Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang - Ben Sohib

Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang: Membikin Saya Ingin Mencaci-Maki Penulisnya

Ada banyak bacaan yang memberi kesan biasa-biasa saja setelah kita selesai membacanya, maka ia mudah dilupakan. Lebih sedikit dari itu, ada bacaan yang membikin kita terus mengingatnya hingga beberapa waktu setelah selesai membaca, bisa beberapa hari, beberapa bulan, beberapa tahun, bahkan hingga sesaat sebelum ajal menjemput. Lebih sedikit dari yang sedikit itu, ada pula bacaan yang begitu berkesan, membikin kita akan mengingat bacaan itu hingga waktu lama sekaligus ingin mencaci-maki penulisnya karena beberapa hal.

Buku kumpulan cerpen ‘Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang’ karya Ben Sohib, bagi saya, ada pada yang ketiga itu. Mengapa buku ini akan saya ingat dalam waktu lama, dan akan saya baca berulang-ulang ke depannya, dan mengapa saya ingin mencaci-maki Ben Sohib usai membaca kumpulan cerpen karyanya ini? Mohon dipahami bersama, semoga paragraf-paragraf setelah ini bisa menjelaskan hal tersebut.

Buku ‘Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang’ dibuka oleh cerpen tentang Dulah yang memaksa menjual rumah Ibunya karena ngebet hendak menikah dengan wanita yang ia puja sejak SMA. Berhasilkah Dulah? Silakan anda baca sendiri saja kisahnya.

Yang membikin saya begitu menikmati sejak bagian-bagian awal buku ini, adalah setting tempat yang digunakan Ben Sohib, juga karakter-karakter yang ia bangun dalam lebih dari separuh cerpen-cerpen yang ada dalam buku. Ben Sohib mengambil setting tempat di sebuah kampung betawi di Jakarta, dengan karakter-karakter yang ia bangun adalah orang-orang betawi, atau betawi campur arab, yang tentu saja begitu dekat dengan kehidupan saya di Rawabelong, Jakarta, tempat salah satu perkampungan betawi yang banyak dihuni etnis betawi dan betawi-arab yang masih bertahan hingga kini.

Baca Juga : Pembajakan Buku: Parasit Klasik Tak Kunjung Berkesudahan

Dua cerpen awal dalam buku mengikat saya, karena setting dan karakter dalam cerpen seperti saya ceritakan di atas. Pada cerpen ketiga, setting memang berubah lokasi, pindah jauh ke pulau Bali. Setelah itu, pada cerpen keempat yang Ben Sohib beri judul ‘Burung Nasar dan Kutukan Korban Kesembilan’ setting kembali ke perkampungan betawi, dan karakter tokoh yang dibangun oleh Ben Sohib pada cerpen keempat ini, betul-betul membawa ingatan saya pulang ke Rawabelong.

Tokoh bernama Hisam Tasir dalam cerpen ‘Burung Nasar dan Kutukan Korban Kesembilan’ mengingatkan saya dengan seseorang di Rawabelong, yang memiliki perilaku mirip Hisam Tasir, memanfaatkan kematian seseorang di kampung untuk bisa meraup keuntungan pribadi. Meskipun dengan cara cara yang sedikit berbeda, tetap saja Hisam Tasir bikinan Ben Sohib mengingatkan saya pada Usman Sawer di Rawabelong.

Dalam kumpulan cerpen ini, Ben Sohib kembali memberi tahu kepada pembaca, bahwa kisah-kisah yang sebetulnya biasa-biasa saja dari orang yang juga biasa-biasa saja, bisa diolah menjadi sebuah cerita yang asyik, menyenangkan, kocak sekaligus menyedihkan.

Kecuali cerpen ‘Don Quixote Tak Lagi Memerangi Kincir Angin’ dan ‘Kafe Rossana’, seluruh cerpen menceritakan karakter yang merepresentasikan orang-orang biasa saja dari kelas yang paling umum di Jakarta, kelas menengah ke bawah. Ada Dulah, anak bungsu yang polos dan mudah sekali tertipu karena perasaan cinta yang berlimpah dalam dirinya, ada Asikin dan Abdurrahman Baswir, pedagang kain batik yang merantau ke Bali untuk jualan kain batik, namun usahanya berantakan karena salah satu di antara mereka yang doyan ‘jajan’, ada kisah si miskin Nasrul Marhaban yang kematiannya dikenang baik oleh seluruh warga kampungnya, ada Apang Bokek yang dari namanya saja sudah jelas bercerita tentang kemiskinannya, dan tentu saja ada Haji Syiah bersama duo pemabuk Faruk dan Ketel yang karena aliran agama tertentu, membikin hubungan mereka sebelumnya harmonis menjadi renggang.

Yang membikin saya ingin sekali mencaci-maki Ben Sohib, karena cerita-ceritanya itu, dengan setting tempat dan karakter-karakter yang begitu dekat dengan keseharian saya di Rawabelong, membikin saya betul-betul rindu Rawabelong.

Beberapa bulan sebelum pandemi korona mewabah di muka bumi hingga akhirnya sampai ke Indonesia, saya sudah membikin banyak rencana. Salah satu rencana itu adalah mudik ke Rawabelong pada bulan Ramadan hingga lebaran. Saya berencana menghabiskan waktu lebih dari sebulan di Rawabelong, membawa anak saya yang lahir pada akhir Desember 2019 untuk pertama kalinya ke kampung halaman, tanah kelahiran saya. Pandemi membuyarkan rencana saya itu. Dan Ben Sohib, lewat cerpen-cerpennya, membikin saya kembali rindu Rawabelong.

Buku ‘Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang’ diterbitkan oleh Penerbit Banana yang dikelola oleh Paman Yusi Avianto Pareanom. Kamu bisa membeli buku ini di toko buku online kesayanganmu. Saya berani menjamin, kamu tidak akan menyesal membeli dan membaca buku ini, buku ini sangat layak menjadi koleksi baru di perpustakaan pribadimu.

Baca Juga : 4 Gangguan Belajar Yang Sering Dialami Anak

 

Judul Buku: Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang

Penulis: Ben Sohib

Desain Cover: Fitriana Hadi

Jumlah Halaman: 124

Dimensi: 12×19 cm

Penerbit: Banana

Tahun Terbit: 2020

Komentar

Volunteer Sokola Rimba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *