Kenali Hari Gizi Nasional Yang Bukan Sekadar Seremonial Belaka

Gizi adalah hal penting setiap manusia harus miliki. Tentunya gizi baik yang sangatlah diinginkan. Sejak pertama lahir hingga tumbuh dewasa, gizi mestinya jadi prioritas utama untuk tumbuh kembang seseorang. Karena ada pepatah bilang, mens sana in corpore sano, memang itulah modal dasar untuk mendapatkan jiwa dan raga yang sehat, yakni dengan memiliki gizi yang baik.

Apabila dibedah dari sisi historis tentang tercetusnya Hari Gizi Nasional. Dulu, Hari Gizi Nasional diselenggarakan dibawah peranan Lembaga Makanan Rakyat (LMR), pada pertengahan tahun 1960-an. Kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Gizi pada tahun 1970-an hingga sekarang.

Kegiatan tersebut diselenggarakan demi memperingatinya awal mula pengkaderan Tenaga Gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan tanggal 26 Januari 1951. Sejak saat itu, disepakati bahwa tanggal 25 Januari di peringati sebagai Hari Gizi Nasional Indonesia.

Seberkas catatan tersebut hanyalah bingkai seremonial tempo dulu. Kita lihat kondisi negara Indonesia sekarang, sebagian besar masih banyak menderita kekurangan gizi, dan perkara kemiskinan adalah faktor utama penyebabnya. Rata-rata yang sering terserang ialah ibu, bayi dan anak. Mirisnya lagi, sebanyak 11 persen balita terkena stunting dan turut menyeret timbul masalah gizi lain, yaitu obesitas.

Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek pernah mengatakan bahwa Indonesia selalu diterpa beban ganda terkait masalah gizi. “Di satu sisi, kita menghadapi masalah gizi kurang, pendek (stunting), dan kurus. Namun, di sisi lain kita juga dihadapkan pada masalah  overnutrition, yakni masalah obesitas atau kegemukan”

Maka dari itu, masalah gizi teramat komplek, terutama untuk tumbuh kembang anak. Karena apabila sudah kekurangan gizi dari lahir, tentu akan berdampak besar terhadap perkembangan otak dan rendahnya kemampuan kognitif (pengetahuan) yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dan keberhasilan pendidikan.

Dari sini dapat dicermati bahwa pengaruh gizi akan berdampak besar juga terhadap kemajuan masyarakat nya di suatu negara, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia.

“Untuk menjaga perdamaian dunia, daripada repot-repot diskusi sana-sini tentang potensi konflik antar agama, antar ideologi, dan lain-lain, mending fokus ke soal rasio ketersediaan pangan dan jumlah warga dunia” –  Sujiwo Tejo

Kekurangan gizi bisa menjadi faktor gangguan kesehatan dan kesejahteraan seseorang, kenapa? karena tidak adanya keseimbangan antar asupan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan pengaruh penyakit. Ketidakseimbangan ini bisa mengakitbatkan gizi menjadi kurang ataupun gizi lebih.

“kamu adalah apa yang kamu makan” Nah, pernah dengar ungkapan ini? Jika pernah, Ini menandakan bahwa usia bukan jaminan dalam memakan makanan apa saja. Karena, asupan yang kamu konsumsi sekarang akan menentukan seperti apa kondisi tubuh kamu di masa depan.

Juga, perlu diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhi asupan gizi, diantaranya kekurangan pangan, penyakit infeksi seperti cacingan, lingkungan yang kurang bersih serta penyebab tidak langsung lainnya seperti pola asuh orangtua.

Alangkah baiknya jika kita harus bisa terlebih dahulu menerapkan pola hidup sehat pada diri sendiri, dengan membiasakan memakan-makanan yang bergizi seimbang, terutama untuk para ibu yang sudah mempunyai anak atau calon ibu yang menunggu bakal buah hati nya lahir.

Serta bukan lagi untuk menerapkan pola makanan 4 sehat 5 sempurna yang dulu pernah dicetuskan oleh Bapak Gizi Indonesia (Poorwo Soedarmo). Sebab faktanya sudah tidak sesuai jika dilihat dengan perkembangan ilmu dan permasalahan gizi sekarang. Di dalam tumpeng gizi, susu sudah masuk kedalam kategori makanan yang mengandung protein, dimana protein tersebut sudah ada pada komposisi lauk-pauk. Apalagi kalau orang yang tidak menyukai susu, tidak bisa juga untuk dipaksakan.

HGN (Hari Gizi Nasional) yang jatuh ke-59 di tahun ini, sudah sepatutnya bukan sekadar seremonial belaka. Bukan sekadar mengucapkan dan berempati di banyaknya lini masa media sosial, terhadap banyaknya masyarakat diluaran yang masih kekurangan dan kelebihan gizi nya. Tetapi, perlu banyak-banyak memikirkan bagaimana caranya agar semua manusia mendapatkan gizi baik secara merata.

Tidak tumpang tindih gizi, antara yang mengalami kelebihan dan satu lainnya mendapati kekurangan. Solusinya mungkin bisa coba berbagi makan, makanan yang baik akan diikuti kebaikannya juga ke depan.

Semua demi bangsa Indonesia yang sehat dan berkualitas.

Komentar
Nuryeti

Never stop learning, because life never stop teaching

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *