jenazah

Kebiasaan Pemerintah Mengambinghitamkan Petugas Dalam Kasus Bopong Jenazah

Rasa sedih, marah, iba bercampur aduk dalam benak saya ketika membaca berita tentang seorang paman yang membopong jenazah keponakannya sebab tak diberi pinjaman ambulance oleh pihak puskesmas. Ditambah lagi alasan pihak puskesmas tidak meminjamkan karena tak sesuai SOP. Dalam keadaan darurat saja masih sempat-sempatnya berbicara SOP. Sangat tak manusiawi.

Makian demi makian pun dilontarkan masyarakat di sosial media. Bahkan beberapa diantaranya melontarkan sumpah serapah yang ditujukan pada petugas puskesmas. Menyarankan agar semua petugas di puskesmas itu dipecat sebab mereka tak punya rasa kemanusiaan.

“Artinya petugas puskesmas enggak ada empati walaupun petugas puskesmas SOP begitu ya. Makanya tadi saya tegur kepala Dinas Kesehatan, SOP diubahlah. Kan memang teman-teman bekerja berdasarkan aturan ya kita juga paham. Tapi kita juga punya fungsi kemanusiaan lah,” Ungkap Arief Wismansyah (dikutip dari laman cnnindonesia.com)

Tapi timbul pertanyaan dalam benak saya, mengapa sedemikin kokoh para petugas puskesmas itu mempertahankan SOP. Padahal mereka bisa dengan mudah meminjamkan. Dan tak akan ada kejadian semacam ini.

Apakah para petugas itu salah? Saya pikir tidak. Mereka hanya orang-orang bertugas sesuai SOP. Saya pikir teman-teman semua tahu bahwa SOP itu sangat penting bagi setiap perusahaan ataupun instansi. Mereka hanya menjalankan tugas atas perintah atasan. Ketika banyak pegawai pemerintah bekerja tak sesuai SOP, lalu saat ada yang benar-benar bekerja dan menjalankan SOP dengan baik, malah dapat makian.

Dalam kronologi kejadian, yang tersedia di puskesmas tersebut adalah ambulance, bukan mobil jenazah. Ambulance adalah kendaraan yang dilengkapi peralatan medis yang fungsinya adalah untuk mengangkut orang sakit beda fungsi dengan mobil jenazah.

Serba salah memang ketika jadi petugas di puskesmas kala itu. Andai mereka meminjamkan, bukan tidak mungkin besoknya mereka akan mendapat sanksi dari atasan sebab tak mematuhi SOP yang ada. Tapi saat keadaan seperti sekarang, mereka malah jadi kambing hitam.

Saya pikir pemerintah (lebih tepatnya Wali Kota Tangerang) tak perlu lagi mengungkapkan kekecewaan di media. Alangkah baiknya kejadian ini dijawab dengan tindakan yaitu dengan menyediakan mobil jenazah di tiap puskesmas. Agar kejadian macam ini tak terulang di kemudian hari.

Dan saya pikir ucapan Wali Kota tentang mengedepankan kemanusiaan ketimbang aturan hanya sebatas basa-basi agar terlihat bijaksana di kasus ini. Sebab nyatanya pelayanan BPJS di kota tangerang masih mengedepankan SOP ketimbang kemanusiaan. Banyak pasien darurat tapi masih harus berhadapan dengan sistem yang berbelit. Jadi saya harap jika tanggapan wali kota tentang kemanusiaan lebih penting dari aturan, baiknya teriakan dengan lantang dan buktikan. Agar tak terkesan cuma omong kosong belaka dan basa-basi belaka.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *