Literasi Pohon Pustaka: Sebuah Konsep Perpaduan Literasi dan Lingkungan Hidup

Ada banyak cara untuk menebarkan virus literasi, ada banyak konsep gerakan literasi yang bisa diterapkan dengan menyesuaikan kondisi dan keadaan sekitar. Segala hal yang bisa digunakan tentunya bisa jadi sangat berguna agar literasi terus dapat tersebar dan berkembang ke penjuru dunia.

Ketertarikan saya terhadap literasi kali ini tertuju pada sebuah gerakan literasi yang sungguh luar biasa menarik. Dengan sebuah konsep perpustakaan kecil yang diisi  ribuan buku dengan nuansa konservasi alam, gerakan tersebut telah dilakukan oleh salah satu seseorang yang mencintai dunia literasi yaitu, Darwin.

Nama tempat tersebut adalah Pohon Pustaka. Berada di Kalimbua, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan memadukan konsep literasi dan konservasi alam. Betapa mengejutkannya, bahwa benar ternyata literasi bisa hidup dan berdampingan dengan alam seperti yang sudah dilakukan oleh Darwin.

Meski hanya sebatas bangunan, namun ada satu konsep yang berhasil ia cetuskan yaitu, perpustakaan kecil dengan bentuk unik seperti ditopang pohon. Dengan konsep kesatuan tersebut, pohon masih tetap hidup dan tumbuh tinggi, juga disisipi ornamen tanaman hias dan pot-pot cantik hasil kerajinan tangan demi mempercantik serta memperindah suasana, bagi para pengunjung yang datang membaca buku.

Mengenai inspirasi, lahirnya gerakan literasi seperti Pustaka Pohon memang tidak menampik bahwa tercetus berkat adanya dorongan gerakan literasi di berbagai daerah. Melihat kondisi dan keadaan sekitar yang notabenenya tingkat baca anak muda di sana masih rendah, ditambah lagi belum ada ruang baca yang memadai. Akhirnya lahirlah Pohon Pustaka dengan berbagai program.

Di sana juga tersedia buku cukup banyak. Terdapat 1000 buku dengan varian koleksi berbagai tema, dari mulai pendidikan, konservasi, agama, hobi dan lainnya. Terlihat dengan koleksi buku yang cukup banyak, ia pun ternyata piawai dalam melakukan penataan dan pengarsipan. Sehingga nampak, seperti perpustakaan yang sangat layak kunjung.

BACA JUGA : Menyalakan Semangat Literasi Anak Muda Lewat Kampoeng Cenghar

Buku-buku yang telah tersedia itu pun hasil dari bentuk donasi beberapa kawan yang peduli dengan gerakan literasi dan distribusi buku dari Dinas Perpustakaan Nasional. Atas apresiasi kepedulian tersebut, Pohon Pustaka akhirnya berinisiasi untuk menciptakan program penanaman pohon. Jadi, hasil donasi buku akan dikonversikan menjadi bibit pohon yang akan ditanam di kawasan hutan Kalimbua. Dan tahun ini rencananya Pohon Pustaka akan menanam kurang lebih 500 pohon dari hasil konversi donasi buku.

Bagi saya, inisiasi lewat program konversi semacam ini sungguh ide yang sangat cemerlang. Siapapun dapat berdonasi buku dan akhirnya bisa mewarisi kelestarian alam. Ketimbang lewat tangan pemerintah yang mungkin saya atau kalian sudah tau betul akan gagalnya program FCL.

Selain program konversi buku, Pohon Pustaka juga memiliki program lain yaitu menggelar lapak baca buku ke berbagai tempat di sekitaran desa. Dimana Darwin sebagai penggerak datang ke satu tempat dan tempat lainnya menggunakan motor. Dengan tidak melupakan program yang digalakan, Pustaka Pohon tetap menebarkan virus literasi dan tetap merawat alam, menjaga wilayah konservasi hutan.

Selain sebagai perpustakaan, menariknya lagi Pohon Pustaka juga bisa dijadikan sebagai wadah kreatifitas. Seringkali rumah itu dijadikan sebagai tempat mengadakan berbagai kegiatan seperti baca buku, diskusi dan kesenian. Pun karena lokasinya berada di lereng gunung, Pohon Pustaka bisa dijadikan sebagai rumah persinggahan bagi para pendaki. Itu artinya adanya Pohon Pustaka berkonsep holistk bisa memberikan banyak manfaat.

Semoga gerakan literasi semacam ini bisa terus berkembang menjadi pusat informasi, dan kegiatan konservasi di Enrekang. Dan untuk para pegiat literasi di berbagai daerah, terus tetap semangat dengan konsep gerakannya masing-masing.

Seperti Kuda Pustaka, Perahu Pustaka, becak dan banyak lainnya. Kita semua berharap agar gerakan literasi seperti itu bisa terus tumbuh subur dengan segala macam inovasi, dan memupuk konsisten agar bagaimanapun caranya sebuah gerakan literasi tidak hanya sebatas gerakan saja, lebih dari itu dapat hadir juga dengan konsep dan penyajian yang unik. Hingga nantinya bisa sangat berguna bagi masyarakat.

BACA JUGA : Tips Bagi Orang Tua Dampingi Anak Saat KBM Daring

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *