Gadis Pantai: Roman yang Tak Selesai

Pramoedya adalah seorang penulis hebat yang pernah dimiliki Indonesia. Karya-karyanya sudah diakui dunia dan pernah menerima anugerah nobel; sebuah penghargaan bergengsi bagi penulis dunia. Dari sekian banyak karya, Roman Gadis Pantai adalah salah satu yang terbaik.

Gadis Pantai adalah novel trilogi yang hampir punah. Seperti yang disampaikan dalam novel bahwa Gadis Pantai adalah salah satu buku trilogi yang tidak lengkap disebabkan vandalisme(perusakan karya seni) Angkatan Darat yang membuat dua buku lanjutannya hilang. Bahkan roman ini hampir punah sampai Savitri P. Scherer asal Universitas Nasional Australia menyelamatkan novel ini.

Gadis Pantai menceritakan feodalisme bangsawan Jawa. Sebuah sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat. Biasanya lebih bertindak semaunya, atau lebih tepatnya merasa derajatnya lebih tinggi, karena mereka mempunyai jabatan di tatanan masyarakat. Sedangkan orang biasa menjadi objek dari praktek feodalisme ini.

Nah, ini dia. Polemik pribadi saya ketika membaca novel ini. Sejak dulu saya diajarkan tata krama; sistem sosial untuk berprilaku sopan dan santun kepada yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya. Sedangkan di novel ini memperlihatkan pemanfaatan di dalam praktek Tata-Krama yang sudah lama melekat di Jawa. Hingga akhirnya saya pribadi bisa membedakan antaraTata-Krama dan Feodal.

Tata krama adalah sikap saling menghormati, sedangkan feodalisme lebih kepada sikap ingin dihormati karena kedudukannya.

Dengan mengambil latar waktu ketika penjajahan Belanda, Gadis Pantai membuka mata bahwa penjajahan bukan berasal dari orang Belanda saja. Orang pribumi pun ikut andil dalam penjajahan tersebut.

Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang gadis pantai yang diambil(baca;dinikahi) oleh seorang Bendoro yang bekerja pada (administrasi) Belanda. Gadis pantai menjadi istri percobaan sebelum akhirnya Bendoro menikah dengan wanita yang kedudukannya setara. Lebih tepatnya disebut istri percobaan atau istri sementara.

Gadis Pantai kemudian mengalami hidup yang berbeda, terbalik 180 derajat dari kehidupannya di pinggiran kota Rembang. Seorang gadis kampung biasa yang menjadi bagian dari bangsawan. Selain itu, beban dia adalah belajar untuk menjadi bangsawan. Sebuah kehidupan yang kaku. Tidak seperti kehidupannya di pinggir pantai yang bebas.

Setelah beberapa lama dia belajar menjadi bangsawan dan cukup pandai beradaptasi, dia mendapat perhatian dari Bendoro dan mempunyai anak perempuan. Namun malang, setelah dia melahirkan anak perempuannya, dia diceraikan begitu saja tanpa alasan yang jelas dari Bendoro.

Pada akhir cerita, setelah diceraikan, dia memilih untuk tidak kembali ke kampung halamannya karena dia merasa masa depannya sudah hancur. Di samping itu, anaknya tidak bisa dia bawa.

Selain itu, di novel ini membahas bagaimana seorang laki-laki mempunyai kekuasaan penuh terhadap perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti laki-laki.

Dengan bahasa yang ringan dan gampang dicerna, novel ini menjadi rekomendasi bagi perempuan sekarang yang ingin tahu kisah kelam perempuan pada masa itu.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *