melaksanakan program kegiatan di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan dan anak berbuah manis. Berbagai macam peghargaan telah diraihnya SK Trimurti Award (2013), anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka (2013), dan Frans Seda Award (2016).
Saat ini Klub Baca Perempuan secara rutin mengkampanyekan gerakan gemar membaca, mendorong lahirnya gerakan ‘keluarga membaca’, memberikan motivasi kepada kaum hawa untuk menjadi bagian masyarakat yang unggul dan cerdas.
Klub Baca Perempuan telah mendirikan sekolah alam sebagai tempat untuk belajar orang tua dan anak. Hal yang dipelajari di sekolah alam diantaranya tanggap bencana, bercocok tanaman organic dan terkadang membuat prakarya berupa kamera dari kaleng bekas ( kamera lubang jarum), ada juga kelas cita-cita yang mempertemukan anak-anak dipelosok dengan tokoh ispiratif dari berbagai kalangan dan profesi, dan kelas budi pekerti. Jumlah sekolah alam yang telah didirikan KBP saat ini berjumlah 4 sekolah. Kegiatan belajar di sekolah alam dimulai saat sore hari sejak 2011 silam.
Sejak tahun 2006 Klub Baca Perempuan telah mendirikan 24 taman bacaan di daerah
kabupaten Lombok Utara, kebanyakan taman baca klub baca perempuan didirikan di daerah-daerah terpencil, dimana kondisi masyarakatnya minim dengan pengetahuan dan masih save save zona. Saat ini terdapat lebih dari 16 ribu judul yang dikoleksi, yang didapat dari usaha dan donasi.
Selain mengadakan taman baca dan sekolah alam, setiap Minggu pagi KBP melakukan kegiatan rutin bersama ibu-ibu, kegiatan itu bernama Silaq Batur di Lapangan Supersemar, Tanjung, Lombok Utara. Silaq dalam bahasa setempat berarti mari. Secara umum, kegiatan ini bermakna: mari kawan, menulis dan bertutur.
Mengutip kata-kata dari femina.co.id saat wawacara langsung dengan Ibu Nursyda Syam “Menghebatkan wanita berarti mendidik sebuah keluarga, dan akhirnya, sebuah negara. Bagaimanapun, ibu adalah tempat anak pertama bertanya. Apa jadinya sebuah bangsa jika para ibu tidak cerdas?”
Komentar

Engga suka digigit nyamuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *