Evaluasi Penerapan PSBB dan Tindakan Warga Tangerang Mengantisipasi Corona

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Tangerang Raya nampaknya belum berjalan efektif apalagi jangka waktunya akan diperpanjang. Aduuuhhh, udahlah makin gak jelas aja. Saya berani bilang begitu karena saat PSBB diterapkan semua elemen masyarakat mulanya menyambut baik. Berharap dengan adanya peraturan macam ini mampu menekan angka penyebaran virus corona.

Tetapi fakta di lapangan masih banyak warga yang demen keliaran dan menciptakan keramaian. Ya, jelas-jelas dari namanya saja pembatasan, batas lho, kaya kalian tuh ga diperbolehkan ‘kesana-kemari membawa alfarmart’. Lalu dimana pembatasannya?

Di beberapa daerah khususnya Kota Tangerang saat PSBB mulai diterapkan warga terlibat melakukan pembatasan dengan karantina wilayah kecil-kecilan, memportal atau memageri jalan perkampungan atau daerahnya yang dibatasi pula pada jam masuk maupun keluar.

Entah, saya sendiri tidak tau maksud dan tujuannya itu untuk apa. Apa memang tujuannya melarang orang luar agar tidak masuk ke daerah tersebut atau mungkin hanya sebatas ikut-ikutan PSBB saja.

Jika mereka bermaksud supaya orang lain tidak dapat masuk ke daerahnya. Harusnya dijaga dengan sistem pengawasan dan pemantauan ketat. Tapi apa mau dikata, nyatanya orang yang berada di dalam justru malah keliatan lebih sering hilir mudik dengan bebas.

Artinya karantina wilayah lokal semacam ini masih setengah-setengah. Sejak penerapan PSBB beberapa tempat umum maupun perumahan ambil tindakan dengan menyediakan bilik disinfektan, tempat cuci tangan serta handsanitizer. Namun hanya segelintir orang saja yang sadar kalau itu difungsikan untuk kita supaya lebih steril, bukan buat jadi pajangan atau mikir kalau pakai masker aja sudah cukup.

Meski bagaimanapun, saya pribadi patut apresiasi atas inisiatif seperti ini, contoh kecil baik yang di lakukan masyarakat kita. Tak cukup sampai pada masyarakat Tangerang yang ikut-ikutan waspada saja. Bagi saya penerapan PSBB patut dievaluasi. Hal yang pertama jelas, dari penyediaan alat kebersihan saja kesadaran masyarakat sendiri masih sangat minim.

Kemudian, kalau kita menjumpai pasar ataupun mall di Tangerang, masih banyak orang berdesak-desakan dan acuh pada protokol pembatasan sosial berskala besar ini. Padahal pemerintah sendiri telah mengatur bahwa batas keramaian yang diizinkan hanya lima orang.

Ketidakjelasan seperti ini bagi saya sebagai warga Tangerang malah dibuat bingung. Malahan, anehnya lagi di beberapa minimarket dipaksa oleh aparat tutup lebih awal dari jam operasional biasanya. Untuk apa? Toh, kalau tutup, pasti keesokannya mereka bakal tetap belanja juga.

Di sore hari banyak orang berboncengan sibuk mencari takjil dan mengundang keramaian hingga tak terbendung. Di samping itu pengawasan dari pihak aparat juga dinilai kurang. Pikir saya sih, karena mereka kurang paham mengenai bahayanya virus corona atau mungkin belum begitu paham akan adanya PSBB.

Kalau ditelusuri, salahnya pemerintah juga kurang berani mengambil tindakan tegas, misal, membubarkan paksa apabila ada keramaian di sore hari. Tapi kayanya ga akan juga, secaraaa, mana mau pemerintah menanggung takjil setiap warganya selama pandemi di bulan suci ramadhan.

Baca Juga : Tips Mendapatkan Buku Secara Gratis Maupun Dengan Harga Murah

Menyangkut pada lalu lintas transportasi, penerapan chek point di jalan protokol contohnya, hanya berjalan hingga sore hari setelah itu tidak ada lagi petugas yang menjaga dan melakukan chek point. Lalu apanya sih yang PSBB Lantas kini PSBB diperpanjang hingga 15 Mei, dengan catatan dinilai kurang efektif di masa percobaan pertama. Namun ini jadi berita buruk, setidaknya bagi warga Tangerang Raya yang sudah mulai frustasi dengan pandemi ini.

Bagaimana tidak? Kondisi ekonomi kian sulit, PHK masal terjadi dimana-dimana, dan setiap orang dibatasi ruang geraknya. Beruntung bagi orang kaya yang masih bisa bertahan di pandemi ini, namun tengok pada rakyat miskin kota yang tidak tau harus mencari uang kemana dan tidak tau lagi harus bergantung pada siapa.

Bantuan dari pemerintah tak kunjung datang, kalaupun ada pasti tak merata.  Jika kondisinya seperti ini terus, bisa-bisa Indonesia bakalan krisis ekonomi. Jika perpanjangan ini tanpa konsep yang jelas dan evaluasi dari PSBB yang sebelumnya diterapkan.

Maka, saya rasa percuma saja PSBB ini diperpanjang dan akan sama seperti tahap pertama yang cuma menjalankannya setengah-setengah. Sejatinya, titik terang ada di kepala daerah masing-masing yang harus fokus dan berani mengambil langkah yang lebih serius, karena masyarakat Tangerang Raya berharap penuh kepada kalian.

Sudah cukup kita terus berkutat dengan keadaan seperti ini, semua orang ingin hidup normal seperti biasa lagi. Bisa sekolah, belanja, nongkrong, bekerja dan menghabiskan waktu dengan keluarga atau sahabat tercinta.

Maka dari itu tentunya kita harus bisa mewujudkan itu semua dengan mamahami aturan PSBB sebaik-baiknya, selama PSBB berlangsung  saya harap tidak ada lagi warga Tangerang yang masih saja melanggar peraturan. Kesadaran diri harus lebih ditingkatkan, mengingat kondisi saat ini yang kian parah. Semoga diperpanjangnya PSBB ini bisa memberikan dampak positif bagi kita semua.

Baca Juga : MEMBACA EKA KURNIAWAN

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *