Seno Gumira ajidarma

Jalan Sastra Seno Gumira Ajidarma

Sastra membawa Seno Gumira Ajidarma menemukan jati dirinya. Di balik itu, ada sosok Rendra yang secara tak langsung meracuni jiwa mudanya hingga begitu jatuh cinta terhadap sastra. Rendra yang pada zaman itu begitu kontroversial walaupun geraknya dibatasi oleh pemerintah orde baru menarik perhatiannya—seperti mempunyai mempunyai kekuatan besar.

Rasa penasaran Seno berbuntut pada bergabungnya ia ke dalam Bengkel Teater Rendra. Ia berniat mendalami sastra. Meskipun kala itu teater masih asing baginya—bahkan sempat ada pertentangan dari keluarganya—tapi hal itu tidak melunturkan niatnya. Dari keputusannya itu, ia mempertanggungjawabkannya dengan karya.

Kala itu majalah Horison dikenal sebagai majalah yang memuat karya hebat dengan seleksi hebat pula. Dan sosok Seno muda belum bisa mencapai titik tersebut. “Belum” bukan berarti tidak bisa—itu hanya perihal waktu dan niatan. Dirinya memulai dengan mengirim tulisan untuk majalah Aktuil. Tak disangka ternyata tulisannya dimuat oleh majalah tersebut. Di sisi lain, majalah Aktuil adalah langganan anak muda pada zamannya. Bukan sebuah majalah ‘ecek-ecek’ yang bisa dipandang sebelah mata.

Setiap perjalanan tak ada yang mulus—begitu pula perjalanannya. Sosoknya dicap sebagai penyair kontemporer—karyanya dianggap terlalu kekinian. Namun itu bukan menjadi sebuah sandungan untuk seorang Seno Gumira Ajidarma. Justru hal tersebut menjadi lecutan keras dirinya untuk terus menempa diri. Apa yang orang-orang inginkan, ia coba sanggupi.

Ia mulai mempelajari sastra lebih dalam lagi dan mulai  membaca karya-karya Sapardi Djoko Damono. Hari-hari nya kala itu ia habiskan untuk terus menulis hingga akhirnya karyanya berhasil menembus majalah Horison. Sosoknya berhasil menghancurkan anggapan orang terhadapnya—bahwa ia bukan penyair kontemporer! Lebih hebatnya lagi adalah ia masih masih duduk di bangku SMA. Sebuah pencapaian besar bagi seorang anak muda.

Baca juga: Ardy Anto dan Perjalanan Gerakan Literasinya

Hidup kemudian membawanya ke dunia jurnalistik. Dengan tuntutan keadaan yang mengharuskannya untuk bekerja membiayai hidup dan untuk menikah. Menjadi wartawan ditempuh. Kemudian profesi itu menjadi sesuatu yang amat menarik. Jalan yang ditempuh baginya tak begitu sulit dengan kemampuan yang dimiliki yaitu menulis. Di sini ia menemukan sebuah fenomena—menjadi wartawan berarti ia berhubungan dengan dunia “nyata”.

Cerpen nya yang berjudul Saksi Mata menjadi sebuah karya yang amat fenomenal. Sebuah cerpen yang menggambarkan kondisi Timor Timur. Karya tersebut baginya ibarat sebuah amarah yang disajikan dengan tulisan. Kemudian disusul karya lainnya yaitu Jazz, Parfume, Insiden dan Ketika Jurnalisme Dibungkam.

Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya, Pelajaran Mengarang, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lainManusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Selain cerpen, karya lain Seno berupa novel—Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, ia memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.

Kini sosok Seno Gumira Ajidarma menjelma sebagai penulis hebat. Telah banyak masterpiece yang lahir dari goresan tangan serta buah pikirannya. Beberapa hari lalu, dirinya mewakili Indonesia di London Book Fair 2019 bersama sebelas penulis hebat lainnya. Ia pantas mewakili sastrawan-sastrawan Indonesia untuk hadir di ajang itu. Jalan sastranya sudah berbicara dan karyanya belah membuktikannya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *