Kenangan-kenangan yang Mengalir di dalam waktu

“Aku tidak ingin cinta sejati. Tapi , biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan disana. Biarkan aku tersiksa untuk belajar setia.” Kalimat pada judul awal di buku ini.

Novel karya puthut EA ini, pada  HARBOLNAS kemarin masuk kedalam 9 buku yang paling di cari. Novel ini amat sangat pantas di baca bagi yang pernah tenggelam dalam luka yang susah di sembuhkan.

Menurut saya, yang membedakan Novel ini dengan Novel cinta lain adalah gaya penuturan sang pencerita utama. Bahasanya tidak terlalu berlebihan dan berlenje-lenje tapi di tuturkan dengan sederhana, sesederhana kebahagian yang di ungkapkan tokoh utama, membangunkan seseorang dari tidurnya di pagi hari.

Garis besarnya  tentang derita sang Tokoh utama. Ibarat pejalan, tokoh utama ini telah berjalan sangat jauh, melewati hidup dengan semangat  dan liar. Semua tikungan sudah di lewati sampai akhirnya datang masa gigil. Membuat semuanya menjadi dingin, merasa bukan lagi manusia karena genangan masa lalu yang membelenggu.

Melupakan  kenangan dengan mantan memang sangat sulit. Kadang membuat kita malas mencari pasangan yang baru. “Aku telah mencintai seorang perempuan dan dia meninggalkanku. Salah satu kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintai perempuan itu dan sialnya aku tak bisa mencintai yang lain lagi” (Hal.15). Mencintai yang lain lagi terasa berat, bahkan sulit, ini kata tokoh utama ya, bukan saya!

Tokoh utama, yang tidak di sebutkan namanya ini hingga novelnya habis, merenung dan mengerti bahwa dalam hidup apa yang kita inginkan kadang-kadang tidak sepenting apa yang kita miliki. Bahwa luka bukan hanya memberikan rasa perih atau sakit, tapi juga tentang semua yang berharga dalam setiap proses yang membuat kita sembuh.

Dalam setiap halaman, saya seperti mendapatkan banyak pencerahan soal pencarian cinta. Dalam setiap paragraf yang saya baca, membuat saya penasaran. Saya kadang jengkel dengan tingkah si Tokoh utama yang terkesan menghindar pada setiap wanita yang ia temui.  Pandangan pesimis begitu tersaji dan di rangkai dengan apik.

Secara keseluruhan Cinta Tak Pernah Waktu bercerita tentang sebuah pergolakan batin, tentang tokoh utama yang memaki dirinya sendiri hingga membuat dirinya sendiri rumit, tampak murung, bersedih dan putus asa. Kisah yang tidak menggebu-gebu namun memberikan pemaknaan yang dalam. Tokoh utama yang ingin bebas dari belenggu masa lalu dan sekuat tenaga menyembuhkan luka. Lalu bisakah si Tokoh utama menyembuhkan lukanya? Dapatkah ia melabuhkan hatinya pada wanita lain? Sudahkah ia keluar dalam badai masa lalunya? Pertanyaan itu tentu akan bisa kalian jawab dengan membaca bukunya!

Puthut EA adalah penulis yang terampil dan pendongeng yang aduhai ketika menceritakan setiap kisah di buku ini. Rangkaian kata-katanya membuat saya terhanyut masuk kedalam bagian cerita. Kadang ketika rasa jengkel itu tiba saya berkata dalam hati “ ah, harusnya bukan begitu pengambilan keputusannya!” , tapi  lagi-lagi ini  kejeniusan penulis dalam membawakan kejutan-kejutan di kisah itu. Sialan memang.

Terakhir, buku ini cocok di baca para jomblo karena akan menemukan banyak perenungan dalam perjalanan kisah si Tokoh utama. Karena cinta ternyata sederhana, sesederhana melihat kapal yang berlayar dilaut meski akan ada badai yang menghadangnya, sesederhana melihat Liverpool menang di tiap pekan dan membuat saya sadar bahwa hidup amat sangat layak dinikmati.

 

 

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *