Soekram Menggugat

Ketika Soekram Menggugat

Apa jadinya jika seorang tokoh dalam cerita yang dibuat oleh penulis malah memberontak dan mencoba mengubah bahkan membuat ceritanya sendiri?

Mungkin terdengar aneh jika tokoh dalam cerita memprotes si pengarang terhadap cerita yang dibuat. Lumrahnya seorang tokoh dalam cerita fiksi mengikuti alur cerita yang sudah dibuat oleh si penulis. Tapi hal itu berbeda dalam novel Trilogi Soekram.

Soekram, tokoh utama dalam buku, memilih untuk memberorantak dengan alur cerita yang dibuat oleh penulis. Dia membuat sendiri cerita dengan setting dan tokoh pendukungnya yang berbeda juga.

“Saudara, saya Soekram, tokoh sebuah cerita yang ditulis oleh seorang pengarang. Ia seenaknya saja memberi saya nama Soekram, yang konon berasal dari bahasa asing yang artinya— ah, saya lupa. Tapi sudahlah. Apa pun nama saya, saya harus menerimanya, bukan? Pengarang itu sudah payah sekali kesehatannya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang saya belum selesai, bagaimana nasib saya—yang menjadi tokoh utama ceritanya? Saya tidak bisa ditinggalkannya begitu saja, bukan? Saya mohon Saudara berbuat sesuatu”

Di awal cerita, kita akan disuguhi oleh dunia Soekram yang berlatar sebagai seorang dosen dan juga suami yang memiliki rumah tangga biasa saja. Namun di tengah cerita, dia menggugat dan merubah sendiri jalan ceritanya. Dengan Ida, Rosa, dan Siti Nurbaya. Latar cerita di tahun pemberontakan 1998, kampusnya saat dia masih menjadi mahasiswa, dan jaman penjajahan.

Memang ceritanya berantakan, loncat-loncat tidak jelas. Setting acak-acakan, bahkan sejarahnya diubah. Soekram menginginkannya begitu. Dia ingin membuat cerita sesuai keinginannya sendiri walaupun ngawur.

Di dalam cerita, tidak diberikan juga penjelasan mengenai pesetujuan si penulis. Disebutkan bahwa si penulis carita sudah lama meninggal. Lalu, dia meminta temannya untuk melanjutkan draft-draftnya yang tertunda. Tapi Soekram menggugat dengan cerita-cerita buatannya. Tapi…. ahh! Aku pusing sendiri memikirkan korelasinya.

Ditambah lagi ada kerumitan yang Soekram ciptakan sendiri dengan perempuan-perempuan berbeda di setiap ceritanya. Di luar istrinya, tentu saja. Dengan Ida, teman studinya di luar negeri, Rosa, mahasiswinya sendiri di antara huru hara reformasi orde baru, dan Siti Nurbaya, si gadis minang yang merupakan perempuan incaran datuk idolanya sendiri.

Penulis novel ini, Sapardi Djoko Damono, mengajak kita pusing dengan permainan Soekram yang dikemas cerdas dan apik sehingga kita malah ketagihan untuk membuka halaman selanjutnya. Kita dibuat semakin bingung lalu berputar-putar di dalam kerumitan yang diciptakan oleh Soekram. Brengsek memang.

Untuk Anda yang bosan dengan novel itu-itu saja, muak dengan romansa picisan yang beredar luas di toko buku, overdosis revisi skripsi yang nggak bener di mata dosen pembimbing, hubungan percintaanmu yang semakin ruwet, atau sudah ngrasain matahari mulai terbit dari barat, bisa baca buku ini deh. Masalah-masalahmu jadi terlihat biasa-biasa saja, tidak serumit cerita di Trilogi Soekram.

Judul Buku  :  Trilogi Soekram

Penulis : Sapardi Djoko Damono

Tebal Halaman : 274 halaman

Terbit : Maret 2015

ISBN : 9786020314785

Komentar
Puspita Anggraini

constantly posting about cats on her socmeds.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *