Hujan Dan Masa Depan Yang Tak Cerah-Cerah Amat

Sebagai seorang penulis, Tere liye memang sudah tak diragukan lagi kualitas karya-karyanya. Hampir seluruh novelnya laris manis di pasaran. Dari mulai Hafalan surat Delisa, Moga Bunda disayang Allah, Hujan, Burlian, dan yang terakhir adalah Bumi.

Judul-judul pada setiap novelnya pun menarik, dan selalu membuat saya penasaran untuk membacanya. Salah satu novelnya yang sukses membuat saya ingin sekali membacanya adalah Hujan. Beruntung, ketika saya berkeinginan untuk membaca novel tersebut, adik saya datang ke rumah meminjamkannya untukku.

Berawal dari ketertarikan pada novel tersebut, saya membaca novel itu hanya dalam waktu kurang dari 3 hari. Itu waktu tercepat menghabiskan sebuah bagi diri saya pribadi. Hihi.

Cerita di novel ini bermula dari kisah seorang gadis bernama Lail pergi ke rumah sakit untuk menghapus ingatannya. Ia ingin hidup bahagia dengan tidak mengingat kejadian masa lalu yang telah dialaminya. Keinginan  tersebut sempat goyah, tetapi ia tetap ingin melakukannya. Ketika ingatan itu akan dihapus, ada seorang pemuda yang berusaha untuk masuk ke dalam ruangan tempat Lail sedang melakukan rencananya. Pemuda itu bernama Esok, teman kecil yang sangat spesial baginya.

Dengan cerita yang berlatar pada periode 2050-an, hidup seakan menjadi jauh lebih mudah dengan kecanggihan teknologi yang ada. Perkara macet yang menjadi persoalan kita sehari-hari di Tangerang, rasa-rasanya tidak bakal terjadi di novel ini. Membayangkan mobil-mobil yang terbang menghiasi langit dan berjalan tanpa dikendarai, persoalan macet bukanlah hal yang tidak lagi bisa ditangani.

Kemajuan teknologi yang di luar imajinasi saya ini, bahkan, dapat menghapus kenangan pahit dalam hidup seseorang sama mudahnya dengan menghapus file-file di komputer kita. Cukup tekan tombol delete, wush, semua kenangan pahit terhapus tanpa sisa.

Tapi pada novel ini saya belajar dengan baik kalau ada satu hal yang tetap tak bisa ditangani hanya dengan teknologi. Bahkan teknologi yang sudah canggih sekalipun. Sebuah masalah laten yang dapat membinasakan keberadaan umat manusia juga tanpa sisa, yakni bencana alam.

Membaca novel ini membuat saya kepikiran, bagaimana kira-kira nasib saya dan keluarga apabila perkembangan zaman tetap berbanding lurus dengan kerusakan alam. Kalau terus begini, berapa lama lagi bencana-bencana seperti yang ada di Hujan bakal terjadi di kehidupan kita?

Apakah nantinya nasib saya bakal seperti Lail, gadis manis yang harus kehilangan kedua orangtuanya setelah bencana gunung meletus melanda tempatnya tinggal? Saya kira hal-hal seperti inilah yang membuat saya jadi tertarik pada novel ini. Dengan imajinasi yang lumayan tak biasa dan alur cerita yang tak bisa ditebak, novel ini telah berhasil membuat saya penasaran dan terus ingin membacanya.

Judul                           : Hujan

pengarang                   : Tere Liye

Tebal halaman            : 320halaman

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Novel Hujan Tere Liye | Sumber: http://sixbuble.blogspot.co.id/

Komentar

Engga suka digigit nyamuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *