Kiat Sukses Membangun Bisnis Penerbitan Indie

Kita kerap mendengar istilah penerbit buku indie (selanjutnya cukup disebut: penerbit indie). Tapi apa sih sebetulnya penerbit indie itu?

Tidak ada definisi baku atas penerbit indie. Tapi yang jelas, biasanya dia dihadapkan dengan penerbit buku mayor. Tapi ada beberapa ciri yang nisbi mudah dipahami.

Pertama, penerbit indie tidak menjual lewat toko buku. Kedua, biasanya dicetak dalam sekala kecil, antara 50 sd 500 eksemplar sekali cetak. Dari sisi permodalan juga tidak sebesar yang dibutuhkan penerbit mayor, yang rerata mencetak buku di atas 2000 eksemplar. Ketiga, beberapa penerbit menggunakan sistem cetak ‘print on demand’ (POD). Keempat, dari sisi pekerja juga biasanya tidak banyak, kadang hanya dua atau tiga orang saja, bahkan ada yang mengerjakan bisnis ini seorang diri.

Motif orang berbisnis penerbitan indie ini juga macam-macam. Ada yang memang semata berbisnis. Menangkap peluang ekonomi dari bisnis ini. Tapi ada juga yang saking sukanya terhadap buku maka memasuki bisnis ini. Ada juga yang faktor ‘ideologis’ misal menerbitkan buku-buku yang nyaris mustahil diterbitkan penerbit mayor. Ada juga yang karena masalah permodalan, sebab modal bisnis ini nisbi lebih sedikit dibanding jika Anda mau masuk ke bisnis buku mayor.

Motif dan ciri bisa saja tidak tunggal. Berkelindan. Dan itu wajar. Jadi bukan tidak mungkin orang yang punya penerbit indie merasa suka buku, butuh menerbitkan buku yang susah diterbitkan penerbit mayor, dan punya motif ekonomis.

Nah, mari kita mulai dengan kiat-kiat berbisnis buku indie. Kiat ini saya sarikan dari pengalaman pribadi dan hasil interaksi dengan para pebisnis penerbitan indie. Mungkin tidak lengkap, tapi setidaknya bisa membuat Anda lebih memahami jika hendak melakukan bisnis ini.

1. Pastikan berbadan hukum

Badan hukum ini perlu, terutama untuk mengurus ISBN. Prakteknya sih Anda bisa menerbitkan buku dengan meminjam badan hukum penerbit lain. Tapi saya tidak merekomendasikan. Keperluan lain adalah untuk memenuhi azas taat administratif dan pajak. Pajak dalam hal ini tidak selalu menakutkan. Tapi kalau sejak awal kita tak taat pajak, kalau penerbitan ini membesar, Anda akan direpotkan oleh petugas pajak. Pendek kata, sejak awal, jangan bikin hidup Anda ribet dan repot.

2. Tentukan tema buku

Ini hal biasa dalam berbisnis apapun yakni menentukan ceruk pasar. Setelah ceruk itu Anda dapatkan, berarti sebetulnya Anda sudah tahu tema buku. Atau bisa saja dibalik. Anda sudah sejak awal menentukan tema buku apa saja yang akan diterbitkan. Dengan begitu, diam-diam, tanpa perlu kajian mendalam, Anda sudah menentukan ceruk pasar.

3. Perihal naskah

Banyak penerbit indie yang memulai bisnis dengan baik tapi kemudian mundur teratur atau tidak bisa melanjutkan bisnis ini. Salah satunya soal naskah.

Sampai sekarang saya tetap kurang mengerti bagaimana bisa ada orang memasuki bisnis ini dengan berbekal satu naskah buku. Begitu buku dicetak dan dipasarkan, bingung mau ngapain lagi. Saran saya, minimal kalau mau membuat penerbit indie, sekurangnya sudah punya naskah 3 buah. Itu pun begitu naskah pertama naik cetak, sudah harus berburu naskah keempat dst.

4. Berhubungan dengan pihak lain

Pola bisnis penerbit indie berbeda dengan mayor. Saya coba meringkas hal ini karena penting dan agak banyak.

Soal penulis. Penulis yang diterbitkan penerbit indie rata-rata dibayar di depan. Jadi misalnya naskah saya dicetak oleh penerbit indie maka royalti saya dibayar di depan. Kenapa? Karena kalau dibayar di belakang, penulis rugi. Sebab penerbit indie mencetak hanya sedikit. Lalu setiap kali cetak ulang, dibayar di depan lagi. Contoh, buku saya dicetak penerbit indie 300 eks. Maka royalti saya dibayar di depan sejumlah 300 eks. Kalau nanti dicetak ulang 100 eks lagi, royalti saya diberikan di depan lagi. Begitu seterusnya.

Biasanya berapa sih royalti dari penerbit indie? Rata-rata sama dengan penerbit mayor: 10 persen dari harga bruto, atau 15 persen dari netto.

Soal pekerja lain. Selain penulis ada penerjemah, penyunting, pemeriksa aksara, penata letak, desainer sampul, dll. Etikanya semua pekerja itu dibayar begitu kerjaannya jadi. Kerjaan mereka tidak ada urusannya dengan laku dan tidaknya buku yang sedang Anda produksi. Mereka mengeluarkan energi dan kreativitas untuk bekerja, dan kewajiban pebisnis buku indie untuk membayarnya.

Soal percetakan. Lazimnya percetakan yang sehat, kalau mau mencetak tentu pihak penerbit akan memberi porsekot. Lalu dilunasi setelah buku jadi. Percetakan juga tidak ada urusannya dengan buku Anda laku atau tidak. Laku dan tidak adalah risiko penerbit indie. Banyak masalah terjadi di sini. Penerbitan yang banyak utang di percetakan akhirnya terbelit masalah. Sebaiknya berbisnislah secara sehat sejak awal. Tidak perlu meniru kebiasaan buruk orang lain.

5. Bekerjasama dengan penjual buku onlen

Untuk sampai di pembeli, Anda bisa menjual sendiri. Tapi itu tidak efektif. Bekerjasamalah dengan reseller alias penjual buku onlen. Mereka rata-rata dapat diskon 30 persen dari penerbit indie. Penjual buku onlen adalah mitra strategis Anda. Biasanya ada yang mau beli putus, konsinyasi, atau bayar tempo. Semua sah.

6. Melakukan preorder

Salah satu enaknya berbisnis buku indie adalah bisa melakukan preorder dan dari sana bisa ditentukan proyeksi keuangan dan cetak. Misal, buku ‘Menanam Padi di Langit’ ditawarkan preorder lewat penjual buku onlen sebelum dicetak. Ternyata dari sana dipesan 200 eksemplar. Berarti bisa saja dinaikkan dari yang semula mau mencetak 300 eks jadi 400 eks. Macam-macam rumusnya. Tapi intinya, keuntungan dari preorder adalah memudahkan kita membuat proyeksi cetak dan keuangan.

7. Pentingnya regularitas

Bisnis buku indie bukanlah bisnis yang sekali cawuk dapat duit banyak. Manajemen yang baik, administrasi yang tertib, hubungan dengan mitra yang elegan, adalah faktor-faktor kunci. Salah satunya yang juga sangat penting adalah menerbitkan buku dengan reguler. Dari sisi manajerial, lebih baik menerbitkan satu buku perbulan secara konsisten daripada menerbitkan 3 buku secara langsung tapi sekian bulan kemudian tidak menerbitkan buku.

Sebab setiap proses penerbitan, dari mulai mencari naskah sampai menjual selalu ada pelajarannya. Proses belajar pun bertahap.

8. Punya mentor bisnis

Sebagai pebisnis pemula, ada baiknya Anda punya mentor bisnis. Tentu yang namanya mentor haruslah yang sudah lebih dulu terjun ke bisnis itu, dan sukses. Jangan cari mentor yang tidak teruji. Hal lain, carilah mentor yang mengajari Anda berbisnis dengan sehat. Jika sudah mulai mengajari Anda cara yang kurang baik, tidak layak jadi mentor. Di Yogya saya kira ada banyak orang yang sukses dalam bidang penerbitan. Anda bisa menjadikan Mas Edi Mulyono sebagai mentor Anda, karena beliau terbukti sukses dalam berbisnis buku. Tentu kalau Mas Edi punya waktu pasti berkenan.

9. Bangun ekosistem yang sehat

Bisnis itu sama kayak makhluk hidup lain, membutuhkan ekosistem yang baik. Setiap pihak dan rantai, selalu punya kontribusi. Kalau ekosistemnya jelek, bisnis yang kita geluti bukan hanya tidak sehat tapi juga beracun.

Karena urusannya dengan banyak orang, sikap egoistis harus ditekan. Sikap mengadili final juga tidak baik. Kalau ada orang yang curang dan berperilaku tidak sehat dalam ekosistem ini, jangan sampai dihancurkan. Setiap orang bisa berbuat salah. Saya bisa. Anda juga bisa. Tapi setiap orang selalu bisa dan harus diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Kalau semua orang salah lalu tidak sah dalam berada dalam dunia bisnis ini, tidak ada lagi yang tersisa. Tidak ada lagi bisnis ini.

Hukum umum ekosistem itu selain kesabaran juga makin banyak yang baik maka pengaruh yang buruk makin bisa dikontrol dan dikurangi.

10. Jaga brand Anda

Membangun brand itu susah. Jika sudah berhasil, mempertahankannya lebih susah lagi. Menghancurkannya sangat mudah.

Kualitas terjemahan, salah ketik, keliru menjilid, jadwal yang molor, dan sederet hal lain, mungkin tampaknya sepele. Tapi jika itu terus terjadi berulang, brand Anda akan meredup.

Saya akan kasih contoh penerbit dengan brand bagus. Salah satunya: Marjin Kiri. Saking bagusnya, orang seperti saya selalu merem. Kalau ada saya merasa punya waktu luang membaca, saya langsung pesan ke toko buku onlen langganan saya dan mencari buku-buku Marjin Kiri. Istilah yang biasa saya gunakan: beli sambil merem. Saya yakin produknya bagus.

Saya kira ini informasi awal yang cukup buat Anda yang ingin masuk ke dunia bisnis penerbitan indie. Selamat berbisnis….

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *