Kampanye Pentingnya Membaca Perlu Digalakkan Di Media Sosial

Apa gunanya lihat trending di Twitter jika selalu didominasi oleh cebong dan kampret? Kesal, muak, risih dan males lihat Twitter. Lah, tiap hari ada trending capres sih. Kalau ngga Wowo ya Wiwi. Lebih kesal lagi, trending biasanya bertahan seharian non-stop.

Salah satu alasan Twitter masih digemari oleh banyak orang adalah informasi yang up-to-date. Suatu kejadian bisa diviralkan begitu cepat dengan sebuah tagar. Saya salah satu pengguna Twitter yang setia karena alasan tersebut. Konten receh dari netizen banyak yang menghibur bahkan bisa menumbulkan tawa. Mungkin trending di Twitter inilah yang menjadi alasan cebong dan kampret mem-viral-kan calon presiden mereka.

Satu hal yang saya tidak suka dari pemanfaatan trending di Twitter oleh cenbong dan kampret adalah maraknya hoaks, ujaran kebencian hingga fitnah kepada masing-masing calon. Yang saya lihat sih kedua belah pihak saling menjatuhkan dan punya hasrat besar untuk berkuasa. Sah-sah saja sih kalau narasi dan kontennya berbekal sesuai pada visi misi dari paslon, berkampanye dengan kreatif, memaparkan rencana program kerja hingga kontribusi mereka yang nyata terhadap rakyat.

Ketika saya membuka Twitter kemarin, ada tagar #YukMulaiMembaca. Tagar ini menarik perhatian saya di tengah ramainya cuitan cebong dan kampret. Di sisi lain, tagar yang berbau literasi ini jarang saya temui. Dalam tagar tersebut, banyak netizen yang mengkampanyekan semangat membaca.

Salah satu informasi yang saya dapatkan, negara ini masih jauh tertinggal dengan negara lain dalam urusan literasi. Padahal tingkat melek huruf di Indonesia cukup tinggi, mencapai 96,3%. Yang menjadi polemik untuk sekarang ini adalah kenapa negara kita bisa tertinggal dengan negara lain? Ternyata minat baca dan tulisnya masih sangat rendah. Berdasarkan catatan Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebanyak 90% anak usia di atas 10 tahun lebih suka menonton televise daripada membaca buku.

Di samping itu, banyak cuitan yang tersebar berisi tentang Gerakan Literasi Nasional. Yang sebenarnya gerakan literasi macam ini sudah lama dibagun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dan menurut situs kemendikbud, tujuan diadakan Gerakan Literasi Nasional adalah untuk menumbuhkan budaya literasi mulai dari keluarga, sekolah, serta masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup.

Literasi juga dimaknai sebagai kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi dengan cerdas. Agar gerakan literasi terlihat masif, perlu melibatkan semua lapisan masyarakat. Saat ini gerakan literasi pun sedang gencar disosialisasikan Kemendikbud pada tiap-tiap sekolah, sebab sebagai wujud implementasi Permendikbud No. 23 Tahun 2015. Salah satu caranya, setiap pagi siswa diminta untuk membaca selama 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai.

Tak hanya di sekolah, partsipasi publik seperti adanya pegiat literasi jelas perlu, menjadi alternatif lain dalam mendorong minat membaca. Semua ini harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, dengan terintegrasi dan tidak secara parsial, artinya tidak semata-mata mandiri, perlu adanya usaha gotong-royong dalam meningkatkan literasi bangsa.

Beranjak dari itu semua, nampaknya kita semua perlu sama-sama sadar bahwa peranan membangun peradaban terlihat mudah, namun budaya juga harus diikutsertakan, yaitu budaya dalam membaca dan menulis.

Tak usah sungkan untuk terus membaca dan menulis karena dua hal tersebut tak kenal usia, meski penglihatan sudah tidak lagi tajam dan kemampuan mengeja sudah terbatas. Dan lagi, membaca, layaknya sebuah ilmu, terus mengalir dimanapun dan kapanpun.

Saya kira trending di Twitter dan di media sosial lain untuk mengajak masyarakat supaya sadar pentingnya membaca perlu digalakkan. Yah, daripada kampanye pilpres mulu yang mendominasi lebih baik kampanye-kampanye seperti ini yang kelihatan lebih bermanfaat. Apa cebong dan kampret tidak bosan mengkampanyekan capres

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *