Literasi Dalam Jeruji

Buku yang merupakan jendela dunia dapat menghadirkan dunia baru pada pembacanya. Dengan membaca buku pikiran kita akan terbuka lebih luas, menjelajahi setiap ruang-ruang tanpa harus beranjak.

Maka, tak heran jika orang-orang yang gemar membaca buku seakan-akan dia telah melanglang buana. Bahkan seorang narapidana yang raganya terpenjara jangankan melihat dunia, untuk menengok halaman depan saja susah, namun masih bisa mengikuti perkembangan dunia luar dengan membaca buku.

Jika membahas tentang penjara dan buku, saya jadi teringat ucapan Bung Hatta : “Aku rela dipenjara asal bersama buku, sebab dengan buku aku bebas!” Beliau seakan-akan tidak ingin pikirannya ikut mati saat di penjara. Bung Hatta pun tidak cuma sekedar berucap, ketika beliau diasingkan di Banda Neira dan Boven Digoel, Bung Hatta membawa 16 peti yang berisi buku. Ia habiskan masa pengasingannya dengan membaca buku.

Bukan cuma Bung Hatta, beberapa tokoh lain misalnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP) juga mengisi masa tahanannya dengan membaca. Buku yang ia baca antara lain In Religion’s Name : Abuses Against Religious Minorities In Indonesia, Revolusi Belum Selesai, 9 Elemen Jurnalisme, dan A9ama Saya Adalah Jurnalisme. Selain membaca, Pak BTP juga sering menulis surat.

Berbeda dengan Pak BTP, tokoh lain yaitu Setya Novanto dalam sidak yang dilakukan oleh Najwa Shihab beliau kedapatan sedang membaca buku di dalam selnya (yang palsu). Diketahui, buku yang dibaca oleh Pak Setya Novanto kala itu berjudul 80% Kosakata Al Qur’an. Memang betul, banyak narapidana selain Pak Setya Novanto lebih dominan membaca buku keagamaan untuk memperdalam ilmu agama mereka. Dan sepertinya Pak Setya Novanto ingin mempelajari Al Qur’an lebih dalam, deh. Opppss, hehehehe~

Terlepas dari tokoh-tokoh Indonesia yang menghabiskan masa tahanannya dengan membaca buku, di negara Brazil dan Italia membaca buku dapat menghasilkan remisi atau pengurangan masa tahanan. Diketahui bahwa, membaca 1 buku dapat mengurangi masa tahanan 3 hari. Namun, buku yang dibaca tidak bisa sembarang buku, ada kriterianya. Salah satunya buku yang dibaca harus setebal 400 halaman atau lebih dan telah disetujui oleh staff penjara.

Untuk memastikan bahwa narapidana telah benar-benar membaca buku, pihak lapas akan memberikan tenggat waktu untuk membaca sebuah buku. Setelah buku itu benar-benar selesai dibaca, narapidana akan ditugaskan untuk membuat esai yang berkenaan dengan buku yang ia baca sebelumnya. Selanjutnya essai tersebut akan dinilai untuk menentukan lulus atau tidaknya dalam program ini.

Di Indonesia sendiri telah diusulkan untuk membentuk program serupa. Usulan itu disuarakan pada saat peresmian Pustaka Jeruji di Lapas kelas II A Maros, Sulawesi Selatan. Diketahui bahwa banyak napi di Indonesia yang gemar membaca buku. Hal ini menjadi bukti bahwa budaya literasi kita telah merambat ke dalam ruang penjara.

Dibuktikan dengan telah berdirinya perpustakaan di dalam lapas. Antara lain : Perpustakaan Rutan Kelas 1 Kebonwaru (Bandung), Pustaka Jeruji (Maros), Pustaka Wali Jeruji (Banten), dll. Koleksi bukunya pun beragam. Mulai dari novel, agama, pengetahuan, politik, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dalam pengadaan perpustakaan rutan ini pihak rutan bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah setempat.

Meskipun program ini masih berupa wacana, telah banyak yang mendukung adanya pembentukan program “Literasi Untuk Remisi” ini. Karena program ini selain untuk mengurangi jumlah napi, juga bertujuan untuk melatih para napi agar lebih produktif. Dengan literasi nantinya diharapkan para napi mampu membentuk pola pikir yang lebih maju. Dengan begitu secara tidak langsung pula program tersebut mampu mendongkrak minat baca di negara kita.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *