Komunitas Hujan Buku Magetan Tebar Semangat Menularkan Virus Literasi

Dalam mewujudkan pengaruh berliterasi tentunya baca tulis jadi hal dasar untuk dilakukan. Karena melalui baca dan tulis, setidaknya budaya literasi dapat mudah dilestarikan. Lewat beragam buku yang dibaca dan tulisan yang setiap kalinya diterbitkan di media online atau cetak. Menunjukkan bahwa budaya berliterasi, baca dan tulis terus ada. Meski sejauh ini data survei terhadap budaya berliterasi di masyarkat Indonesia masih jauh dari kata sukses.

Namun setidaknya semangat masih terus terpancar di beberapa gerakan ataupun komunitas literasi yang membuka ruang gerak masyarakat guna dapat dengan mudah mengakses buku bacaan serta terkait seputar literasi. Seperti salah satunya ialah Komunitas Hujan Buku yang berada di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Komunitas ini terkenal punya semangat menularkan virus berliterasi, khusunya di Magetan yang seakan begitu terasa akan kehadiran dari Komunitas Hujan Buku.

Komunitas Hujan Buku didirikan oleh beberapa guru dan juga kepala sekolah tingkat SD dan SMP di Kabupaten Magetan. Alangkah bahagianya bila melihat para pengajar di negeri ini terjun ke komunitas yang bergerak dalam dunia literasi.

Terbentuknya Komunitas Hujan Buku Kabupaten Magetan berawal dari sejumlah guru bahasa Jawa yang resah akan minimnya buku bahasa jawa yang dibutuhkan siswa. Selain itu, minat siswa mempelajari bahasa jawa pun cenderung menurun drastis. Melihat kondisi tersebut untuk dapat menarik minat dari para siswa dilakukanlah upaya-upaya yang ajaib dan menarik. Dan itu diwujudkan oleh komunitas ini.

Baca Juga : Seberapa Perlukah Membebaskan Buku Impor Dari Bea Masuk Dengan Upaya Membangun Tradisi Literasi?

Bagaimana tidak, komunitas ini terus berupaya menularkan virus dengan “Cara Gila” versi mereka sendiri. Komunitas Hujan Buku punya rencana dalam satu tahun ingin berhasil menerbitkan 1000 buku bacaan. Hal inilah yang membuat saya kagum jika melihat semangat dan upaya yang dilakukan komunitas ini. “Cara Gila” yang mereka lakukan mungkin sangatlah sulit untuk digapai, namun semangat untuk menularkan virus berliterasi bagi saya patut diacungi jempol.

Dengan bermodalkan kocek pribadi dari masing-masing anggota-nya. Tentu tidak murah untuk menerbitkan satu buku saja. Terlebih kalau untuk bisa mendapatkan nomor ISBN dan juga mencetak beberapa eksemplar, butuh biaya yang begitu besar. Bayangkan saja, satu buku membutuhkan biaya sebesar Rp 750.000 untuk bisa diterbitkan. Sungguh bukan harga yang tergolong murah.

Jika dilihat keinginan mereka sangatlah simpel namun mulia. Tujuannya hanyalah untuk menularkan virus berliterasi kepada semua orang sehingga akan teredukasi dengan buku bacaan yang sudah mereka terbitkan. Yang sungguh mulia-nya lagi ialah buku yang diterbitkan mereka dibagikan gratis kepada siapa saja.

Langkah komunitas ini juga selaras dengan keinginan Suprapwoto, bupati Magetan yang menginginkan kota-nya menjadi Kota Literasi di Indonesia. Karena boleh dibilang latar belakang dari bupati Magetan sendiri sangat akrab dengan dunia literasi. Rekam jejak dari sang bupati yang sering menulis dalam berbagai media massa yang ada. Menjadikan aroma berliterasi sangatlah kental terasa di Magetan.

Semoga inisiatif yang dilakukan oleh Komunitas Hujan Buku dapat menjadi pelecut semangat berbagai di gerakan atau komunitas literasi yang ada di seluruh penjuru Nusantara, khusunya komunitas kami Komunitas Baca Tangerang yang sedang berbenah memajukan literasi di sektor Tangerang.

Harapan besar tentunya ada untuk negara ini yang mungkin saja setidaknya bisa mendapat predikat bagus perihal peringkat negara dengan budaya berliterasi. Walau belum seperti Jepang, yang di setiap mata memandang selalu terlihat masyarakatnya membaca buku, dan akses buku bacaan yang ada di setiap tempat, tetapi berangkat dari hal sederhana menebarkan virus berliterasi atau dengan pilih cara gila seperti Komunitas Hujan Buku yang ingin memunculkan kesadaran untuk masyarakat bahwa literasi adalah kebutuhan penting untuk setiap orang bisa akses dalam bentuk buku bacaan.

Baca Juga :  Puisi Sebagai Simbol Perlawanan

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *