Hanya Ada Satu Kata Untuk Pelecehan Seksual: Lawan!

Jika kamu mendengar tentang pelecehan seksual, apa hal yang pertama kali muncul dalam pikiranmu? Saya yakin banyak yang langsung berpikiran tentang pemerkosaan. Betul, pemerkosaan adalah salah satu bentuk dari pelecehan seksual. Namun perlu diketahui, tidak semua pelecehan seksual selalu berbentuk pemerkosaan.

Ada banyak kategori yang termasuk dalam bentuk pelecehan seksual. Misalkan perilaku-pendekatan pendekatan yang terkait dengan seks dan itu tidak diinginkan. Bahkan, bentuk dari pelecehan seksual pun termasuk pada urusan permintaan untuk melakukan seks dan perilaku lainnya baik secara verbal ataupun non verbal. Kejadian pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata-kata pelecehan, 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan, dan 80 persen non verbal.

Perlu dipahami bahwa pelecehan seksual tidak melulu soal perkosaan. Catcall atau menggoda secara verbal kepada orang lain hingga orang tersebut merasa tidak nyaman. Kontak fisik yang berlebihan hingga orang tersebut merasa terganggu juga termasuk dalam pelecehan seksual. Namun, masalahnya di negara kita, masih ada banyak orang yang menganggap hal-hal semacam tadi adalah tindakan wajar.

Masih banyak sekali orang yang menganggap candaan semacam itu adalah hal yang biasa dilakukan masyarakat umum. Bahkan bagi sebagian perempuan, hal tersebut pun dianggap biasa saja. Kurangnya kesadaran bisa jadi salah satu faktor yang menyebabkan hal ini. Meski ada juga kemungkinan jika upaya melawan kebiasaan tersebut dianggap tabu, dan akan mendapat anggapan negatif dari orang-orang.

Sialnya, pelecehan seksual secara nyata masih banyak terjadi di sekitar kita. Saya, juga beberapa teman, pernah mengalami hal tersebut. Belum lama ini, saya mengalami pelecehan dalam perjalanan menuju rumah. Waktu itu saya pulang dari kampus di kawasan Cikokol sekitar jam setengah 8 malam. Keadaan macet parah karena banyak akses jalan yang terendam banjir. Dalam kemacetan itulah, tiba-tiba ada seorang ‘polisi cepek’ yang dengan enaknya merangkul dan mengelus-elus punggung saya.

Perlu diketahui, saat itu saya sama sekali tidak menggunakan pakaian minim nan mencolok. Saya mahasiswa di sebuah universitas Islam, jadi saya mengenakan hijab dan baju panjang ketika berurusan dengan kampus. Berhubung kala itu saya baru pulang dari kampus, tentunya pakaian saya masih sesuai dengan yang dianjurkan oleh pemuka agama.

Mendapat perlakuan begitu jelas saya kaget dan membentaknya. Dalam keadaan apapun, tidak sepantasnya dia menyentuh saya seperti itu. Namun, dasar lelaki keparat, responnya setelah itu malah mencibir dan mengelak semua perkataan saya.

Seandainya kala itu tidak ada telepon dari ibu agar segera pulang, bisa jadi keributan bakal terlaksana. Dengan darah mendidih di ubun-ubun, saya sudah menggiring motor ke pinggir dengan satu tujuan: menampar wajahnya dengan sepatu. Sialnya, panggilan ibu memaksa saya untuk melanjutkan perjalanan.

Ketika menceritakan pengalaman ini kepada seorang teman, saya malah mendapati kisah serupa dari dirinya. Satu ketika, di situasi yang hampir mirip, ada seorang lelaki yang menyentuh paha teman saya. Sontak teman saya membentak. Namun memang sial nasib jadi perempuan di Indonesia, orang-orang di sekitar teman saya hanya menoleh sesaat dan kembali sibuk dengan urusannya, tanpa mau ikut campur dalam pelecehan yang terjadi padanya.

Tidak sedikit memang pelecehan seksual yang menimpa perempuan-perempuan di Indonesia. Ada yang ketika sedang berkendara, tiba-tiba diremas payudaranya. Ada yang ketika di kendaraan umum, diremas pantatnya. Bahkan di keramaian, para perempuan masih mendapat siulan-siulan yang membuat hidupnya resah.

Brengseknya, dari semua hal yang terjadi, kesalahan melulu ditimpakan kepada para perempuan yang menjadi korban. Kami para perempuan dihakimi pandangan masyarakat agar berpakaian tertutup dan sebagainya. Padahal ada banyak pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan dengan jilbab dan baju yang panjang, termasuk saya ketika mengalami hal memuakkan itu.

Hal ini telah menunjukkan satu hal yang amat jelas: bahwa pelecehan seksual tidak terjadi karena urusan pakaian. Tapi karena otak mesum laki-laki yang hidup dalam budaya patriarki dan merasa amat berkuasa pada perempuan (yang dianggap) lemah. Yang harusnya disalahkan itu ya si pelaku, bukan malah menyalahkan korban.

Kemudian, satu lagi hal brengsek yang dilestarikan oleh masyarakat kita, adalah stigma negatif yang ditimpakan pada para korban dari pelecehan seksual. “Wah, berarti dia sudah diapa-apain”, “Ih, berarti dia sudah digituin dong”, dan beragam komentar memuakkan lainnya menjadi salah satu penyebab lestarinya budaya pelecehan seksual ini.

Bagaimanapun, stigma negatif tersebut turut mengecilkan nyali korban untuk melaporkan tindakan keji tersebut. Dengan segala ketakutan karena stigma, ada banyak korban yang memilih untuk bungkam dan merasakan trauma seumur hidupnya. Karena itulah, pelecehan seksual, apapun bentuknya, sama sekali tidak boleh dimaklumi. Tidak ada orang yang ingin mengalami tindakan tersebut. Para korban itu membutuhkan pertolongan, bukannya penghakiman dengan segala komentar bijak penuh kesucian.

Kalaupun memang tidak bisa hal semacam itu diharapkan dari masyarakat kita, ada baiknya kita para perempuan yang menjadi lebih berani untuk menghadapi hal-hal semacam itu. Berani melawan ketika pelecehan itu terjadi, dan berani melaporkan tindakan keji tersebut adalah dua hal yang paling bisa kita, para perempuan, lakukan untuk menghindarkan hal-hal itu pada perempuan yang lain. Karena kita memang tidak bisa berharap pada negara, juga masyarakatnya, maka hanya ada satu kata: lawan!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *