Kusala Sastra Khatulistiwa: Lampu Terang Untuk Kesusastraan Indonesia

Saya pikir manusia selalu haus akan pengakuan, entah itu sebagai sebuah jembatan eksistensi atau sebagai suplemen untuk tetap bergairah menjalani sesuatu. Kadangkala, hidup memang perlu sebuah ruang pengakuan, penghargaan atas sesuatu yang telah dicapai dan diperbuat, memang sekiranya layak. Ruang tersebut seharusnya ada, guna menjaga gairah.

Dalam dunia kesusastraan, adanya ruang penghargaan tersebut sangatlah penting. Sastrawan memang perlu dirawat gairahnya melalui ruang tersebut. Karena sastra adalah hal yang estetik dan punya pengaruh nilai yang begitu berarti di dalam kehidupan.

Karya-karya sastrawan juga ibarat sebuah kepingan yang satu sama lain saling berkesinambungan dan membentuk sebuah nilai keindahan.

Di luar negeri, keberadaan para sastrawan sangat diperhatikan. Banyak sekali ruang-ruang penghargaan atas karya para sastrawan. Misal; The Hans Christian Andersen Awards; Booker McConnel Prize; Newdigate Prize; Akutagawa Prize; The S.E.A Writer Award dan masih banyak lagi. Atau bahkan ajang penghargaan terbesar yang sudah diakui dan diketahui banyak orang, yaitu Nobel Prize, dimana pemenangnya adalah tokoh-tokoh hebat yang sangat berpengaruh dalam dunia keilmuan dan kesusastraan.

Di indonesia, ruang penghargaan semacam itu sangatlah minim, tapi masih ada. Setidaknya ada pengharapan sedikit demi kemajuan dunia kesusastraan Indonesia. Masih ada sedikit perhatian yang diterima para penulis Indonesia. Guna memacu para penulis untuk terus melahirkan karya-karya yang membuka tabir bahkan menerangi kehidupan kesusastraan.

Kusala Sastra Khatulistiwa yang sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award merupakan salah satu dari ruang penghargaan di dunia kesusastraan yang ada di Indonesia. Ruang pengapresiasian atas karya-karya para sastrawan Indonesia ini didirikan oleh Richard Oh yang juga merupakan seorang sastrawan.

“Awalnya 18 tahun yang lalu, ada teman saya di Plaza Senayan. Kami itu suka gaul dengan penulis-penulis seperti Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Nirwan Arsuka, Hamsad Rangkuti, Leon Agusta, dan lain-lain. Waktu itu kami banyak mengobrolkan kondisi banyak penulis Indonesia. Hal itu membuat saya berpikir kalau bagus juga ada hadiah sastra setiap tahun bagi para penulis. Jadi, kita bisa membantu dan mendukung penulis juga setiap tahunnya meskipun hadiahnya juga enggak banyak.” pungkas Richard Oh saat ditanya soal latar belakang mengadakan ajang Kusala Sastra Khatulistiwa. (Dikutip dari laman jurnalruang.com)

Kusala Sastra Khatulistiwa atau disingkat dengan nama KSK pertama kali diselenggarakan pada tahun 2001, disaat itu yang namanya masih Khatulistiwa Literary Award. Periode 2001 sampai dengan 2002 hanya sebatas mengeluarkan satu pemenang. Goenawan Mohamad melalui karya yang berjudul Sajak Sajak Lengkap mengantarnya menjadi pemenang pertama kali dalam ajang tersebut. Kemudian disusul oleh Kerudung Merah Kirmizi karya Remy Sylado yang mengantarnya menjadi pemenang di tahun berikutnya.

Di perhelatannya yang ke-18, Kusala Sastra Khatulistiwa mengalami banyak perkembangan. Dimana sebelumnya pemenang hanya ada satu orang, kini pemenang dibagi menjadi 3 kategori; Prosa, Puisi, dan keduanya.

Semenjak 4 tahun kebelakang atau lebih tepatnya di perhelatannya yang ke-14 hingga sekarang banyak penulis muda yang muncul ke permukaan ketika karyanya masuk nominasi sebagai karya terbaik. Diantaranya ialah Dea Anugrah, Eka kurniawan, Faisal Oddang dan masih banyak lagi. Ini merupakan angin segar bagi kesusastraan Indonesia. Mereka merupakan penulis-penulis muda harapan Indonesia yang bisa memberikan sebuah kesegaran melalui karya-karyanya.

Richard Oh selaku pendiri Kusala Sastra Khatulistiwa menaruh harapan besar pada ajang tersebut.

“KSK sebagai salah satu perlombaan tidak mengukuhkan bahwa pemenangnya adalah penulis terhebat. Tapi dalam rentang waktu yang ada, diberikan dari sekian karya yang tersaring, dia itu muncul sebagai pemenang, stand out. Gitu aja. Sisanya seperti saya katakan, KSK itu adalah perayaan bagi penulis. Perayaan itu yang lebih penting. Kita setiap tahun memiliki perayaan sastra dengan bintang-bintangnya. Muka-muka yang terpilih juga dianggap wow, membuat orang lain jadi lebih ingin menulis, mengejar sesuatu, itu yang memicu. Sisanya ya produktivitas masing-masing. Bukan menangnya.” ujar Richard Oh. (dikutip dari jurnalruang.com)

Kesimpulan singkat akan adanya Kusala Sastra Khatulistiwa ini lebih kepada sebuah perayaan bagi para penulis, dari beragam latarbelakang para penulis yang sudah kenamaan atau para penulis yang baru mulai merangkak naik popularitasnya. Tak sebatas itu semua, di ajang penghargaan tersebut semua para sastrawan melebur menjadi satu. Sedikitnya yang mereka lakukan adalah dapat saling bertukar pikiran dan gagasan tentang dunia kesusastraan di Indonesia agar bagaimana sastra di Indonesia ini bisa semakin lebih baik lagi dari sebelumnya.

Harapan besar agar dunia sastra di Indonesia maju, tentu bukan semata berkat tangan para sastrawan yang namanya sudah melejit atau yang sedang naik daun. Namun, adanya doa dan dukungan dari para pembaca juga merupakan faktor penting yang senantiasa terus wajib mengawal dengan baik serta terus melihat kondisi kesusastraan di Indonesia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *