JANGAN MA(L)U JADI SOPIR

Jangan Ma(l)u Jadi Sopir: Menjadi Sopir Secara tidak Sengaja

Jangan Ma(l)u Jadi Sopir: Menjadi Sopir Secara tidak Sengaja – Saat masih masa Purchase Order (PO) saya mengira buku ini berisi kumpulan tulisan Cak Rusli yang sudah pernah dimuat di Mojok dan di media-media lain. Ya, semacam kumpulan esai gitu. Ternyata perkiraan saya salah. Nampaknya Rusli menulis buku ini benar-benar dari angka nol.

Saya nggak tahu pasti, sih. Ini cuma prasangka saya saja. Sebab dari 19 cerita dalam buku ini, cuma 1 saja yang sudah pernah saya baca yakni; Naik Motor ke Riau yang pernah tayang di Mojok dengan judul Kisah Mudik Lebaran Dari Yogyakarta ke Riau Naik Motor.

Tulisan itu menuntun saya untuk terus membaca tulisan-tulisan Rusli lainnya di Mojok. Dan ketika Penerbit EA Books menerbitkan buku Jangan Ma(l)u Jadi Sopir karya Rusli Hariyanto ini, terang saja, saya sangat tertarik. Terlebih lagi bapak saya juga seorang sopir.

Ada semacam kedekatan khusus, antara dunia persopiran dengan hidup saya. Cerita-cerita yang Rusli tulis cukup familiar di telinga saya, karena bapak juga suka bercerita ke saya tentang pengalamannya sebagai sopir. Hal ini juga merupakan salah satu faktor yang membuat saya sangat tertarik dengan buku ini.

Buku ini menjadi sangat menarik lagi, ketika Rusli menuliskan pengalamannya mencuri AC bekas, tralis kampus, dan benda lainnya untuk sekadar mengisi ulang dompet kehidupannya. Dari situlah—mencuri tralis kampus—sebuah awal perjalanan hidup Rusli menjadi seorang sopir dimulai.

Namanya juga lagi panen, tentu saja Rusli dan temannya, Cahyo, butuh angkutan hasil panen, dong. Diputuskanlah Rusli meminjam sebuah mobil pick up milik Lik Kacip. Karena tidak ingin berbagi penghasilan panennya kepada si pemilik mobil, Rusli nekad untuk menyopir sendiri. Sial tidak dapat ditolak. Untung tak dapat diraih, mobil Rusli masuk gang sempit, Rusli panik. Bukannya maju, mobil malah mundur. Braaaakkk.

Ya gitu deh jadinya. Mobil nabrak tiang listrik. Namun nasib Rusli masih mujur, dia tidak diminta ganti atas kerusakan mobil itu. Sebagai pertanggung jawaban sekaligus permintaan maafnya, ia bersedia menggantikan tugas nyopir dari Lik Kacip lantaran tidak sedang enak badan.

Sekali lagi, semua berawal ketika Rusli menabrakan mobil pick up itu secara tidak sengaja ke tiang listrik. Wajar saja saat itu Rusli belum begitu mahir bawa mobil. Dan kini profesi sopir andalan yang tidak pernah telat melekat pada dirinya.

Banyak hal yang diceritkan oleh Rusli. Kebanyakan ia menceritakan para tamunya. Mulai dari artis ternama seperti, Atiqah Hasiholan beserta keluarganya, Joko Anwar, sampai para turis asing. Lebih dari itu Rusli juga menceritakan turis dari negara mana saja yang pelitnya nggak ketolongan. Bahkan memberi tip saja rasanya mustahil.

Baginya, uang tip bukanlah sekedar uang kecil. Lebih dari itu, tip sangatlah berarti. Rusli bercerita kalau di negara Amerika memberi tip sudah menjadi budaya. Rata-rata perempuan di sana sangat suka dengan laki-laki yang suka memberi tip. Secara tidak langsung, di Amerika ngetip menjadi tolok ukur atas kepedulian seseorang terhadap orang lain.

Buku ini dikategorikan buku komedi. Ya, semacam buku-buku karyanya Agus Mulyadi. Namun bedanya, Agus Mulyadi 80% ceritanya fakta dan 20% fiksi. Kalau Rusli sebaliknya, 20% fakta dan 80% fiksi. Eh, itu yang ngasih persentase Kak Binti dari EA Books yah. Bukan saya. Saya mah, cuma nyontek aja.

Saya tidak merasa Rusli sedang berusaha untuk melucu. Tapi secara tidak sadar pengalaman demi pengalamannya sebagai sopir travel andalan di Yogya, memang sangat terasa lucu. Dengan selera humor saya yang rendah ini, cerita-cerita Rusli sangat ampuh membuat saya tertawa.

Hal yang membuat saya merasa bosan dari cerita-ceritanya Rusli adalah, ketika Rusli bercerita tentang wanita. Sebagai laki-laki saya paham betul, bagaimana imajinasi Rusli bisa melayang-layang jauh menembus pakaian dalam wanita. Jadi, maklum saja jika Rusli piawai sekali mendeskirpsikan fisik wanita yang dibayangkannya. Alih-alih membaca cerita perjalanan, saya kok, malah merasa kayak lagi baca cerita bokep di website berdomain xyz.

Dari 226 halaman dalam buku Jangan Ma(l)u Jadi Sopir, ada dua tulisan yang menjadi favorit saya. Pertama, ya nggak apa-apa deh, udah ketebak: Naik Motor ke Riau. Tulisan yang pertama kali tayang di Mojok ini sangat membekas di otak saya. Bagaimana mungkin seorang Rusli yang berbadan tambun menunggang motor Mio dari Yogya ke Riau.

Saya nyaris tidak terbayang sama sekali. Tapi Rusli sangat mahir menceritakannya dengan sangat detail dan tanpa ada tedeng aling-aling. Mulai dari awal perjalanannya sampai bertemu dengan orang-orang yang nyaris nggak percaya dengan hal nekat yang dia lakukan. Tidak ragu juga baginya untuk menceritakan sopir truck yang lagi coli saat menumpang di sebuah kapal pesiar menuju pulau Sumatra.

Tentang perjalanannya yang sudah pasti melelahkan itu, ia ceritakan secara gamblang. Bahkan sampai sekarang saya tidak menyangka dan tidak percaya ada kejadian semacam itu. Iya, kejadian orang nekat dari Yogya ke Riau naik Mio. Pada akhirnya, kisah itu membuat saya mau tidak mau, jadi percaya.

Yang kedua adalah Melamar ke Blora. Ini merupakan salah satu momen kebersamaan Cak Rusli dengan—penulis idola saya—Agus Mulyadi dan keluarganya untuk melakukan perjalanan mencari kitab suci, eh, maksud saya menuju rumah Kalis Mardiasih.

Perjalanan itu diniatkan untuk melamar Mbak Kalis. Pertama baca judulnya saja, saya tidak ingin membayangkan betapa absurd dan lucunya ketika orang-orang ini bersama dalam satu ruang dan waktu. Pastinya sudah bisa ditebak, banyak kejadian-kejadian yang menggelikan ditulis oleh Rusli pada momen ini.

Bagi saya cerita perjalanan Cak Rusli yang satu ini benar-benar menjadi roh dalam buku Jangan Ma(l)u Jadi Sopir. Kegembiraan mereka—Rusli, Agus, dan keluarganya—bisa saya terima sekaligus rasakan dengan baik.  Bahkan ketika cerita ini berakhir, seolah ada rasa ketagihan dan ingin berkata: Lagi dong, Mas Rus! Masak cuma segini doang ceritanya.

 

Judul: Jangan Ma(l)u Jadi Sopir

Penulis: Rusli Hariyanto

Penerbit: EA Books

Tahun terbit: November 2019

Baca juga:  Kooong: Tak Ada Yang Lebih Berharga Dari Sebuah Kesederhanaan

Komentar
Allan Maullana

Suka terbangun pada pukul 04:12am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *