Komik : Masihkah Dipandang Sebagai Racun Bagi Anak-Anak?

Bagi anak kelahiran tahun 90-an, tentu komik jadi salah satu barang yang sangat diminati. Beragam genre komik turut menghiasi masa kecil kami, termasuk saya di kala itu, seperti komik serial Tin- Tin, One Piece, Dragon Ball dan Naruto serta masih banyak lagi lainnya. Bahkan seringkali kami menyisihkan uang jajan demi mendapatkan komik serial terbaru—dan tentunya kami selalu punya langganan penjual komik.

Memang di masa itu gadget belum muncul dan seterkenal sekarang dengan beragam fitur menariknya. Dan video game pun hanya segelintir anak-anak saja yang memiliki—itupun didapat dengan pengorbanan seperti : hadiah sunat. Dan kalau kita menginginkan itu terjadi tanpa harus disunat, rasanya mesti mengeluarkan uang demi bisa bermain di rental game. Dan salah satu hiburan yang dapat dinikmati dengan murah meriah tak lain adalah membaca komik.

Namun pada masa kami, entah kenapa komik selalu dipandang racun untuk anak-anak. Seringkali komik menjadi sasaran razia para guru. Hingga suatu ketika, muncul sebuah anggapan bahwa komik menjadi salah satu faktor anak jadi pemalas. Anggapan yang kemudian membuat orang tua menjadi jengkel ketika melihat anaknya membaca komik.

 

Baca Juga : Panggil Saja Saya Wage

 

Dan di era sekarang, kini minat baca anak pada komik menjadi rendah. Ditambah dengan keberadaan penjual komik yang sangat sulit sekali ditemukan—tak seperti dulu ketika kami selalu punya langganan. Memang, jaman sekarang komik dapat dibaca secara online. Namun pembaca komik online rata-rata adalah ‘anak zaman 90-an’ yang rindu dengan bacaan dahulunya. Rata-rata anak jaman sekarang atau diistilahkan kids jaman now lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bermain game di ‘gadget’ ketimbang menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan mengikuti kebiasaan generasi terdahulu, membaca komik.

Menurut saya, fenomena komik dianggap racun bagi anak berefek domino hingga sekarang. Anak jaman sekarang, di usia 6-10 tahun mungkin hanya sedikit yang berminat membaca komik. Sekalipun ada, itupun jarang sekali kita temui. Konsumsi anak jaman sekarang lebih kepada penggunaan ‘gadget’. Bahkan beberapa orang tua sudah mengizinkan anaknya untuk memegang gadget dengan dalih perkembangan zaman.

Sebetulnya komik mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan minat baca pada anak. Dan sangat disayangkan juga, beberapa orang tua kurang memahami manfaat dari membaca komik. Padahal, untuk menumbuhkan minat baca pada anak cukup dengan memulai dari hal yang mereka sukai—biarkan ketika anak gemar membaca komik. Setidaknya, si anak mau mulai membaca walaupun hanya komik. Tapi dari komik itulah yang yang kemudian menjadi jembatan si anak untuk mulai suka membaca.

 

Baca Juga : Sebuah Upaya Membedah Gelap Terang Hidup Kartini

 

Selain itu juga banyak sisi positif yang dapat diambil ketika membaca komik. Dari mulai meningkatkan daya imajinasi hingga meningkatkan daya kreatifitas. Serta beberapa komik yang tentunya syarat akan pesan moral. Contohnya pada komik Naruto yang mengajarkan untuk tak pantang menyerah akan keadaan dan mengedepankan makna persahabatan.

Untuk itu, janganlah memandang komik sebelah mata. Yang pada akhirnya kita bisa menyadari bahwa ternyata banyak pengaruh positif dari membaca komik. Bahwa ternyata komik bisa menjadi jembatan anak untuk lebih meningkatkan semangat membaca.

Masalah minat baca masyarakat di Indonesia yang masih minim barangkali bisa didongkrak lewat membudayakan membaca komik pada anak—setidaknya itulah jalan mudah untuk dapat mengenalkan anak pada dunia literasi. Bahkan, barangkali dengan membudayakan anak untuk lebih mencintai komik khususnya komik asal negeri kita. Itu bisa membangkitkan semangat para komikus Indonesia untuk lebih semangat lagi dalam berkarya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *