Firman Utina Dan Kenangan Emas Di Persita

Sepakbola memang tak pernah habis untuk dibahas. Mulai dari formasi apa yang digunakan, pendukung fanatik, pemain kunci, hasil pertandingan hingga rekor-rekor yang dipecahkan oleh pemain. Semuanya memiliki sisi menarik untuk dibicarakan.

Sebenarnya, ngobrol tentang bola tak melulu dengan statistik pertandingan yang menyuguhkan data seberapa banyak pemain menyentuh, menyapu, mengumpan si kulit bundar hingga keefektifan formasi yang digunakan.  Pembahasan tentang pensiunnya seorang pemain pun tetap asik untuk dibahas.

Tahun 2017 ramai pembicaraan publik tentang El Capitano yang mengucapkan salam perpisahaannya kepada penggemar AS Roma. Begitupun Philip Lahm yang turut gantung sepatu di tahun yang sama. Dan di tahun 2018 nanti pecinta sepakbola bersiap-siap untuk mengucapkan good bye kepada salah satu kipper terbaik dunia, Gianluigi Buffon. Sayang, Buffon tidak bisa menutup karirnya dengn manis menyusul gagalnya Italy lolos ke piala dunia.

Di Indonesia, beberapa pemain legenda tim nasional memutuskan untuk gantung sepatu di akhir musim 2016/2017. Mulai dari Ponaryo Astaman, Samsul, Chaerudin, hingga mantan pemain Persita Tangerang, Firman Utina. Iya, Firman Utina, sang playmaker yang pernah mengharumkan nama Persita Tangerang.

Dia adalah gelandang yang memiliki visi bermain yang baik, akselerasi yang luar biasa dan daya jelajah luas. Kita tentu ingat bagaimana assist Firman kepada Budi Sudarsono yang menghasilkan gol cantik ketika timnas Indonesia melawan Bahrain di Piala Asia 2007. Masih kurang? Di pertandingan yang sama, tendangan jarak jauhnya menghasilkan bola rebound yang langsung disambar Bambang Pamungkas. Indonesia pun menang dengan skor 2-1. Dan dialah yang menjadi man of the match.

Tak ada pemain yang langsung bisa bersinar. Semuanya memiliki proses. Firman pun merasakan itu. Memulai karir di tim tanah kelahirannya, Persma Manado, sebagai gelandang tengah pada 1998, pemain yang mendapat julukan “si anak emas Benny Dollo” akhirnya mengikuti jejak sang pelatih hijrah dari tanah Sulawesi menuju Jawa untuk membela Persita Tangerang pada tahun 2000.

Firman Utina dengan segala kelengkapannya akhirnya mampu membawa Persita Tangerang menuju babak Final liga Indonesia 2002. Firman bertandem dengan Uci Sanusi, Carlos De Mello dan Enjang Ruhiman. Dan ujung tombak Persita saat itu, Ilham Jaya Kusuma. Persita menggunakan formasi yang saat ini sedang ramai digunakan, formasi 3-5-2. Namun  Firman tidak berhasil membawa gelar juara. Persita tumbang ditangan Petrokimia Gresik dengan skor 2-1.

Pada tahun selanjutnya dia pindah ke Arema Malang hingga tahun 2007. Dan kembali lagi ke Persita di musim 2007/2008. Selanjutnya, dia membela beberapa tim-tim besar seperti Pelita Jaya, Persija, Sriwijaya FC sampai yang terakhir Bhayangkara FC.

Pria 36 tahun ini memutuskan gantung sepatu dari kancah sepakbola nasional setelah membawa Bhayangkara FC juara liga 1. Seperti kebanyakan pesepakbola yang sudah gantung sepatu, Firman tak ingin jauh-jauh dari dunia yang membesarkan namanya. Ia membangun sekolah sepakbola di daerah Tangerang dengan nama FU15 Akademi dan sudah mengantongi lisensi pelatih C AFC.

Harapan tentu akan selalu muncul seiring keputusan pensiunnya demi majunya sepak bola Indonesia. Di Tangerang, dia berharap pemerintah mencabut fatwa haram MUI tentang sepak bola. Menurut dia, fatwa MUI menghambat perkembangan sepak bola di Tangerang.

Keputusan pensiun sudah diambil. Kita tak bisa lagi menikmati umpan-umpan manjanya yang membuat kita berdecak kagum. Harapan kita tentu sebagai warga Tangerang dapat melihat Firman kembali ke Persita Tangerang dengan segala pengalamannya sebagai pemain untuk mengembangkan sepak bola Tangerang. ‘Jangan sampai maju tak gentar; tapi habis di tengah jalan’ begitulah kutipan semangatnya. Saya membayangkan dia  mengarsiteki Persita dengan visi seperti halnya dia menjadi bagian penting di periode 2002. Semoga kau sukses Firman, dan menjadi Bendol-Bendol lainnya dari tanah Manado.

Komentar

Penyuka karya Dewi Lestari dan berhasrat ingin bertemu sang Supernova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *