Kreatifitas Dan Solidaritas Membangun Gerakan Literasi Versi Nirwan Arsuka

Nirwan Ahmad Arsuka, bukan hanya sebagai pendiri dari Pustaka Bergerak, ia juga adalah inspirator banyak pegiat literasi. Semangatnya berliterasi dan menyebarkan bahan bacaan untuk masyarakat, menular, kepada kami (Komunitas Baca Tangerang) dan mungkin para pegiat literasi lainnya di berbagai daerah.

Mungkin hanya dia yang tak percaya tentang data buruk minat baca masyarakat Indonesia. Mungkin juga hanya dia yang berani untuk membuktikannya, dengan bergerak, menyebarkan bahan bacaan, dan menyaksikan secara langsung betapa semangatnya anak-anak Indonesia dalam membaca.

Gerakan yang ia inisiasikan, kini menjadi sebuah simpul. Setiap daerah, dan kebanyakan anak muda kini mulai peduli dengan kegiatan berliterasi. Tentu pasang surut sebuah gerakan adalah hal yang wajar.

Apalagi, disaat masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Tantangan menjadi semakin berat. Namun, selama semangat masih bisa ditularkan dan dipupuk, maka gerakan tak akan pernah mati.

Kali ini kami berkesempatan untuk berbincang bersama Nirwan Ahmad Arsuka. Membahas segala tantangan dan mencari jawaban tentang dunia literasi dalam menghadapi ‘New Normal’.

Dengan kondisi pandemi seperti sekarang (pandemi Covid-19), bagaimana upaya paling mungkin untuk menjaga semangat berliterasi masyarakat?

“Dengan tetap bergerak. Bergeraknya tentu disesuaikan dengan keadaan. Protokol kesehatan seperti jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan jelas harus dipatuhi. Tapi gerakan tetap bisa dilaksanakan, dengan berbagai cara yang kreatif. Yang pasti, sumbangan terpenting yang bisa diberikan oleh para penggerak literasi adalah membangun dan memperkuat solidaritas. Solidaritas ini adalah juga bentuk imunitas sosial yang efektif (harus dibedakan dengan herd immunity), yang memperkuat semangat hidup dan kepedulian di antara sesama.”

Baca Juga : 5 Rekomendasi Buku Untuk Menemani Aktivitas Di Rumah Aja

Menurut Bang Nirwan, bagaimana kondisi para pegiat literasi (baik di kota maupun desa) di masa pandemi? Apakah tantangan terbesar yang dihadapi mereka di masa pandemi?

“Kabar yang sampai ke saya, dan yang bisa saya pantau di medsos: kehadiran pandemi ini memaksa sekaligus menantang para relawan untuk menjadi lebih kreatif. Relawan banyak mengeksplorasi hal-hal lain di luar buku untuk membangun solidaritas. Kawan-kawan penggerak yang berbasis pertanian, menggunakan kelebihan hasil pertaniannya untuk membantu sesama warga yang terdampak, dan mengajak warga lain untuk membagun kepedulian pada sesama yang rentan. Bantuan alat untuk memutus rantai penyebaran wabah Covid-19 seperti thermoscan, masker, sarung tangan karet, dll itu rupanya sangat berpengaruh untuk memperbesar semangat bergerak membangun solidaritas.”

“Memang ada juga sejumlah pegiat literasi yang untuk sementara menghentikan dulu sejumlah
kegiatannya yang sifatnya outdoor. Tapi mereka menjadi lebih aktif secara indoor. Sebagian kawan jadi lebih asyik bikin komik, misalnya, atau membenahi buku-buku dan raknya. Tapi intinya: relawan tetap bergerak sesuai dengan keadaan. Jika kawan-kawan ini ditopang dengan bantuan untuk membangun solidaritas sosial, gerakan mereka akan jadi semakin menarik.”

Upaya apa yang paling mungkin dilakukan para pegiat literasi agar tetap bergerak dan hidup untuk saat ini?

“Menggali dan mengembangkan kekuatan masing-masing, sambil memperluas kerjasama dengan berbagai pihak.”

Dalam menghadapi New Normal, apakah akan ada transformasi gerakan oleh para pegiat literasi?

“Transformasi sebenarnya sudah mulai terjadi ya. Yang paling nampak adalah semakin seringnya interaksi online seperti webinar atau rapat dunia maya di kalangan penggerak literasi. Rapat online ini rupanya membuat kawan-kawan menjadi makin lebih dekat, tapi sekaligus jadi kian sadar betapa luas Indonesia yang terentang di tiga zona waktu itu. Tiap kali kawan-kawan Pustaka Bergerak, misalnya, ingin rapat online, yang pertama-tama dipikirkan adalah waktunya, agar kawan-kawan di Indonesia Timur juga bisa terlibat dengan nyaman. Kita tahu kawan -kawan di Papua itu berbeda waktu dua jam dengan kawan-kawan di Jakarta dan Aceh misalnya, dan juga infrastruktur mereka belum sebagus di Jawa, misalnya.”

“Perubahan kesadaran tentang Indonesia ini hanya salah satu dari berbagai transformasi yang mulai terjadi. Perubahan yang lain adalah meningkatnya rasa percaya diri kawan-kawan karena mereka mengalami bahwa keunggulan dan kekhasan yang mereka miliki ternyata bisa bermanfaat luas. Kawan-kawan petani tadi misalnya mengalami sendiri betapa kelebihan hasil kebun mereka bisa memperbaiki kehidupan kalangan yang rentan yang ada di tempat lain. Tegasnya: kawan-kawan relawan di desa jadi makin yakin bahwa desa-desa mereka bisa menolong kota-kota besar. Kota ternyata memang tergantung pada desa, dan karena itu perubahan yang diharapkan sesungguhnya bisa juga didorong dari desa-desa, dan tak harus bertumpu pada kota”

“Transformasi yang lain adalah menguatnya kesadaran akan pentingnya penguasaan teknologi. Ada sejumlah transformasi yang berjalan, yang tentu menarik untuk dikaji lebih jauh.”

Apakah ada pesan untuk semua pegiat literasi di Indonesia dalam menghadapi ‘New Normal’?

“Jika ada pesan yang ingin saya sampaikan maka itu adalah: Mari hidupkan dua senjata utama kita, yang paling ampuh dalam segala keadaan, yakni: kreatifitas dan solidaritas. Buku-buku dan
berbagai informasi yang makin gampang diperoleh itu adalah pupuk bagi kreatifitas kita. Sementara gerakan kita mendatangi warga, membangun silaturahmi baik secara daring (online) maupun luring (offline) adalah gerakan untuk membangun solidaritas. Jika kreatifitas dan solidaritas ini bisa kita gabung dan terus kembangkan, maka cita-cita gerakan literasi akan cepat terwujud, cita-cita yang juga menjadi amanat konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Baca Juga : Kita Tidak Pernah Sadar Bahwa Hidup Ini Berengsek

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *