Gerakan Sekolah Menyenangkan: Apakah Benar-Benar Menyenangkan?

Muhammad Nur Rizal Novi Poespita Chandra adalah pasangan suami isteri yang menggagas Gerakan Sekolah Mengajar (GSM). Awal mula gerakan ini berawal dari pandangan mereka terhadap pendidikan Indoenesia yang terkesan membosankan. Indikatornya adalah anak mereka sendiri yang malas dan enggan sekolah sewaktu SD.

Sang anak pergi ke Australia bersama bapaknya untuk pindah sekolah. Ketika anaknya pindah sekolah di sana, perubahan gairah sekolahnya begitu drastis. Anak mereka terlihat selalu gembira saat di sekolah. Setelah 6 bulan, sang istri, Novi Poespita menyusul serta membawa kedua anaknya karena mendapat beasiswa kuliah di Melbourne pada 2010.

Sejak kuliah di Australia Novi Poespita pun sering mendapatkan tugas riset yang tak jauh dari anak-anak. Dia meneliti tentang pendidikan dan mental anak. Karena tugas inilah yang membuat Novi sering mendatangi sekolah-sekolah di Australia.

Hari demi hari, Rizal beserta istri terinspirasi konsep pendidikan yang ada di Australia dan berniat ingin mengadopsi dan mempraktekkannya di Indonesia sebagai langkah revolusi sistem pendidikan. Pasangan suami istri ini ingin menghapuskan anggapan bahwa sekolah di Indonesia terkesan membosankan.

Sistem sekolah di Indonesia terlalu fokus pada kuantitas dan angka-angka belaka, sehingga melupakan esensi pendidikan yang seharusnya. Pendidikan yang sebenarnya adalah menganjarkan anak untuk hidup, berkarakter, mengasah talenta, serta memiliki jiwa intelektual yang kuat.

Kini, Gerakan Sekolah Menyenangkan telah dikampanyekan di berbagai daerah, tak terkecuali Tangerang. Pada Oktober 2018 sekiranya 2000 sekolah di Kabupaten Tangerang mendeklarasikan untuk mengikuti gerakan ini. Hal ini digagas oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang seusai melakukan studi banding ke Yogyakarta.

Apakah Gerakan Sekolah Menyenangkan bisa menjadi solusi perbaikan sistem pendidikan di Indonesia?

Bisa jadi iya, ini menjadi langkah awal untuk pendidikan Indonesia ke depannya. Namun, saya pikir langkah ini akan menempuh jalan yang sangat panjang. Perlu adanya kerjasama dari berbagai elemen.

Diketahui langkah-langkah awal yang dilakukan oleh gerakan ini menekankan bahwa perlu adanya perubahan mindset guru. GSM beranggapan ini bisa menjadi titik awal perubahan pendidikan Indonesia. Guru yang kreatif dapat memberikan berbagai metode pembelajaran di dalam kelas dengan suasana yang menyenangkan. Masuk akal, proses kegiatan belajar mengajar akan terlihat hidup ketika sang guru mampu menciptakan suasana yang positif di dalam kelas.

Selama ini sering kali siswa merasa enggan mengikuti kegiatan belajar mengajar karena sudah malas terlebih dahulu karena merasa tidak cocok dengan guru pengajarnya. Bisa saja guru terlalu menekan siswa untuk menguasai materi yang diberikan, atau cara penyampaian materi pengajaran yang terkesan garing.

Mayoritas sekolah yang mendeklarasikan untuk mengikuti gerakan ini mengambil langkah awal dengan memperbaiki serta menambah fasilitas di sekolah seperti toilet, lapangan, dan ruang kelas. Sama halnya di Tangerang, Pemkab tangerang telah mengupayakan di setiap sekolah program GSM terdapat lingkungan yang hijau dipenuhi pepohonan rindang.

Saya pikir penambahan fasilitas dan pengupayaan lingkungan sekolah yang sejuk saja belum cukup. Untuk meraih penghargaan sekolah adipura sih, iya, namun untuk menjadi sekolah yang menyenangkan bagi siswa ya belum tentu. Jika sistem di dalamnya masih itu itu saja.

Saya lihat, GSM saat ini baru mampu mengupayakan agar siswa betah di sekolah serta membentuk proses belajar mengajar yang menyenangkan dan tidak membebani siswa, untuk memperbaiki sistemnya sih belum sepenuhnya. Lah, wong masih tergantung pada kurikulum dari pusat kok.

Saya rasa untuk meningkatkan mutu pendidikan saat ini perlu adanya perubahan pada kurikulum, atau tanpa kurikulum sekalipun. Ya, supaya siswa bebas mengeksplorasi dirinya. Kurikulum saat ini kan terkesan memaksa siswa.

Jika ingin siswa senang selama di sekolah, ya langkah awal yang penting dilakukan adalah mencari tahu apa yang ingin siswa cari di sekolah. Termasuk mencari tahu kenapa siswa sangat senang ketika gurunya rapat dan tidak ada mata pelajaran. Lalu apakah ada upaya untuk meneliti itu?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *