Mayday

Kampanye Mayday is Funday Adalah Omong Kosong Untuk Buruh

Dalam Mayday dua tahun terakhir, ada sebuah upaya dari rezim untuk mengajak buruh berhenti melakukan protes kepada mereka. Sebuah upaya agar para buruh lebih memilih untuk melakukan hal yang dianggap positif untuk mereka. Hal yang dianggap positif bagi penguasa dan pengusaha.

Dua hari sebelum Mayday, pada minggu 29 April 2018, diselenggarakan sebuah jalan santai untuk para buruh bersama Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. Namun, sejauh saya melihat aktivitas itu, tidak ada serikat buruh yang terlibat. Pun saya tidak melihat buruh-buruh menggunakan atributnya. Hanya orang-orang, yang mungkin memang pekerja, diajak ikut acara dan membawa anaknya. Begitu saja.

Tidak benar-benar ada aktivitas yang melibatkan buruh. Tidak ada tuntutan atas penghidupan, ataupun upaya-upaya merefleksikan kenapa hari buruh harus ada.

Perlu diingat, tanpa buruh, tidak akan ada yang namanya kerja 8 jam. Tidak ada yang namanya lembur. Semua kerja dari pagi sampai larut, hanya untuk memuaskan nafsu produksi pengusaha. Pokoknya mah, kerja-kerja-kerja terus dah. Karena perjuangan dan mogok ratusan buruh di di akhir abad 19 lah, akhirnya mulai dikenal sistem kerja 8 jam dan lembur.

Hari buruh internasional memang penuh dengan latar perjuangan. Bukan cuma soal menuntut kenaikan upah yang layak, tapi juga beragam hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Sudah sejak lama, para buruh di Indonesia terlibat dalam perjuangan-perjuangan rakyat menuntut tidak naiknya harga BBM, kebebasan berbicara, isu-isu pro-demokrasi, dan sebagainya.

Maka, kampanye Mayday is Funday adalah sebuah upaya pengaburan sejarah perjuangan para buruh. Upaya rezim untuk meninabobokan butuh, meski ya tidak berhasil juga. Paling, pada Mayday kemarin, hanya ada satu serikat yang dianggap plat kuning mau terlibat dalam acara tersebut.

Satu hal yang selalu mengganjal dari kampanye ini adalah, jika rezim dan pengusaha benar-benar perhatian dengan nasib buruh hingga mau mengadakan agenda asyik-asyikkan, kenapa hal ini tidak berlaku pada hari lain, tentu saja di luar Mayday? Apakah penguasa dan pengusaha pernah memikirkan kesenangan-kesenangan buat para buruh, di luar Mayday?

Saya kira tidak. Karena di luar hari buruh, yang dituntut penguasa dan pengusaha untuk para buruh adalah kerja-kerja-kerja. Yang dipikirkan oleh pengusaha adalah percepatan dan peningkatan produksi dari pekerja. Kalau bisa sih, dibayarnya murah saja biar keuntungannya makin besar.

Sementara buat pemerintah, di hari lain di luar Mayday, pekerja harus menurut pada pengusaha dan terus berproduksi. Tentu saja, agar ada produk-produk yang diperdagangkan, memberikan penerimaan dari sektor pajak dan lain-lain, agar pemerintah punya uang untuk ‘pembangunan’.

Tidak pernah ada yang namanya funday di luar hari buruh. Tidak pernah ada upaya memikirkan kesenangan buat para pekerja. Yang ada hanya omong kosong agar para buruh tidak lagi banyak menuntut kenaikan upah atau kesejahteraan mereka. Karena tuntutan buruh cuma membuat repot para penguasa dan pengusaha.

Komentar
Mochamad Anthony

Bakar Kalori dan Berbahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *