Kenapa Oktober Disebut Sebagai Bulan Bahasa, dan Bagaimana Seharusnya Kita Merayakannya?

Setiap bulan memang selalu punya peristiwa dan sejarah, entah sejarahnya bagus atau tidak, tapi patut untuk tetap dikenang atau mungkin dirayakan jika perlu. Seperti bulan-bulan lainnya, Oktober juga punya sejarahnya sendiri. Selain hari-hari bersejarah yang terjadi pada tanggal-tanggal tertentu, ternyata bulan ini juga ditetapkan sebagai Bulan Bahasa dan Sastra.

Faktor yang menjadikan Oktober sebagai bulan Bahasa karena memang pada bulan ini kita merayakan sumpah pemuda. Kita tentu saja tahu, salah satu butir dari sumpah pemuda adalah tentang Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Ya, dari SD kita sudah akrab diajarkan tentang negara ini yang memiliki banyak sekali keberagaman, salah satu di dalamnya tentu saja adalah keberagaman Bahasa daerah.

Banyaknya Bahasa daerah ini tentu saja bisa disatukan oleh Bahasa persatuan, itulah sebabnya saat kita menemui teman dari berbagai daerah, kita tetap bisa berkomunikasi karena ada bahasa Indonesia yang bisa menghubungkan kita. Sebagai tambahan, saya pernah mengikuti pelatihan dengan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan yang menjadi pemersatu di sana adalah bahasa Indonesia.

Pengalaman minim itulah yang kemudian membuat saya sadar, jika bahasa pemersatu sekarang memang menjembatani kita agar bisa terhubung dengan banyak orang. Lalu pertanyaan kemudian muncul, apa hal yang bisa kita lakukan guna merayakan bulan bahasa dan sastra di bulan oktober ini?

Biasanya pada bulan ini ada berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah yang dikemas sebagai lomba. Lombanya pun beragam, ada lomba baca puisi, pidato, menulis cerpen atau juga lomba-lomba lain yang punya keterikatan dengan bahasa. Pada 2017, pemerintah bahkan meluncurkan KBBI sebagai wujud kepedulian terhadap kosakata bahasa Indonesia.

Kedua hal yang dilakukan tentu saja penting, karena tujuannya sangat baik. Dalam KBBI misialnya, kita (terutama saya) adalah orang yang sering salah dalam penggunaan kata. Seperti menulis Apotik, padahal yang benar adalah Apotek. Pun juga penggunaan di -, saya masih sering menulis dirumah, padahal yang benar adalah di (dengan spasi) rumah.

Bagi banyak orang, hal ini tentu saja sangat sepele, padahal sebenarnya penting. Sederhananya, bagamaina kalian atau khususnya saya, menghargai bahasa Indonesia jika dari hal yang sepele saja sudah salah. Melakukan perbaikan pada hal kecil seperti ini tentu saja sulit, apalagi jika harus konsisten.

Selain melakukan perbaikan yang mengacu pada KBBI, hal lain yang bisa kita lakukan adalah menyempatkan diri membaca buku, menulis, dan aktifitas lain yang ada hubungannya dengan bahasa. Bagi saya, meski tipikal orang yang jarang baca buku, nyatanya secara tidak sadar membaca memiliki dampak sangat besar.

Baca Juga: Xenoglosofilia: Membiasakan Untuk Berbahasa Indonesia

Alasannya sederhana slur, selain menambah pengetahuan dan referensi, perbendaharaan kata juga sedikit demi sedikit bertambah. Kecil memang, tapi jika dilakukan terus-menerus tentu saja akan berdampak lumayan bagi pengembangan diri sendiri.

Selain dua hal di atas, kita juga bisa merayakannya dengan membaca puisi atau juga menulis puisi. Karena setelah peristiwa sumpah pemuda, Muhammad Yamin menulis Puisi ‘Tanah Air’ dengan menggunakan bahasa Indonesia, bukan melayu.

Itu adalah hal yang bisa kita lakukan, toh jika tidak ada lomba kita tetap bisa merayakannya sendiri dengan cara kita sendiri. Cara merayakannya sangat sederhana bukan? Ya, tentu, sesederhana mengunggah “Selamat datang Oktober, Selamat datang Bulan Bahasa” di akun sosial media.

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *