Kutipan yang Dirasa Relevan, Masa Iya?

Seringkali, ketika kita sedang membaca buku, tertegun dengan satu kutipan atau kalimat kutipan yang ada di buku. Lantas kita diam, merenung, dan berkata dalam hati “wah iya juga..”

Itu terjadi karena kita merasa kutipan yang ditulis dalam halaman itu ada kaitannya dengan apa yang sedang terjadi. Mungkin ada yang beranggapan hal tersebut sebuah kebetulan saja. Lantas menganggapnya tidak penting dan melanjutkan bacaan di halaman selanjutnya dengan biasa saja.

Namun ada juga golongan orang yang anggap ini adalah sebuah pertanda takdir. Mencatatnya ulang kutipan di buku catatan lain, memberikan garis bawah di beberapa kalimat, atau bahkan mewarnainya dengan pranala, atau tindakan sejenisnya.

Sejujurnya, saya sendiri rasanya sulit mengingat kalimat dalam buku yang memberikan kesan khusus. Memang betul, pasti ada beberapa kalimat membuat saya jadi merasa ditampar dalam buku-buku yang pernah dibaca. Tapi saya hanya anggap itu tidak begitu penting.

Namun, ada sebuah kutipan dari Eka Kurniawan dari bukunya yang berjudul “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Yang dijadikan film, lantas memenangkan penghargaan dari Golden Leopard. Ada salah satu kalimat dalam buku itu bertuliskan:

“Mengetahui lebih banyak, hanya akan memberimu masalah lebih banyak”

BACA JUGA: REVIEW BUKUJIKA KUCING LENYAP DARI DUNIA : ESENSI MENIKMATIKEHIDUPAN ITU PENTING

Kutipan ini juga banyak jadi kesukaan pembacanya, terlihat dari banyaknya yang mengutip kalimat tersebut. Otomatis dapat pula diakui bahwa banyak pihak yang mengamininya. Saya pun termasuk di dalamnya.

Setelah saya telisik, ini karena ketika saya memiliki pertanyaan yang saya timbun sendiri namun akhirnya malah terjawab oleh hal-hal lain yang tidak saya sangka. Namun saya tidak menyesalinya, karena setidaknya saya menjadi lebih lega karena saya sudah tidak lagi harus mempertanyakan hal tersebut.

Kutipan-kutipan yang berbekas untuk para pembacanya ini pastinya terjadi karena adanya pengalaman pribadi yang dirasa masih adanya kaitan dengan pengalaman dari pembacanya. Dan ini hal yang tidak bisa dinilai salah atau benar.

Bahkan ada yang menjadikan kutipan ini sebagai hal yang menjadi tuntunan dalam beberapa persoalan dalam hidupnya. Merasa ini adalah jawaban dari Tuhan yang diturunkan lewat buku yang iseng dibacanya. Sekali lagi, ini adalah hal yang tidak bisa dinilai benar atau salah.

Namun kalau kalian tidak bijak dalam menyikapinya, ini akan jadi senjata yang balik menyerang kalian. Sudah ada banyak kasusnya, orang-orang malah mendapatkan kerumitan baru karena buku yang ditanggapinya dengan salah.

Jangan sampai kalian menjadi salah satu orang yang seperti ini. Objektivitas sangat diperlukan ketika sedang membaca, walaupun sedikit. Ini bisa jadi filter yang dapat membantu kalian dalam menilai setiap kalimat yang ada. Agar tidak terjebak.

Tapi hal-hal ini jangan dijadikan alasan untuk tidak membaca buku atau bahkan membenci buku. Karena bacaan ini bisa jadi media informasi yang kalian dapat baik dengan sengaja atau tidak.

Sebagai contoh, ada sebuah kutipan dari Eka Kurniawan juga yang sempat ramai di twitter karena ada yang menganggapnya ini adalah kalimat ofensif dan merendahkan perempuan.

Itu lucu sih, hanya dengan membaca beberapa kalimat, lantas langsung mengambil kesimpulan subjektif soal pribadi penulisnya itu sendiri. Ibaratnya seperti warganet yang memberikan komentar membabi buta setelah menonton video yang hanya beberapa potong.

Sebagai warga berbudaya yang melek teknologi yang melek literasi, jangan kayak gitu lah. Situ orang apa ikan gampang kepancing?

BACA JUGA: ‘PANTAI SAMPAH’, JULUKAN PENUH HARAPAN

Komentar
Puspita Anggraini

constantly posting about cats on her socmeds.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *