Ketika Negara Minta Bantuan Facebook Untuk Tingkatkan Literasi Digital

Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia. Berada di peringkat 5, Indonesia bahkan mengalahkan Jepang dalam urusan jumlah pengguna internet. Sayang, tingginya angka penggunaan internet di Indonesia belum diiringi dengan tingginya juga tingkat literasi digital masyrakat kita.

Media sosial, selain digunakan untuk jualan dan komunikasi, menjadi tempat penyebaran kabar bohong yang amat besar. Hampir semua platform media sosial menjadi sarana penyebaran hoax yang subur. Bahkan, salah dua platform dengan pengguna terbesar yakni Facebook dan Whatsapp menjadi penyebaran hoax dengan tingkat ketersebaran yang luar biasa.

Sekadar informasi, pada pemilu presiden Amerika Serikat yang lalu, Facebook dituding menjadi salah satu biang keladi kemenangan Donald J Trump sebagai presiden. Saat itu, ketersebaran hoax ketika kampanye amat masif. Bahkan, bos Facebook Mark Zuckerberg harus meminta maaf karena telah meremehkan persebaran hoax melalui platformnya.

Di Indonesia sendiri, penyebaran hoax di Facebook terbilang masif dan amat mudah ditemukan. Dulu, ada masa ketika sebuah hoax bakal menyertakan satu kalimat legendaris di akhir postingan. Sebuah kalimat “jangan sampai berhenti di kamu. Komen amin, like, dan share” menjadi sebuah tren yang, sialnya, ikut dibagikan dan dikomentari sehingga hoax tersebut viral. Tidak hanya Facebook, pada platform Whatsapp, hal demikian juga mudah kita temukan.

Karena itulah, Facebook dengan tegas menyatakan perang pada hoax. Melalui beberapa fitur dan algoritma baru, Zuckerberg melakukan banyak verifikasi akun dan mematikan akun-akun penyebar hoax.  Hal ini membuat Facebook berhasil menurunkan angka penyebaran hoax hingga 60%.

Mungkin karena pengalaman tersebut, negara melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika meminta Facebook Indonesia agar terlibat dalam upaya meningkatkan literasi digital masyarakat. Menurut Menteri Kominfo Rudiantara, hal ini bisa menjadi nilai tambah Facebook di mata masyarakat.

“Ini salah satu kesempatan buat Facebook, untuk senantiasa meningkatkan literasi digital masyarakat Indonesia, literasi tentang media sosial masyarakat Indonesia,” ujar Rudiantara.

Pada konteks ini, saya menyepakati kalau Menkominfo telah meminta salah satu pihak yang punya kapabilitas untuk meningkatkan literasi digital masyrakat. Bagaimana pun, Facebook sebagai salah satu platform media sosial terbesar harus bisa memberikan edukasi pada penggunanya. Apalagi, seperti sudah dibahas di atas, Facebook dan Whatsapp adalah dua platfom penyebaran hoax yang besar.

Selama ini memang masyarakat Indonesia masih mudah terpengaruh konten-konten negatif, termasuk hoax di media sosial. Hal ini ya disebabkan masih rendahnya tingkat literasi digital masyarakat kita. Pencernaan akan konten di media sosial masih ditelan mentah-mentah dengan minimnya pengawasan dari pihak-pihak berwenang.

Memang kampanye tentang literasi digital telah dilakukan oleh para pegiat literasi. Namun, sepertinya tidak bisa hal ini hanya dilakukan oleh pegiat literasi. Negara melalui kementerian-kementerian terkait juga harus aktif terlibat. Bahwa kemudian meminta pemilik platform untuk terlibat adalah langkah yang benar, tapi tidak menihilkan kewajiban negara untuk melakukannya sendiri. Apalagi, jika kemudian negara sendiri yang ikut menyebarkan berita hoax tersebut.

Sekadar informasi, dua hari lalu situs Kementerian Komunikasi dan Informatika justru membuat hoax dalam konten cek fakta mereka. Di situsnya, disebutkan kalau seorang aktivis HAM Veronica Koman  menyebarkan hoax penculikan mahasiswa Papua di akun twitternya. Padahal, dalam tweet yang disertakan oleh situs tersebut, Veronica menyebut jika kedua mahasiswa ditangkap oleh aparat, dan hal ini dibenarkan oleh kepolisian.

Artinya, Kemenkominfo sebagai pihak yang harusnya memerangi hoax justru membuat satu hoax berbahaya. Hal ini harus menjadi evaluasi besar buat mereka agar tidak membuat blunder bodoh seperti ini lagi. Jangan sampai, negara yang harusnya memerangi hoax justru kembali menjadi produsen hoax bagi masyarakat seperti yang pernah terjadi di masa Orde Baru.

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *