Lima Penulis Muda Indonesia yang Karyanya Harus Kamu Baca

Indonesia mempunyai banyak penulis yang terkenal bahkan hingga ke mancanegara. Kita punya Pramoedya Ananta Toer yang karyanya sudah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa dengan karya paling terkenalnya, Tetralogi Pulau Buru. Kita juga punya Eka Kurniawan dengan novel Lelaki Harimau-nya masuk dalam nominasi Man Booker Prize 2016, sebuah ajang bergengsi bagi penulis di dunia. Kita juga masih punya penulis lain seperti Putu Wijaya, Seno Gumita, Dee Lestari, Sapardi Djoko Damono dan masih banyak lagi.

Penulis-penulis di atas bisa kita kategorikan sebagai penulis-penulis senior atau setidaknya penulis lama. Eka Kurniawan, penulis termuda dari nama-nama tadi telah matang di usia 40-an tahun. Sementara, di kategori usia yang lebih muda, ada cukup banyak nama yang bermunculan dan memberikan warna bagi dunia sastra di Indonesia.

Bahkan boleh dibilang, kita punya banyak stok penulis muda yang berbakat. Di era modern ini, semakin banyak penerbit buku memunculkan penulis muda. Bukan hanya itu, banyak platform di era modern berhasil memunculkan nama mereka seperti, Wattpad, Storial.co atau platform untuk menulis lainnya.

Kali ini, saya akan merangkum beberapa penulis muda yang karyanya harus kamu baca:

  1. Sabda Armandio Alif

Sabda Armandio Alif atau akrab dipanggil Dio ini mulai dikenal dan diperhitungkan di dunia sastra Indonesia setelah menjadi Pemenang Unggulan di Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 dengan novelnya: 24 Jam Bersama Gaspar. Buku ini kemudian dicetak oleh penerbit Buku Mojok dan terhitung sebagai buku laris mereka. Tak hanya itu, novel ini juga menjadi buku fiksi terfavorit Anugrah Pembaca Indonesia 2017.

Sebelumnya, penulis kelahiran Tangerang 18 Mei 1991 ini telah menulis novel KAMU: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya, Dekat dan Nyaring dan Kisah-kisah Suri Teladan. Selain menulis, Dio juga menerjemahkan cerita pendek dan menulis lagu di grup musik Agraria.

  1. Dea Anugrah

Dea Anugrah menjadi penulis muda yang cukup kreatif. Ia menulis puisi, cerita pendek, hingga esai dengan kualitas sama baiknya. Bahkan Puthut EA pernah berkata jika Dea menulis jelek saja, tulisannya sudah bagus. Lahir di Pangkal Pinang, 27 Juni 1991, Ia belajar dan mendapatkan pengalaman di dunia kepenulisan saat kuliah di Jogja.

Di usia yang cukup muda, ada banyak buku yang telah ia tulis seperti; Penyair (itu) Bodoh (2009), Misa Arwah (2015), Bakat Menggonggong (2016), Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya (2019) dan terakhir adalah Kertas Basah (2020).

Kumpulan cerita pendek Bakat Menggonggong menjadi salah satu buku terbaiknya. Buku ini berhasil masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa nominasi fiksi 2017. Sekarang, Dea sedang mencoba karir jurnalisnya bersama asumsi.co setelah sebelumnya ia sering menulis laporan jurnalistiknya di tirto.id.

  1. Bernard Batubara

Bernard Batubara, akrab disapa Benzbara, menjadi penulis muda yang cukup aktif menulis cerita pendek dan novel. Banyak cerpennya dimuat di media cetak, begitu juga nobel-novelnya. Novelnya yang berjudul Radio Galau FM (2011) diadaptasi ke film layar lebar dengan judul yang sama.

Benzbara memulai karir kepenulisannya pada tahun 2007. Kini, ia telah menerbitkan puluhan buku seperti, Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Metafora Padma (2016), Luka dalam Bara (2016), Milana: Perempuan yang Menunggu Senja (2013), Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014) dan masih banyak lagi. Selain menjadi penulis ia pernah penah dipercaya menjadi pembicara di Makassar International Writer Festival (MIWF) 2013 dan Asean Literary Festival (ALF) 2015.

  1. Faisal Oddang

Faisal Oddang menjadi penulis termuda di antara lima penulis yang dibahas kali ini. Pria kelahiran 1994 ini sudah menerbitkan banyak buku baik itu puisi maupun prosa. Namanya mulai diperhitungkan setelah karyanya terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2014.

Saat itu, ia menyisihkan banyak penulis ulung Indonesia seperti, Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Budi Dharma, Seno Gumira Adjidarma, dan lain sebagainya. Di tahun yang sama, ia juga meraih penghargaan sebagai ASEAN Writers Award 2014 dari pemerintah Thailand. Sungguh pencapaian yang luar biasa untuk penulis muda.

Faisal Oddang terhitung produktif karena telah menerbitkan banyak buku seperti Puya ke Puya, Rain and Tears (2014), Pertanyaan Kepada Kenangan (2016), Manurung (2017), Tiba Sebelum Berangkat (Novel, 2018), Sawerigading Datang dari Laut (Kumpulan Cerpen, 2019), Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Lowa (Novel, 2019), dan Selfiesh (Prosa, 2019).

Baca Juga: Gadis Pantai: Roman Yang Tak Selesai

  1. Felix K. Nesi

Felix K. Nesi menjadi salah satu penulis muda asal NTT yang cukup produltif. Ia telah melahirkan banyak karya berupa puisi, cerita pendek hingga novel. Banayk karyanya telah dipublikasikan di media cetak seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, dan media-media Online.

Buku-bukunya yang cukup terkenal seperti: Usaha Membunuh Sepi (2016 dan Orang-Orang Oetimu (2018) yang menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *