Jangan Jadikan Buku Sebagai Barang Bukti Perbuatan Kriminal

Beberapa hari ke belakang sedang ramai perilaku vandal yang dianggap merugikan dan meresahkan masyarakat. Di Tangerang, Banten, lima pelaku vandal ditangkap. Mereka terbukti melakukan perbuatan vandal dengan mencorat-coret fasilitas umum. Selain itu, mereka juga dianggap menebarkan kebencian terhadap pemerintah dengan tulisan provokatif. Tak lama berselang, perilaku vandal ditangkap kembali di Banjar, Jawa Barat dengan motif yang sama.

Vandalisme atau perbuatan merusak fasilitas umum tidaklah dibenarkan. Undang-undang sudah mengatur hal ini. Bagi orang yang melanggarnya akan dianggap sebagai kriminal dan dikenai hukuman maksimal penjara 10 tahun.

Baca Juga : COVIDIOT: Istilah Untuk Orang Menyebalkan Di Saat Wabah Covid-19

Baik itu di Tangerang atau Banjar, polisi yang menangani kasus ini lagi-lagi menyita buku sebagai barang bukti. Ya, buku. Sekilas cukup mengagetkan, mengapa buku dijadikan barang bukti. Karena, kalau  dipikir-pikir apa korelasinya buku dengan perilaku vandal mereka? Nggak ada!

Mirisnya lagi, polisi menyita buku-buku yang sudah ber-ISBN. Legal, semua orang bisa membacanya. Di Tangerang, polisi menyita buku-buku seperti Aksi Masa karya Tan Malaka, Coret-coret di Toilet karya Eka Kurniawan, Indonesia Dalam Krisis karya Litbang Kompas dan masih banyak lagi. Sedangkan di Banjar polisi menyita buku Negeri Para Bedebah karya Tere Liye, Seni Untuk Bersikap Bodoamat karya Mark Manson dan ada empat buku lainnya.

Beritanya, polisi masih menyelidiki vandalisme yang terjadi di berbagai daerah. Polisi mengindikasikan perbuatan vandal ini sebagai perbuatan yang terorganisir. Sedangkan jika polisi masih saja menyita buku sebagai perilaku vandal di daerah lainnya, entah bagaimana nasib kemajuan literasi dan membaca buku di negeri ini.

Tentu, dengan penyitaan buku sebagai alat bukti menimbulkan banyak kritik dari publik. Lah, bagaimana bisa buku dijadikan alat bukti sedangkan masih banyak barang yang bisa dijadikan alat bukti. Apalagi buku-buku yang disita sama sekali tidak ada hubungannya. Buku mereka juga bukan dalam kategori buku yang sering disita oleh polisi atau tentara seperti dalam penyitaan-penyitaan sebelumnya.

Ah, mungkin pak polisi melihat ada korelasinya perbuatan vandal dengan buku tersebut dari judulnya. Mungkin saja dengan membaca ‘Coret-coret di Toilet’ karya Eka Kurniawan memotivasi pelaku untuk mencoret-coret fasilitas umum. Mungkin polisi waspada jika pelaku membaca Aksi Masa akan bisa mengajak rakyat untuk berdemo di depan istana. Padahal isi dari buku-buku tersebut, sekali lagi, tidak ada korelasinya dengan perilaku vandal mereka.

Saya sendiri antara geram dan tertawa melihat tingkah polisi seperti ini. Geram karena polisi bukan sekali dua kali menyita buku masyarakat. Apapun alasan mereka, menyita buku bukanlah hak mereka kecuali memang buku yang mereka sita adalah buku bajakan. Jelas, buku bajakan melanggar hak cipta yang diatur dalam undang-undang. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kasus penyitaan buku seperti ini yang menggambarkan jika polisi jarang membaca.

Terkait aksi vandal memang harus ditindak sesuai hukum. Namun menjadikan buku sebagai alat bukti perbuatan tersebut bukanlah langkah yang tepat. Penyitaan buku oleh polisi hanya akan memberi stigma buruk kepada masyarakat bahwa dengan membaca buku malah akan berbuat kriminal. Hal ini tidak baik untuk negeri kita yang minat bacanya memang rendah.

Seharusnya polisi fokus pada kasus kriminlitasnya saja tanpa perlu mendiskreditkan pecinta buku. Toh, kalau polisi mau membaca buku-buku yang disita di atas tidak akan terpengaruh juga untuk berbuat kriminal.

Sejatinya buku diperuntukkan untuk melatih daya kritis seseorang dan kembali lagi tentang cara mendalaminya, mengimplementasikan pada kehidupan nyata. Saya suka baca buku yang berjenis seperti tapi tidak sampai terpengaruh untuk melakukan aksi kejahatan macam vandalisme.

Baca Juga : Literasi Dari Timur Indonesia: Rumah Bacarita Sejarah

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *