Filosofi Burung “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis    : Eka Kurniawan

Penerbit  : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN       : 978-602-03-0393-2

Halaman : 252 halaman

Filsafat bagi sebagian orang itu rumit dan terkesan sulit dipahami. Padahal filsafat dekat sekali dengan kehidupan kita. Seperti ungkapan Jostein Gaader dalam buku Dunia Shopie, ” … the only thing we require to be good philosopher is the faculty of wonder…”. Filsafat masih berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dibangkitkan oleh rasa penasaran terhadap kehidupan sehari-hari.

Bagi pecinta Filosofi Kopi, mungkin sudah pernah mengotak-atik kata untuk menemukan makna dari kehidupan. Pernah melakukannya? Ini salah satu bukti bahwa kita dekat sekali dengan filsafat. Dan kita bisa mengambil nilai-nilai filosofis dari apa saja, atau pernahkah terbesit di pikiran bahwa sebenarnya alat klamin itu memiliki nilai filosofis?

Novel dari Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayaar Tuntas, menggambarkannya.

Namun pernahkah kita mengambil nilai filosofis dari alat kelamin kita? Tidak terpikir oleh kita tentang hal itu sebelum membaca novel dari Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Ajo Kawir sebagai tokoh utama dalam novel ini. Tokoh yang pada akhirnya menjadi jantan karena “burungnya tertidur” dalam waktu yang lama. Burungnya tertidur akibat trauma ketika Ia dan temannya, Si Tokek, ditodong pistol karena mengintip dua polisi memperkosa orang gila.

Ia seorang yang bernyali tinggi, suka berkelahi dan jantan melawan siapapun. “Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir.

Namun ketika menghadapi perempuan, kejantanannya hilang. Ia dikhianati istri yang dicintai yang merasa tidak puas dengan ‘burung yang tidur’. Istrinya berselingkuh. Ajo Kawir membunuh si Macan untuk melampiaskan frustrasinya. Sedangkan Iteung, kekasihnya, membunuh selingkuhannya beberapa saat setelah melahirkan. Mereka dipenjara berpisah dengan kekecewaan dan penyesalan.

Ajo Kawir tetap menyayangi anak Iteung sebagaimana anaknya sendiri dan masih merindukan istrinya walaupun sudah mengkhianatinya. Dendamnya luntur sebagaimana kesedihan-kesedihan yang terpendam pada dirinya namun rindunya belum tuntas karena belum bisa memaafkan Iteung.

Kisah kegagalan asmara membawanya ke dalam perjalanan spiritual yang membuatnya bisa mengendalikan otak keduanya dalam ‘burung yang terlelap tidur’. Dalam perjalanannya, Ajo Kawir menghindari berbagai kekerasan dan memutuskan melanjutkan hidupnya dalam kedamaian. Padahal pekerjaannya sebagai supir truk banyak memaksanya untuk mendapat banyak musuh.

“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala.”

Terlintas dalam benak saya, ‘burung yang tidur’ seperti petapa yang hidup dalam diri Ajo Kawir. Ia terlelap tanpa bisa diganggu tapi dia adalah sumber kebijaksanaan bagaimana Ajo Kawir bisa berpikir bijak karenanya. Ia pernah ditanya oleh Mono Ompong “’Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?”. Dengan enteng Ajo Kawir menjawab,

“kehidupan manusia itu hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.”

Dari novel yang dikisahkan dengan vulgar ini kita memahami bahwa kita bisa mengambil pelajaran dari hal yang peling sering kita temui. Bukan kisah cintanya atau kisah perkelahiannya. Kita ambil sisi filosofi dari alat kelamin yang mengajari otak kedua kita yang kadang menjadi otak utama kita ketika mengeras. Ketika ‘burung tertidur’ kita cenderung tenang, ketika ‘burung bangun’ kita cenderung tidak terkendali.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *