Luis Sepulveda: Penulis Yang Menjalani Kisah Hidupnya Dengan Penuh Tantangan

Sebagian dari kita mungkin punya penulis favorit, baik itu penulis muda ataupun penulis yang sudah berusia senja. Bagi mereka perkara umur bukanlah jadi penghalang yang sejauh ini masih produktif menghasilkan banyak karya hingga sampai ajal memanggil dan karya-karyanya bakal terus terkenang sepanjang masa.

Bahkan tak jarang beberapa penulis menciptakan karyanya atas pengalaman kisah hidup panjang yang mereka alami. Seperti penulis yang satu ini, beliau terkenal dengan pengalaman kisah hidupnya yang penuh tantangan dan perlawanan. Dia adalah Luis Sepulveda seorang novelis kenamaan asal Cile, Amerika Selatan.

Semasa kecil, Luis hidup seperti kebanyakan anak-anak normal yang dapat bersekolah dan diberi kebebasan untuk mencari tau banyak hal. Ditambah lagi perjalanan untuk menjelajahi negara-negara tetangga sudah pernah ia lakukan seperti ke Peru, Bolivia, Argentina dan Uruguay. Tetapi menginjak usia muda, masa pendidikan Luis tidak begitu berjalan mulus, setamat sekolah ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah drama di Universitas Moskow.

Sayangnya baru beberapa bulan, ia dicatat sebagai murid yang berkelakuan buruk, pergaulan menjadikannya sebagai seorang yang pembangkang demi bisa menuruti gejolak ambisi menjadi penghasil karya seni terbaik. Lantas apa yang hebat dari Luis? dia punya segudang kelebihan yang tak jarang orang miliki.

Kelebihannya adalah rajin membaca dan menulis, ia berkaca dari kehidupan kakeknya yang seorang anarkis Spanyol, selalu dekat dengan buku dan memiliki perpustakaan kecil. Dorongan itulah yang menjadikannya gemar membaca, termasuk dibantu oleh buku karangan Fransisco Coloana, penulis asal Cile. Kalau kalian pernah baca atau tau buku berjudul Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta itu adalah novel sastra dunia miliknya yang diterbitkan oleh salah satu penerbit buku lokal.

Bagi saya, sisi ketegangan tentang hutan belantara dan jenaka dari para tokoh novel tersebut berhasil ditulisnya dengan apik. Buku ini merepresentasikan dari sisi hidupnya yang gemar pada pengembaraan dan alam bebas yang ekstrem. Selain itu yang hebat dari beliau adalah pembuktian diri bahwa individu bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada negara.

Baca Juga : PSBB? Kebijakan Setengah-setengah Yang Diusung Pemerintah

Namun ada alasan yang melatarbelakangi mengapa ia mempunyai pandangan seperti itu, Luis ternyata seorang aktivis militan garis keras penganut paham komunis dan anti rezim. Di usia muda, ia sangat aktif berpolitik dan tergabung dalam gerakan mahasiswa, membela ketimpangan atas rezim militer yang berkuasa.

Meskipun ganjarannya harus diasingkan, menjadi tahanan rumah hingga mendekam dibalik jeruji besi, namun tak menggentarkan jiwa perlawanannya untuk terus memimpin gerakan revolusi melawan kediktatoran kala itu. Selama hidup di bayang-bayang ancaman, ia terus menulis dan menanjaki karir sebagai jurnalis di Eropa, yang menjadikannya sebagai sebuah mata pencaharian. Karena memang Luis adalah seorang yang suka menulis.

Ia pun pernah melantangkan pikirannya terhadap cara pandang seorang penulis yang kerap menderita dari beragam beban menjadi penulis. “Kalau menderita begitu rupa buat apa menulis, toh tak perlu juga jadi masokis, menulislah karena memang benar-benar suka”. Ia tak segan pula merevisi atau menggarap ulang bukunya demi terkesan lebih baru, bahkan sampai-sampai pernah membuang 50 halaman pada novel buatannya lantaran dianggap mengganggu alur.

Luis Sepulveda terus melakoni jalan hidupnya sebagai aktivis sosial-politik hingga akhirnya ia bermuara menjadi seorang pembela kebebasan dan lingkungan hidup. Seiring berjalannya waktu karya-karya yang telah ia ciptakan meraih beragam penghargaan di banyak negara. Dan dunia menobatkannya sebagai sosok penulis buku puisi dan cerita pendek terbaik asal Cile.

Selama menjalani hidup dalam pelarian, ia mengenal banyak para penulis dari negara lain yang mengemban profesi sama seperti beliau, hidup di bawah tirani rezim, sebagian dari kawannya ada yang dipenjara dan bahkan sudah tewas di tangan pemerintah. Kini giliran Luis pergi meninggalkan kita semua.

Ia harus tutup usia akibat terjangkit virus corona, sejak kepulangannya dari acara festival di Portugal. Duka mendalam bagi dunia sastra maupun kita yang mengenal beliau akan sosok pejuang revolusi dan penulis yang punya karya hebat. Sosok intelektual sayap kiri dan aktivis politik yang dipenjara oleh rezim kini telah tiada, jasa, karya dan pengorbananmu akan selalu dikenang. Selamat jalan sang aktivis sekaligus penulis yang mampu memberikan motivasi untuk untuk para penggemar.

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *