kantin

Mendorong Kemampuan Literasi Siswa Lewat Kantin Baca

Mendengar nama kantin pasti yang ada di pikiran kita adalah banyaknya makanan enak, jajanan-jajanan murah meriah, suasana bising serta tempat untuk melarikan diri (bolos jam pelajaran). Kesan tersebut didapat saat duduk di bangku sekolah.

Tetapi hari ini kita bisa tengok ke beberapa sekolah yang sudah mengkreasikan konsep kantin menjadi hal yang lebih posiitif, menyulap kantin selain sebagai tempat jajan juga sebagai sarana edukasi siswa. Mengingat bahwa siswa di sekolah umumnya tidak hanya didorong untuk pandai menguasai pelajaran, sekarang peran penting yang harus dikembangkan adalah minat literasi.

Dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun terakhir, beberapa sekolah yang sudah mengakali terkait upaya mendorong literasi siswa dengan cara menyediakan kantin baca. Solusi yang ditawarkan ini menurut saya cukup menarik, pasalnya bukan lagi siswa didorong melulu ke perpustakaan untuk membaca buku tetapi lihatlah ke tempat yang sering mereka datangi, yaitu kantin.

Dengan adanya kantin baca, siswa akan dengan sendirinya merasa tertarik membaca buku di sela-sela aktifitasnya berada di kantin sesembari bersantai di jam-jam istirahat ataupun sepulang sekolah, baik sambil makan atau bersendau gurau bersama.

Inisiasi kantin baca bisa kita lihat dari salah satu sekolah di SMP Budi Mulia dengan nama Kantin Lorong Baca, disediakan di sisi lorong tembok dengan beragam jenis buku bacaan yang menarik. Sehingga siswa di sekolah tersebut datang ke kantin yang tidak hanya mengisi perut tetapi juga menambah wawasan.

Berlanjut ke tingkatan sekolah yang lebih tinggi yaitu di  SMKN 4 Lhoksumawe, Aceh. Digagas oleh teman-teman OSIS di sekolah tersebut, merasa bahwa semakin majunya jaman, siswa terlihat malas membaca buku, maka dengan dihadirkannya kantin yang disediakan buku-buku bacaan, kemungkinan besar mereka bisa tertarik dengan hal tersebut. Apalagi bila ada satu teman yang mengajak untuk membaca buku, akan ada sisi rasa penasaran yang ditunjukkan dan ikut terlibat dalam membaca buku.

Kalau tadi ada di taraf tingkat sekolah menengah dan atas, sekolah dasar nyatanya tak kalah saing. SDN 1 Purworejo, Jawa Tengah. Kantin di sekolah ini tak hanya sebagai tempat jajan dan makan para siswa saat bel istirahat berbunyi namun telah disulap menjadi tempat “jajan ilmu”. Gerakan mulia dari kantin baca ini juga ternyata disambut hangat bagi banyak para orang tua murid, disela-sela mereka menunggu anaknya ada kegiatan positif yang didapat yaitu membaca buku di kantin. Dengan begitu, orangtua bisa perlahan mengenalkan kepada anak dengan buku bacaan yang disediakan di kantin baca.

Hebatnya lagi dari sekolah ini, tidak selesai dengan menyediakan kantin baca saja, terdapat juga Pojok Baca yang salah satunya berada di bawah pohon mangga. Pihak sekolah SDN 1 Purworejo mengungkapkan bahwa inovasi ini menjawab tantangan apa yang bisa dikembangkan sekolah, selain daripada wujud implementasi nyata dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang telah dicetuskan oleh Kemendikbud sejak tahun 2015.

Saya cukup sepakat dengan konsep terobosan yang diberikan oleh sekolah dasar tersebut, menggalakan minat literasi dengan menyediakan tempat baca di sekolah. Walau amat berat mensukseskan pendidikan Indonesia itu dari segala lini, tidak dalam waktu yang singkat (mustahil). Tetapi, toh tidak ada salahnya juga bahwa berangkat dari inisiasi, dimulai dari diri sendiri, terus coba hal-hal baru demi literasi di Indonesia terus terawat.

Model konsep menaikkan budaya literasi dengan kantin baca sudah lebih dulu dilakukan di berbagai daerah. Sudah sepatutnya Tangerang melirik beberapa daerah tadi yang berupaya meningkatkan minat baca buku sehingga akan tercapai kemampuan literasi siswa. Entah memang sudah ada di beberapa sekolah, mungkin ada tapi tidak terawat atau memang saya kurang mengetahui tentang keberadaan sekolah di Tangerang. Kalau memang ada pun akan tersorot ke media dan besar harapan hal itu bisa menjadi lilin kecil semangat mendorong kemampuan literasi siswa yang bisa disebarkan ke beberapa sekolah lain di Tangerang.

Baca juga: Gerak-Gerik 3 Kepala Daerah Tangerang Kala Banjir Datang Di Wilayahnya

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *