Film-Film Yang Mengandung Unsur Puisi

Puisi merupakan sebuah komponen kata yang dipadupadankan sedemikian rupa. Hal yang  membuatnya seperti mempunyai daya magis adalah tak lepas dari ketulusan hati sang penulis. Untaian kata demi kata dan hati yang tulus serta kejernihan pikiran menjadi jembatan hingga makna puisi bisa tersampaikan.

Puisi bisa menjelma menjadi apapun. Ia bisa menjelma lembut bak kapas putih yang dirajut untuk menjadi penghangat sepasang kekasih—bisa pula menjelma tajam bak mata pisau yang bisa melukai siapapun—bahkan bisa menjelma bak obor membara yang mampu membakar semangat. Namun yang lebih sering masyarakat awam pandang, puisi menuntun pada kebimbangan, kegelisahan, keresahan—menjebak seperti sebuah persimpangan jalan.

Terlepas dari beberapa persepsi tersebut, bahwa sebetulnya puisi termuat dalam beberapa film karena menonjolkan unsur puisi sebagai penghias alur cerita. Dalam dunia perfilman Indonesia, memadukan unsur puisi dalam film menjadi hal yang dapat menarik perhatian khalayak. Yang dapat dibuat terharu, sedih, bahkan menjadi berkobar rasa semangatnya. Dan inilah beberapa film yang memadukan unsur puisi dalam alur ceritanya.

DILAN 1990

Siapa yang tak kenal dengan film fenomenal ini? Film yang berangkat dari sebuah novel karya Pidi Baiq ini berhasil menyita perhatian 6 juta penonton lebih. Kisah percintaan Dilan dan Milea terbilang unik. Dilan menjadi sosok romantis sekaligus misterius dan Milea berbalas perasaan lewat ungkapan hatinya.

 

Baca Juga: Buruh Tangerang Tak Boleh Lupa Sejarah May Day

 

Lewat puisi-puisi Dilan serta gombalan khas anak 90-an berhasil menarik perhatian serta cinta Milea. Penonton pun dibuat senyum-senyum akan tingkah laku Dilan—sosok yang romantis sekaligus berandal!. Puisi kontemporer khas anak muda 90-an menjadi hal unik dalam film ini.

HUJAN BULAN JUNI

Film ini terinspirasi dari novel karya sastrawan Sapardi Djoko Damono. Sebelum difilmkan, karya nya sudah lebih dulu dibuat menjadi lagu, bahkan komik. Di film ini mengisahkan percintaan saling pendam walau berbeda ras antara Pingkan dan Sarwono. Pingkan, perempuan cerdas keturunan chinese yang mempunyai teman dekat yaitu Sarwono yang merupakan keturunan jawa tulen. Sarwono merupakan sosok sederhana, kesehariannya mengajar sebagai dosen. Ia kerap menulis puisi-puisi yang ditujukan kepada Pingkan. Sosoknya yang sederhana namun puitis itulah yang membuat hati Pingkan menjadi terpikat. Adegan yang paling romantis dalam film ini adalah saat Sarwono membacakan puisi yang berjudul Hujan Bulan Juni tepat di tepi pantai.

 

Baca Juga : Melintas Sejarah Etnis Yang Ada Di Tangerang

 

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

Film ini mengisahkan tentang sosok Wiji Thukul, seorang penyair sekaligus aktivis pada masa Orde Baru. Tulisan-tulisan karyanya pada saat itu mengupas tentang segala kesengsaraan yang di derita pada masa Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto. Kekejian rezim, kesengsaraan rakyat serta segala penderitaan lainnya menjadi bahan tulisannya dalam melakukan perlawanan.

Dalam film ini menunjukan sosok Wiji Thukul yang hanyalah berasal dari anak tukang becak namun mampu menjadi momok menakutkan rezim Soeharto kala itu—tak lain, tentu melalui puisi-puisi nya!.

Itulah beberapa film yang didalamnya mengandung unsur puisi, pada setiap alur ceritanya. Barangkali film diatas bisa menjadi referensi kalian dimana hendak menonton film yang syarat akan sisi puisi. Atau menjadi opsi ketika ingin marathon film untuk mengisi waktu luang.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *