Kampoeng Cenghar

Menyalakan Semangat Literasi Anak Muda Lewat Kampoeng Cenghar

Beberapa pekan lalu, saya dan beberapa anggota Komunitas Baca Tangerang mendapat undangan dari salah satu pendiri taman baca Kampoeng Cenghar, Awalludin, sahabat karib saya. Beliau meminta saya dan anggota Komunitas Baca Tangerang yang lain untuk datang ke Kampoeng Cenghar, untuk sekedar berbagi pengalaman dan cerita tentang dunia literasi.

Kampoeng Cenghar yang berada di Desa Ciakar, Kec. Pagedangan Kab. Tangerang ini didirikan sekempok anak muda desa tersebut. Berawal dari keresahan di tengah pandemi seperti ini, mereka merasa tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Setiap malam hanya menghabiskan waktu untuk ngopi-ngopi ceria atau hanya bermain game online saja.

Suatu ketika, ide cemerlang muncul saat mereka asik sedang ngopi. Mereka ingin mendirikan taman baca untuk masyarakat sekitar. Tidak hanya sekedar kampung baca, mereka ingin mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif agar bisa memberikan dampak untuk warga sekitar.

Tentunya niat mereka dibarengi dengan usaha yang tidak main-main. Pada tanggal 6 September, mereka berkumpul untuk mendirikan kepanitian. Yang diketuai oleh Awaludin, akhirnya Kampoeng Cenghar mulai dirintis perlahan.

Menyediakan ruangan untuk membaca, membuat rak-rak buku, membuka donasi buku hingga pada tahap peresmian dilakukan secara gotong royong bersama warga sekitar. Itu jadi salah satu bukti bahwa semangat literasi di Indonesia sendiri nyatanya masih ada dan semakin membara. Anak-anak muda di desa ciakar ini membuktikanya lewat berdirinya Kampoeng Cenghar.

Baca juga: Review Buku Sesekali Kita Butuh Sepi

Cenghar sendiri secara sederhana artinya adalah bahagia, namun Cenghar ini memang multi tafsir. Intinya, nama tersebut bermakna sebuah kebahagian. Yang barangkali dengan harapan kebahagian tersebut bisa dibagi ke sesama.

Tujuan dari berdirinya Kampoeng Cenghar ini tentu ingin menumbuhkan minat baca di daerah mereka. Memberikan akses buku bacaan yang mudah untuk masyarakat. Sehingga masyarakat sekitar dapat meningkat sumber daya manusianya.

Terlebih di masa pandemi seperti ini, mereka sedikit resah karena anak-anak di sekitar mereka tidak bisa mendapatkan akses belajar yang mudah. Di tengah pandemi seperti ini anak-anak terpaksa untuk belajar di rumah saja. Namun pada implementasinya, banyak anak-anak yang tidak bisa mendapatkan pembelajaran yang layak dari rumah.

Maka dari itu, mereka juga membuat sebuah program untuk mengajak anak-anak masyarakat sekitar membaca sambil belajar. Lewat semangat yang dimiliki anggotanya, mereka membantu anak-anak menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Tentu ini juga bisa mengurangi beban para orang tua yang dipaksa mengajarkan bahkan menggantikan peran anak tersebut untuk mengejarkan tugas sekolah.

Melihat semangat dari anggota Kampoeng Cenghar ini, sedikit menggugah hati saya. Ternyata banyak masyarakat di desa yang masih memiliki semangat untuk berliterasi. Sayangnya hanya beberapa saja yang bisa mengembangkan idenya, sisanya mungkin terbatas karena terbentur fasilitas.

Hal-hal seperti ini yang seharusnya kita dukung dan terus kita lestarikan. Membaca adalah melawan kebodohan, dengan membaca kita dapat membentuk karakter anak bangsa yang lebih kreatif, inovatif serta mandiri. Kampoeng Cenghar adalah salah satu contoh, masih banyak kampung baca yang kreatif dan harus dapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat.

Semoga semangat anak muda ini bisa menular dan bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Semangat literasi di Indonesia nyatanya masih terus ada. Kita harus saling bahu membahu untuk meningkatkan gerakan-gerakan literasi semacam ini. Dengan banyaknya gerakan literasi daerah yang bermunculan, ini bukti bahwa minat baca di Indonesia tidak seburuk yang kita kira.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *