Harapan Untuk Dunia Literasi di 2020 Dari Komunitas Baca Tangerang

Harapan, bagi beberapa orang bisa menjadi energi, pelecut semangat, atau hal lain semacamnya. Harapan juga bisa membuat kita melakukan sesuatu lebih giat. Harapan atau target capaian, memang sedikit agak mirip dari segi maksud, namun terlepas dari perkara tercapai atau tidak, minimal membuat kita sebagai manusia tahu untuk apa melangkahkan kaki kedepan.

Ketika saya diminta untuk menuliskan sebuah harapan untuk dunia literasi, saya sebetulnya bingung akan menulis harapan seperti apa. Saya bukan bagian dari beberapa orang tadi. Bagi saya, harapan hanya seperti kertas coretan: ditulis, diingat beberapa saat, kemudian bernasib akhir yang ujung-ujungnya dibuang.

Sebetulnya bisa saja saya menuliskan harapan besar terkait dunia literasi, membicarakan hal-hal besar, kemungkinan pengaruh yang bisa kita lakukan, atau hal-hal naif lainnya. Tapi, pertanyaan yang kemudian timbul, “Seberapa perlu kita melakukan itu?”

Saya hanya ingin melakukan seperti apa yang dilakukan tahun sebelumnya, melakukan rutinitas yang sama, itu-itu lagi, walau kadang menjenuhkan. Lagi pula, untuk apa kita sebagai komunitas literasi membicarakan harapan besar sementara narasi yang kerap terucap melulu soal statistik rendahnya minat baca di negara ini.

Baca Juga: Langganan Banjir Di Beberapa Wilayah Tangerang

Lalu kedua, Saya hanya ingin menjalani kegiatan di komunitas literasi seperti biasanya, yang sudah Baca Tangerang rancang sistemnya sejak awal berdiri, sambil membuang jauh-jauh hantu statistik tadi. Komunitas Baca Tangerang memang bukanlah komunitas besar dan sepertinya tak akan bisa mewujudkan harapan apapun—seperti juga kebanyakan titipan harapan orang-orang yang kerap berkunjung ke komunitas kami.

Cukup kenyang kami menerima pertanyaan, “Apa harapan kalian terkait data rendahnya minat baca di Indonesia?”  Yang mungkin saya wakilkan dengan jawaban sederhana, kami sebagai komunitas literasi ada bukan karena data statistik itu. Bukan juga untuk menghapus statistik itu dan sepertinya tak akan bisa. Kami bukan pahlawan.

Ada atau tidaknya data tersebut, atau misalnya ternyata data tersebut membawa kabar baik—kami tak peduli. Kami akan tetap ada setiap hari minggu, di trotoar tugu Adipura, membawa banyak buku untuk bisa dibaca oleh siapapun yang ingin.

Berharap pada pemerintah? Ya, tak ada gunanya. Mereka (pemerintah) hanya sibuk bikin program literasi yang hanya sesaat saja. Mereka sibuk dengan hantu statistik tadi, mereka punya kuasa, tapi tak pernah serius melakukan apa-apa. Saya lebih ingin punya harapan pada tukang nasi uduk depan gang untuk tetap buka di hari sabtu, ketimbang ‘kepadanya’.

Kami sungguh senang ketika ada teman-teman dari mahasiswa datang ke perpustakaan kami. Tapi, kami sungguh lebih senang lagi jika tak hanya dijadikan objek penelitian atau sebagai studi kasus tugas kuliah kalian—dan kami ada, bukan untuk menjadi seperti itu.

Sungguh maaf jika ada sebagian pembaca yang merasa tak sepakat dengan ucapan saya tadi. Tapi, itulah kenyataan yang kami alami selama ini. Ayolah, ada banyak hal-hal menyenangkan untuk bisa kita lakukan bersama ketimbang kami harus jadi bagian dari objek penelitian kalian. Kami tahu kalian peduli, dan mustinya kita bisa lakukan hal bersama yang lebih dari itu.

Ada banyak peristiwa yang kami alami di Komunitas Baca Tangerang selama satu tahun kebelakang. Hal baik dan hal buruk datang silih berganti, secara bergiliran—kadang juga bisa bersamaan dalam satu waktu. Beberapa orang pergi, kemudian datang orang baru lagi. Sampai kami pernah tiba di satu titik mengukur langkah paling hati-hati, antara untuk tetap ada atau memutuskan untuk karam bersama.

Segala yang terjadi, apapun itu sangat kami syukuri. Selama satu tahun kedepan, kami hanya akan memikirkan gimana agar bisa terus belajar bersama sambil senang-senang. Ya, itulah rencana kami satu tahun kedepan.

Baca Juga: Betapa Pentingnya Ngeloco Bagi Trijoko

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *