Forum Anak Kecamatan Teluknaga : Lilin Kecil yang Tak Kenal Padam

Pada tanggal 28 Oktober kemarin, orang-orang merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan memeriahkan media sosial. Lini massa penuh dengan ucapan selamat, juga unggahan foto dengan tema sumpah pemuda. Pokoknya sekali sumpah pemuda, semua sumpah pemuda. Namun, ada saja orang-orang yang agaknya tidak mau ikut-ikutan kebiasaan mainstream macam tadi. Setidaknya, saya masih menemukan satu dua tweet, dari sebuah akun, yang justru membahas sumpah pemuda dalam konteks yang berbeda.

“Karena merayakan sumpah pemuda itu adalah kesia-siaan. Membuat acara untuk merayakannya lebih-lebih lagi kesia-siaannya,” begitu kata Aditia Purnomo yang dikenal sebagai penyuka Indomie garis keras. “Nah, ini lagi (sambil menautkan gambar) bikin ucapan pake gambar Bung Tomo. Bung Tomo kan nggak ikut kongres sumpah pemuda,” tambahnya.

Agaknya, saya sependapat dengan cuitan tersebut. Perayaan sumpah pemuda harusnya diiringi beberapa tindakan yang membawa perubahan. Misal, kalau teman-teman sudah pernah membaca tulisan Banksasuci dan Sisi lain yang Dilupakan, merayakan Sumpah Pemuda itu dapat dimaknai dengan membangun sebuah gerakan yang bermanfaat bagi banyak orang. Seperti yang dilakukan Banksasuci dengan Cisadane, atau beberapa komunitas literasi yang menggelar lapak baca buku gratis di taman-taman yang ada di Tangerang. Merayakan Sumpah Pemuda bakal terasa sia-sia jika tidak dibarengi sebuah hal yang bermanfaat, saya kira.

Di Teluknaga, Kabupaten Tangerang, ada beberapa pemuda yang membangun inisiasi agar lingkungannya menjadi daerah layak huni bagi anak. Mereka membangun gerakan agar tercipta lingkungan yang edukatif, kreatif, dan tentu mendidik anak-anak agar lebih giat belajar sedari kecil. Sebuah forum belajar akhirnya terbangun pada tanggal 5 Agustus 2015. Menggunakan konsep rumah singgah, forum ini menjadi tempat belajar bersama anak-anak di Teluknaga.

Kelompok bernama Forum Anak Kecamatan Teluknaga ini awalnya berdiri karena Wahyudi, Ketua FakTna, melihat kondisi seorang remaja bernama Latif yang belum bisa baca tulis hingga usia 17 tahun. Keprihatinan Wahyudi semakin besar setelah Ia kembali harus melihat seorang anak Teluknaga harus berhenti sekolah karena persoalan klasik. Lagi-lagi duit.

Berkaca dari lingkungannya, Wahyudi bersama teman-teman menjalankan FakTna dan rumah singgahnya untuk pembinaan anak-anak setiap hari minggu. Dengan tempat seadanya, cuma sebatas halaman rumah Wahyudi, mereka membuat kelas-kelas yang disesuaikan berdasar standar usia. Hanya Latif yang tidak mengikuti aturan umum karena kemampuan membacanya yang terbatas.

Beberapa minggu berjalan, kendala-kendala mulai dirasakan oleh komunitas ini. Anak-anak yang belajar jumlahnya menyusut, tenaga pengajar pun demikian. Wahyudi sang ketua memaklumi hal tersebut. Menurutnya, membantu mengajar di rumah singgah ini memang tidak dibayar. Jadi wajar saja kalau mereka memilih untuk mendahulukan pemasukan.

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang jumlahnya menurun?

Sembari ditemani kopi dan gorengan, saya mengobrol panjang persoalan itu. Dalam penuturan Wahyudi, tidak sedikit anak-anak di Teluknaga yang menyambi kerja sebagai pengamen dan tukang parkir. “Misalnya si Latif dan Rohim itu,” tambahnya.

Sebenarnya para pengurus FakTna kerap mendatangi mereka menggunakan motor bak terbuka untuk mengajak mereka belajar bersama. Sayangnya, beberapa anak menolak ajakan dengan alasan mereka belum bisa belajar karena belum dapat uang. Alasan untuk hidup memang selalu lebih dipentingkan ketimbang untuk belajar.

Menghadapi hal tersebut, konsistensi serta cita-cita FakTna untuk membangun gerakan ini menjadi teruji. Semangat mereka tak redup walau anak-anak memilih uang ketimbang belajar. FakTna terus berproses hingga akhirnya menuai benih yang mereka tanam.

Kini, keberadaan forum mereka semakin diperhitungkan. Makin banyak tenaga relawan yang mau mengajar atau orang-orang yang datang untuk sekadar memberi sumbangan. Sistem belajarnya pun makin mengasyikkan dengan diselingi pembuatan kerajinan tangan untuk dijual. Jadi, anak-anak bisa belajar sambil mendapatkan kemampuan untuk mencari uang dengan kreativitas.

Lalu bagaimana kabar Rohim dan Latif? Rohim kini telah kembali sekolah. Sementara Latif, walau usianya semakin bertambah, Ia tetap semangat belajar bersama anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar.

Perayaan hari Sumpah Pemuda harusnya dimaknai dengan sebuah upaya membangun gerakan semacam ini. Suatu hal kecil, yang dibangun perlahan, namun memiliki konsistensi dan bermanfaat bagi banyak orang. Meski mengalami pasang surut, FakTna telah membuktikan kalau kerja keras tak pernah mengkhianati. Komunitas ini telah memberikan saya pelajaran penting: tak perlu menjadi lampu neon besar yang mudah padam jika terjadi pemadaman, lebih baik menjadi lilin-lilin kecil yang tak padam walau angin meniup kencang.

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *