Ini Dia Nominasi Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa ke-20

Daftar pendek nominasi penerima anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa edisi ke-20 telah diumumkan. Dua kategori, prosa dan puisi masing-masing menghadirkan 5 karya terbaik dari penulis potensial Indonesia. Nominator dipilih berdasar karya yang diterbitkan pada rentang waktu Juni 2019-Juli 2020.

Kusala Sastra Khatulistiwa sendiri merupakan ajang penganugerahan dan apresiasi karya sastra yang dituliskan oleh penulis Indonesia. Agenda yang digagas oleh Richard Oh ini diselenggarakan tiap tahun dan selalu memberikan penghargaan pada penulis terbaik nusantara.

Dari begitu banyak karya yang telah diterbitkan dalam rentang waktu tersebut, berikut adalah 10 karya yang masuk dalam daftar pendek penerima anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa ke-20.

Kategori puisi:

  1. Beni Satryo, Antarkota Antarpuisi (Banana, Agustus 2019)

Dengan disusupi beberapa lelucon di dalamnya, puisi-puisi yang terdapat dalam buku Antarkota Antarpuisi mengupas beberapa hal yang sering terjadi di Ibu Kota. Bisa dikatakan bahwa konten-konten pembicaraan mengenai Jakarta yang disuguhkan Antarkota Antarpuisi, adalah masih bersifat lumrah atau sehari-hari.

Beni Satryo selaku penulis, telah menceritakan secara gamblang mengenai setiap sudut Jakarta dengan begitu apik melalui puisi. Sehingga wajar saja, Antarkota Antarpuisi menjadi salah satu nominasi daftar pendek pada kategori puisi Kusala Sastra Khatulistiwa edisi ke-20.

  1. Esha Tegar Putra, Setelah Gelanggang Itu (Grasindo, Januari 2020)

Setelah Gelanggang Itu merupakan buku kumpulan puisi dari Esha Tegar Putra. Terdapat 40 judul puisi yang dapat dinikmati oleh para pecinta sastra berupa puisi. Buku Setelah Gelanggang Itu memang bukanlah sebuah buku yang terlampau mudah untuk dipahami sebab sang penulis menuntut kita untuk masuk ke dalam sebuah gelanggang untuk memahami puisi-puisi yang dituliskan.

  1. Gaudiffridus Sone Usna’at, Mama Menganyam Noken (Papua Cendekia, September 2020)

Dalam buku Mama Menganyam Noken, Gaudiffridus Sone Usna’at menulis banyak hal mengenai pedalaman Keerom dan perjalanannya sebagai seorang pengajar. Kumpulan puisi yang ia tuliskan turut merefleksikan bagaimana kondisi pedalaman Papua. Baik pendidikan, alam maupun kesehatan serta kehidupan masyarakatnya. Wajar saja apabila buku kumpulan puisi Mama Menganyam Noken menjadi salah satu nominasi daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa edisi ke-20. Karena lewat puisinya, kita sebagai pembaca akan bisa menyelami kehidupan masyarakat papua khususnya masyarakat di pedalaman Keerom.

  1. Inggit Putria Marga, Empedu Tanah (Lampung Literature, Desember 2019)

Pesan yang ingin disampaikan oleh Inggit Putria Marga melalui buku kumpulan puisi Empedu Tanah ialah beberapa hubungan yang hancur. Karena sejatinya takkan ada satupun manusia yang hubungannya dengan semua hal selalu baik. Pastinya tiap orang akan mendapati beberapa hubungan yang hancur, entah satu atau dua hal.

Inggit berharap melalui buku yang ia tulis, para pembaca dapat memahami beberapa peristiwa pahit, sehingga akan bisa menjadi refleksi bagi diri sendiri untuk menerimanya serta menjadikannya sebagai penyembuh bagi diri kita sendiri.

  1. Ratri Ninditya, Rusunothing (Gramedia, November 2019)

Blogger sekaligus penulis puisi Komunitas Bunga Matahari, Ratri Ninditya telah menyelesaikan buku Rusunothing. Buku kumpulan puisi Rusunothing merupakan salah satu nominasi daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa edisi ke-20. Buku ini menceritakan tentang perempuan urban di Jakarta yang terjebak diantara rutinitas sehari-hari. Para perempuan urban seakan terus-menerus menjalankan segala rutinitas sepanjang waktu sehingga membuat mereka tidak mempunyai waktu untuk bisa menikmati hidup. Dengan gaya bahasa yang lugas, Ratri Ninditya berhasil menokohkan sosok perempuan urban di Jakarta dengan rutinitas super sibuk yang sering dialami oleh kebanyakan orang.

Kategori Prosa:

  1. Ben Sohib, Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang (Banana, Februari 2020)

Mungkin sudah terlampau banyak sekali buku yang berisikan sentilan tajam. Namun, buku Kisah-kisah perdagangan paling gemilang jelaslah terlampau beda. Apa yang berbeda? Sentilan tajam yang ditujukan oleh Ben Sohib pada buku kali ini ialah kepada orang-orang yang dengan enteng menggunakan agama untuk semua perkara. Ben Sohib pun turut menyempurnakan sentilan-sentilan tajam tersebut dengan gaya jenaka, khas dirinya. Inilah alasan mengapa buku ini termasuk ke dalam salah satu nominasi daftar Kasula Sastra Khatulistiwa edisi ke-20.

  1. Felix K. Nesi, Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, Juli 2019)

Felix K. Nesi menggambarkan secara gamblang kehidupan masyarakat Timor Barat, Oetimu. Oetimu merupakan suatu wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur. Buku Orang-orang Oetimu akan mengupas tuntas mengenai kejadian-kejadian di wilayah NTT pada era 1990-an. Dalam garis besar, kejadian-kejadian tersebut akan berdampak kepada kehidupan sosial masyarakat di kampung tersebut.

  1. Kedung Darma Romansha, Rab(b)i (Buku Mojok, Juli 2020)

Susastra pantura? Dari telembuk alias pelacur sampai santri adalah para tokoh dalam kumpulan cerita pendek ini. Sebuah kolase: tentang peradaban urban pinggiran, yang dalam kemiskinannya tiada pernah putus asa meraih kebahagiaan. Namun kebahagiaan macam apakah yang sahih dalam dunia seperti itu? Kedung Darma Romansha mengisi ruang kosong sastra sejak novel Telembuk, begitu juga dengan Rab(b)i ini, tempat penulisnya terus berdangdut dengan mumpuni. Ya, kiranya istilah susastra dangdut sungguh relevan, sebagai genre baru yang lebih dari layak untuk terus digali. Telembuk maupun Rab(b)i adalah terapi bagi susastra Indonesia, yang kelewat dipenuhi kasus-kasus kejiwaan elitis kosmopolitan.

— Seno Gumira Ajidarma, sastrawan

Komentar dari Seno Gumira Ajidarma kurang lebih telah menjelaskan betapa kuatnya pengaruh buku Rab(b)i karya Kedung Darma Romansha. Sehingga sangat patut sekali buku ini termasuk ke dalam nominasi daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa edisi ke-20.

  1. Maywin Dwi-Asmara, Surat-surat Lenin Endrou (Basabasi, Juli 2019)

Cerpen-cerpen yang dituliskan Maywin di dalam buku Surat-surat Lenin Endrou membicarakan perihal determinasi kapitalisme atas lingkungan alam, ruang sosial, serta individu. Akan tetapi seolah-olah dituliskan ke dalam gaya bahasa yang terbilang unik dengan kalimat yang cenderung panjang. Maywin dengan ciamik menyamarkan itu semua dengan mengeksplorasi kondisi kejiwaan dari para tokoh atas kondisi yang ingin ia sampaikan di dalam bukunya.

  1. Niduparas Erlang, Burung Kayu (Teroka Press, Juni 2020)

Burung Kayu merupakan sebuah karya sastra etnografis yang mengangkat mengenai permasalahan dinamika kehidupan masyarakat Mentawai. Secara terstruktur, Burung Kayu berbicara mengenai kultur, adat-istiadat, kepercayaan, dan berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Mentawai terkait adanya intervensi dari pemerintah dan agama mayoritas yang kerap terjadi.

Baca Juga: 4 Tipe Pembaca Buku Yang Sering Dijumpai

Itulah beberapa nominasi daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa pada edisi ke-20 baik dari kategori puisi maupun prosa, semuanya merupakan karya sastra terbaik. Semoga untuk perhelatan Kusala Sastra Khatulistiwa berikutnya, semakin banyak para sastrawan, khususnya para sastrawan muda berpartipasi dalam melahirkan karya sastra terbaik. Kemudian, jangan lupa untuk mengikuti pengumuman pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa ini pada tanggal 15 Oktober 2020.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *