Larasati: Kisah Heroik Perempuan Cantik Di Tengah Revolusi

“Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.”

Kisah heroik revolusi tidak melulu soal perjuangan militer. Ada banyak orang terlibat dengan latar yang berbeda dan mereka patut disandang sebagai pejuang revolusi. Di masa pascaproklamasi, Indonesia kita ketahui belum sepenuhnya merdeka. Setelah Jepang menyatakan mundur, Belanda berhasil menduduki Indonesia kembali khususnya di Batavia. Di masa inilah Pramoedya Ananta Toer mencoba menceritakan pada novelnya berjudul Larasati. Tetap menarik seperti buku-buku yang telah ia terbitkan, dan tetap dikemas dalam sudut pandang berbeda.

Pada masa itu, Ibukota Indonesia berada di Yogyakarta, sementara Batavia (yang sekarang Jakarta) sedang dikuasai Belanda. Novel ini mengambil sudut pandang revolusi dari seorang aktris panggung sekaligus bintang film nan cantik bernama Larasati atau Ara, panggilan akrabnya. Ia melakukan perjalanan dari Yogya ke Jakarta untuk melanjutkan karir sebagai bintang film sekaligus menemui ibunya yang setelah sekian lama tak jumpa.

Walaupun kisahnya tak seheroik perjuangan militer dalam buku sejarah, novel ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ada muatan sejarah yang menarik di dalamnya. Mengingat, kala itu Pram sempat melewati pengalaman pribadi di masa revolusi. Makanya, bagi saya ia mungkin coba memberi sentuhan menarik dalam Kisah Larasati, tentang menggambarkan bagaimana revolusi terjadi. Ada pejuang yang tulus berjuang memerdekakan bangsa, ada yang membelot, ada pula yang memanfaatkan situasi untuk korup.

Di tengah perjalanan ini, Larasati sebagai aktris yang dipandang masa itu, memantapkan diri untuk berada di pihak revolusioner. Padahal ia punya kesempatan untuk membelot. Ada temannya bernama Mardjohan sebagai pembelot mengajak larasati berkhianat. Namun, atas berbagai peristiwa yang ia alami, meneguhkan hatinya untuk lebih memilih membela bangsa.

Beberapa peristiwa yang membuat Larasati semakin cinta terhadap bangsa adalah ketika ia dibawa ke penjara oleh kolonel Surjo Sentono. Ia melihat bagaimana rakyat berada dalam penderitaan, disiksa oleh orang-orang pribumi, padahal mereka sama-sama hidup di tanah air sendiri.

Dalam peristiwa lain, Larasati menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan pemuda gugur ketika bergerilya di Batavia dalam melakukan pemberontakan. Di sinilah, menurut saya, Pram menceritakan amat sangat realistis. Larasati yang digambarkan sebagai perempuan seutuhnya, menangis dan takut dengan kejadian yang dialaminya. Atas peristiwa ini pula Larasati semakin disadarkan bahwa rakyat Indonesia harus berani melawan.

“Kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” Sebagai bintang film yang cantik, Larasati banyak disukai oleh para pria saat itu. Pengalamannya bertemu dengan orang-orang penting membuat ia tahu bahwa tidak semua pejuang revolusi berjuang untuk bangsanya. Seperti pada angkatan tua, yang telah lebih dulu mengalami getir pahitnya terjajah, masih saja mencari celah demi bisa meraup keuntungan sendiri. Ya, mereka-merekalah pahlawan yang kurang pantas dikenang, terjun ke dalam lumpur kotor politik uang tanpa pikir dua kali, yang padahal kala itu situasi revolusi sedang memanas.

Baca Juga: Gadis Pantai: Roman Yang Tak Selesai

Kecantikan Larasati membuat seorang Arab yang bersekutu dengan Belanda menjadikannya gundik, sebagai pemuas nafsunya. Orang Arab tersebut menyukai Larasati dan ingin membawanya ketika bangsa Indonesia mulai meraih revolusi. Tentu Larasati tidak sudi. Selain ia adalah musuh bangsa, ia sudah merenggut kebebasan Larasati.

Novel ini ditutup dengan kemenangan pemuda mempertahankan kemerdekaan dengan mengusir Belanda. Pram tidak menjelaskan dengan rinci bagaimana revolusi bisa diraih. Pram tetap fokus pada sudut pandang seorang Larasati yang begitu gembira dengan kemenangan ini.

Dengan novel setebal 178 halaman ini, Pram sudah bisa menceritakan berbagai realitas sosial di masa revolusi. Pram, seperti biasa, berhasil memunculkan tokoh dengan karakter yang kuat seperti Larasati.

Karakternya mungkin tidak sekuat Nyai Ontosoroh, seperti pada buku Bumi Manusia. Tetapi Larasati sudah cukup menggambarkan sebagai sosok wanita seutunya di saat itu. Bahwa perjuangan tidak melulu soal militer. Banyak pejuang yang berjuang dengan caranya sendiri, dengan apa yang mereka bisa lakukan. Seperti para orang tua yang berada di kampung halaman Larasati, mereka memang tidak ikut berperang, tetapi sebagai orang-orang tua, mereka mendukung angkatan muda dengan terus menyediakan pangan bahkan tempat persembunyian.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *