Kisahmu tak sekelam kisah di Rumbuk Randu

Dalam cerita fiksi, penggambaran ‘masalah’ menjadi kunci menarik atau tidaknya cerita tersebut. Novel-novel best seller misalnya, mereka sukses di pasaran karena berhasil menyampaikan gambaran masalah kepada pembaca. Di samping masih ada unsur lain yang mempengaruhi seperti karakter tokoh, tema atau latar ceritanya.

Hal yang sama dilakukan Mahfud Ikhwan dalam novel ‘Dawuk’. Ia menggambarkan masalah dengan baik dan karakter tokoh yang kuat. Dengan latar di Pesisir Utara pulau Jawa, novel ini berhasil berhasil menggambarkan suasana masyarakat di sana.

Mat Dawuk, diplesetkan dari nama aslinya Muhammad Dawud.  Sebagai tokoh utama, Mat Dawuk digambarkan buruk rupa dan buruk juga nasibnya. Dalam keterangan lain ‘Dawuk’ dalam bahasa jawa adalah bulu domba dengan warna kelabu. Nama yang pas dengan kisahnya yang kelabu. Mulai dari hidup sebatang kara, dikucilkan, difitnah, diusir, sampai dikroyok masa.

Sebenarnya kisah Mat Dawuk ngga kelabu-kelabu amat. Walaupun dia ditakdirkan buruk rupa, atau lebih pantas disebut mengerikan, Mat Dawuk berhasil meminang gadis desa yang sangat cantik. Inayatun namanya.  Mat Dawuk dan Inayatun hidup digaris nasib yang sama; dibenci warga Rumbuk Randu. Inayatun dibenci karena tingkahnya, Mat Dawuk dibenci karena nasibnya sebagai buruk rupa. Ini seperti kisah ‘Beauty and The Beast’ dari Disney,

Dalam kisah ‘Dawuk’ terselip konflik di hutan Perhutani, antara sinder, blandong, mandor dan para pesanggem menjadi bagian menarik dalam novel. Juga kisah tentang asal-usul Rumbuk Randu yang sebagian besar warganya tidak tahu. Mungkin ini sebagai kisah sindiran kepada pembacanya juga bagaimana kita banyak yang tidak tahu kisah dari desanya masing-masing.

Seperti yang sudah saya bilang diawal, penggambaran masalah dari Mahfud Ikhwan sangat baik. Bagaimana dia bisa menggambarkan suasana Rumbuk Randu dengan kegemaran warganya mendengarkan dangdut dan musik India, bekerja menjadi TKI, dan konflik sosial pada saat itu.

Dan yang unik menurut saya, Mahfud menghadirkan tokoh dalam novel sebagai narator kisah Mat Dawuk. Warto Kemplung, si pembual yang membuat pendengar di dalam cerita tenggelam dalam kisah sekaligus bertanya-tanya, ‘apakah ini kisah nyata?’. Dan Mahfud sendiri mengajak pembaca untuk menyelesaikan ceritanya dan bertaya-tanya,’Siapa yang mati? Siapa yang hilang? Siapa membunuh siapa?’ (hlm. 181)

Pada saat orang lebih gemar cerita-cerita dengan tokoh utama yang tampan dan cantik, Mahfud hadir dengan hal yang berbeda. Dia hadir dengan kisah kelam dari Rumbuk Randu. Kisah yang lebih kelam dari kisahmu, tentunya.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *