Dampak Positif Keberadaan Polisi Virtual di Media Sosial

Beberapa waktu lalu sudah disahkan keberadaan polisi virtual di Indonesia. Apa itu polisi virtual? adalah sebuah unit baru dari kepolisian yang berfungsi untuk melakukan penertiban terkait pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Eelektronik (UU ITE).

Keberadaan unit polisi virtual kurang mendapatkan sambutan hangat dari banyak netizen. Bisa dilihat dari banyaknya tanggapan terkait hal ini yang dapat disimak di beberapa media sosial.

Wah, saya sih kurang setuju sama tanggapan netizen. Ini kan sebuah gebrakan bagus dari para aparat, kenapa malah tidak didukung? Katanya instansi pemerintah jangan gagap teknologi, harus canggih. Giliran sudah ada polisi internet malah direspon negatif. Netizen ini maunya apa sih?! Ini adalah sebuah gebrakan revolusioner!

Sebagian besar kurang setuju dengan adanya polisi virtual, karena mereka memiliki fungsi kurang lebih sama seperti UU ITE yang penuh dengan pasal karet. Harusnya lebih mengurusi soal penipuan di internet. Seperti transaksi palsu atau SMS tawaran pinjaman online yang mengganggu kenyamanan misalnya.

Ditambah lagi ketika pertama kali beroperasi, polisi virtual menjerat seseorang yang mengejek anak presiden di media sosial. Katanya, “Ia hanya paham jika dikasih jabatan saja.” parah betul, berani-beraninya dia mengejek anak presiden yang keren itu. Wajar kok kalau aparat siber ini menangkapnya. Harus diberikan pelajaran budi pekerti memang orang seperti itu.

Walaupun polisi virtual ini rasanya seperti patroli di media sosial, bukan berarti mengekang kebebasan berekspresi kok. Kita masih bisa melakukan banyak hal.

BACA JUGA : Proyek ‘Jurassic Park Komodo’, DOSA MANUSIA PADA ALAM

Lihat saja, masih banyak akun-akun lucu di media sosial. Apalagi leluconnya soal jomblo dan galau di malam minggu. Itu jenaka tingkat troposfer, saya terpingkal-pingkal tiap membacanya. Meskipun ini lawakan khas 2011, buat saya masih relevan saja kok.

Kemudian juga banyak netizen yang menganggap keberadaan polisi virtual ini mendukung adanya cepu online karena adanya pemberian badge untuk para netizen yang melaporkan tindak kejahatan di internet.

Pakai bilang badge ini tidak berguna pula. Sebagian besar sih mengeluh karena badge ini tidak bisa dipakai apa-apa. Misalnya tidak bisa untuk meringankan pembuatan NPWP online. Ya gini nih, tipikal orang suka mencari imbalan. Biasanya tipikal orang yang suka menolong tapi pakai pamrih deh nih pasti. Tolong ya, belajar dong jadi manusia yang ikhlas.

Mereka yang memliki potensi ditangkap pasti tipikal netizen yang bisanya mengkritik doang. Nyinyir a,b,c,d soal kebijakan pemerintah. Namun aslinya tidak bisa apa-apa. Namanya juga kebijakan, pasti sudah mutlak bijaklah. Dasar netizen. Balas dong pakai karya!

BACA JUGA : BURUH TANGERANG MELAWAN OMNIBUS LAW, SEBUAH ALASAN KENAPA TETAP MELAKUKAN DEMONSTRASI

Maka dari itu saya sampai detik ini masih tidak habis pikir dengan tingkah pola para netizen yang menanggapi negatif keberadaan polisi internet ini. Saya sih malah senang jika mereka melakukan patroli elektronik, sementara saya berselancar di internet. Serasa dikawal 24 jam nonstop. Aman banget. Xixi.

Jadi menurut saya, dengan sudah disahkannya unit baru alias si polisi virtual ini harus kita dukung sebagai warga negara yang baik dan cinta tanah air. Apa-apa kok takut. Akibat dari kebanyakan suudzon tuh sama negara. Kurang banyak nonton video motivasi.

Makanya, internet tuh jangan dibuat untuk upload lirik lagu sedih, kutipan overthinking, nonton video kucing, sampai streaming film aja. Padahal acara tv lokal juga bagus-bagus kok. Mendingan saya nonton siaran Atta Halilintar lamaran. Sangat menginsiprasi sampai betah saya di depan tv.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *