Kota Tangerang Minim Bacaan Buku Braille

Nirwan Arsuka, salah satu pegiat literasi, mengucapkan bahwa masalah terbesar dalam literasi di Indonesia bukan hanya soal minat baca yang rendah. Namun ada beberapa faktor lain di antaranya keterbatasan masyarakat untuk mendapatkan akses bacaan. Perpustakaan, sebagai salah satu tempat untuk mengakses bacaan, nyatanya  belum memberikan dampak yang signifikan untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Perpustakaan yang tersedia di setiap daerah justru terasa ‘berbenteng’. Birokrasi peminjaman yang sulit dan genre buku bacaan yang belum lentur menjadi beberapa dari sekian banyak hambatan yang dirasakan masyarakat dalam mengakses buku bacaan.

Perpustakaan sekolah pun belum memberikan dampak yang signifikan. Sepengalaman saya, tak ada waktu di jam sekolah untuk bisa mengunjungi perpustakaan. Jam istirahat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk mengunjungi perpustakaan nyatanya terlalu singkat. Sering kali jam istirahat sekolah hanya habis untuk mengisi perut di kantin. Di jam pulang sekolah pun perpustakaan ternyata sudah tutup. Dalam hal ini pihak sekolah terlihat belum serius untuk mendorong minat baca siswanya.

Pada artikel minggu sebelumnya, saya membahas tentang betapa mengerikannya fakta tentang ketersediaan buku braille untuk penyandang tunanetra. Rasa penasaran saya berlanjut untuk mencari tahu lebih dalam lagi tentang buku braille. Kali ini saya penasaran dengan ketersediaan buku Braille di perpustakan daerah, tepatnya di perpustakan Kota Tangerang.

Baca Juga: Sudah Adilkah Semua Kalangan Mendapat Hak Untuk Membaca?

Seminggu yang lalu saya mengunjungi perpustakaan Kota Tangerang. Mengawali langkah dengan harapan bahwa bisa menemukan fakta baik di perpustakaan Kota Tangerang, ternyata nihil. Saat masuk, saya dihadapkan dengan penjaga perpustakaan yang ternyata anak sekolah yang sedang magang. Berkeliling sebentar, namun saya tak menemukan rak buku braille.

Lalu saya bertanya soal ketersediaan buku braille di perpustakaan ini kepada siswi yang sedang magang tersebut. Ternyata anak magang tersebut tampak kebingungan, justru saya di arahkan untuk mencari data buku di komputer yang tersedia di sana. Sialnya, pustakawan yang harusnya bertugas di sana sedang ada acara di luar dan saya tidak mendapat kepastian soal ketersediaan buku braille di sana .

Saya pikir, anak magang tersebut bingung tentang apa itu buku braille. Saya coba jelaskan lebih spesifik tentang buku tersebut. Mereka yang masih kebingungan memutuskan untuk bertanya kepada satpam yang sedang berjaga. Jawabannya pun membuat saya kecewa bahwa ternyata di perpustakaan daerah di Kota Tangerang tidak menyediakan buku braille.

Saya pikir, pemerintah yang katanya peduli tentang hak membaca masyarakat ternyata dalam pelaksanaannya masih belum. Perpustakaan kota masih belum memberikan hak membaca kepada seluruh kalangan  masyarakat, termasuk penyandang  tunanetra.

Kalaupun alasan pemerintah adalah tentang minimnya pengunjung tunanetra, saya pikir itu tak boleh menjadi alasan hingga akhirnya tidak menyediakan buku braille atau akses ilmu pengetahuan lainnya. Kalaupun buku braille dianggap mahal, sudah ada alternatif lain seperti audio book yang bisa disediakan—itupun kalau pemerintah memang masih peduli.

Padahal hukum di Indonesia sendiri sudah mengatur tentang pemberikan akses membaca, menggunakan huruf braille, audio book, dan lainnya untuk penyandang disabilitas. Aturan tersebut tercantum di PP 27 Tahun 2019 tentang Fasilitasi Akses Terhadap Ciptaan Bagi Penyandang Disabilitas dalam Membaca dan Menggunakan Huruf Braille, Buku Audio, dan Sarana Lainnya. Pemerintah pun harusnya bisa memberikan anggaran untuk memberikan akses membaca bagi penyandang tuna netra melalui APBD atau APBN.

Aksesibilitas bacaan harus bisa dijangkau semua kalangan, tanpa terkecuali. Ilmu pengetahuan tak boleh berjarak dengan manusia. Hambatan yang ada musti dipangkas, dan, pemerintah yang harusnya turun tangan karena punya kuasa lebih dan tanggung jawab atas hal ini.

Atau, seditaknya pemerintah bisa mendorong beberapa penerbit di Tangerang untuk memproduksi buku dalam bentuk braille. Upaya-upaya seperti ini memang harus dilakukan. Tujuannya jelas, supaya ilmu pengetahuan bisa dirasakan semua masyarakat, tanpa terkecuali.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *