Laki-Laki Yang Tak Berhenti Menangis

Laki-Laki Yang Tak Berhenti Menangis: Membaca Kesejukan Kisah-Kisah Cak Rusdi

Belum selesai kekaguman saya pada buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya—kekaguman saya pada Cak Rusdi makin menggunung setelah membaca Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis. Sebagai wartawan, ia gemilang. Sebagai penutur cerita, ia tak ubahnya pendongeng seribu satu malam. Setidaknya, kesimpulan sederhana itu yang berhasil saya dapat pada buku ini.

Mungkin kurang tepat bila saya menyebut bahwa cerita-cerita dalam buku ini mengandung kisah-kisah keagamaan. Apa yang dituturkan Cak Rusdi sebenarnya lebih dari itu. Kumpulan ceritanya seperti seekor ikan Paus Biru, berenang tenang, menyusuri lautan spiritual terdalam.

Dalam bukunya tersebut, ia menceritakan beberapa kisah di zaman nabi dan mengaitkan dengan sekelumit kasak-kusuk manusia zaman sekarang. Alhasil mampu membuat saya sebagai pembaca menghela nafas dan berandai untuk menjadi jagung, bila punya kesempatan hidup dua kali. Karena seonggok jagung setidaknya lebih bermanfaat ketimbang manusia yang hidup hanya untuk merusak.

Pemikiran tersebut tertanam saat saya membaca bab tentang Gereja. Dalam bab tersebut, menggambarkan bagaimana manusia, khususnya kita masyarakat Indonesia, masih terjebak sentiman klasik antara mayoritas dan minoritas, serta fanatisme yang tak berujung. Problematika klasik manusia, yang hidup bermasyarakat, yang nyatanya itu-itu saja, namun seakan tak tertanggungkan.

Membayangkan kehidupan masyarakat, atau bahkan dunia yang tentram itu hanyalah mimpi siang bolong. Karena pada dasarnya, masalah manusia itu tak akan hilang, ia hanya meredam, dan kelak bakal meledak kembali di suatu waktu yang tak bisa diprediksikan.

Baca Juga : Benarkah Image Perempuan Berpendidikan Disegani Para Lelaki?

Latar belakang Cak Rusdi sebagai santri mungkin membuatnya bisa menggambarkan secara dekat tentang problematika tersebut. Ia menuturkan kisah yang bukan seperti khotbah Jumat yang menggebu-gebu. Apa yang ia tuturkan seperti seorang Ayah yang bercerita dengan nada pelan, sembari mengelus rambut si Anak, yang—astaga—sungguh menyejukkan.

Selain itu, Cak Rusdi juga tak melepaskan jiwa wartawannya saat berkisah. Dimana, tiap kisah yang ia tuturkan bisa sampai ke pembaca dengan cara yang tak bertele-tele. Efektifitas penturannya, walau tiap kisah hanya berkisar antara 2 sampai 3 lembar, namun tak membuat pesan yang ingin disampaikan meleset.

Kisah lain yang menurut saya juga menarik di buku Laki-Laki Yang Tak Berhenti Menangis, yaitu tentang Adab. Rasanya manusia lupa bahwa mereka menempatkan ilmu, harta, tahta, di tingkatan lebih tinggi dibanding adab. Bagaimana bisa, kita sebagai manusia memimpikan peradaban yang damai tetapi mengesampingkan adab yang justru lebih penting ketimbang apapun itu.

Penuturan kisahnya membuat saya sadar bahwa; tak guna orang yang berilmu namun tak beradab; tak guna orang yang berharta namun tak beradab dan tak guna orang yang bertahta namun tak beradab. Bahwa sesungguhnya adab-lah yang bisa menyelamatkan kita dalam berhubungan ke sesama manusia. Adab-lah, yang menyelamatkan kita sebagai manusia agar tidak menjadi pemakan sesama.

Saya mungkin bukan seorang yang agamis dan betah berlama-lama membaca kisah-kisah nabi. Namun, penuturan kisah dari Cak Rusdi dalam buku ini membuat saya, mengambil keputusan untuk duduk diam, memahami dari sisi lain dan membaca buku itu sampai tuntas.

Seakan, membaca buku Laki-Laki Yang Tak Berhenti Menangis bagi saya bisa jadi obat yang teramat sejuk, di kala penyakit hati dan pikiran melanda. Saya ingin membaca kisah-kisahnya lagi dengan semakin sering, semuanya. Terimakasih Cak, kedamaian menyertaimu disana.

Baca Juga : Deretan Musisi Yang Punya Keterkaitan Erat Dengan Literasi

Penulis : Rusdi Mathari

Penerbit : Buku Mojok

Tahun Terbit : 2019

Jumlah Halaman : 115

Dimensi : 13 x 19 cm

ISBN : 978-602-1318-80-5

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *