Entrok: Bukan Sekadar Bra

Ini pertama kalinya saya membaca karya Okky Madasari. Awalnya saya mengira karyanya yang berjudul Entrok ini adalah novel dewasa. Judulnya, jika diartikan ke bahasa Indonesia memiliki makna bra. Sampulnya sih nggak vulgar-vulgar amat, cuma gambar perempuan lagi masang bra kok. Simpel, tapi bikin saya berpikir isi novel ini bakal berkisah tentang seks, jadi saya sangat tertarik untuk membacanya.Ternyata, setelah dibaca, saya menyadari sesat pikiran karena melihat buku dari sampulnya. Novel ini, jangankan mirip Enny Arrow, bercerita kisah ranjang seperti Eka Kurniawan saja tidak. Pikiran ngeres dari kepala saya itu betul-betul memalukan, apalagi jika saya membandingkannya dengan isi buku ini.

Entrok hanya sebuah judul untuk menarik minat pembaca terutama pembaca yang tertarik pada kisah-kisah  intim orang dewasa. Untuk orang jawa, judul tersebut membuat matanya melek dan heran kenapa ada penulis sevulgar ini. Sebuah bra atau ‘beha’ dijadikan judul buku. Dan bagi mereka yang bukan orang jawa akan penasaran dengan kata Entrok. Mereka akan bertanya-tanya apa itu Entrok.

Nyatanya, judul dan inti cerita sama sekali tidak ada kaitannya. Bahkan judul buku hanya disinggung di awal saja. Di saat Marni ingin sekali menggunakan Entrok seperti orang-orang berduit. Selebihnya, cerita lebih berkutat pada feminisme, agama dan sosial politik. Saya hanya bisa mengira kalau judul buku ini hanya jurus jitu untuk menarik pembaca. Jika pembaca sudah terpikat, ya mau tak mau mereka tenggelam dalam ceritanya.

Dalam novel ini, Okky menggambarkan kontradiksi agama pada sosok Marni dan Rahayu. Mereka adalah Ibu dan Anak yang berbeda 180 derajat dalam keyakinan. Marni sebagai ibu yang masih percaya kepada leluhurnya sedangkan Rahayu sebagai anak terdidik oleh aturan agama yang taat.

Dalam segi kepercayaan, novel ini sangat mendalami ajaran leluhur Jawa. Ajaran yang dianut oleh Marni. Di Jawa memang ada kepercayaan menyembah leluhurnya. Mereka memberi sesajen kepada alam yang mereka sebut Ibu Bumi Bapa Kuasa. Sampai sekarang kepercayaan seperti itu masih ada.

Hanya saja kegiatan seperti itu mengalami proses akulturasi. Sampai seperti tidak  ada bedanya antara  penyembah leluhur dengan  yang taat. Hal ini kadang masih dianggap sesat sebagian kelompok yang taat. Padahal, urusan kepercayaan adalah urusan pribadi masing-masing.

Di satu sisi, Okky menggambarkan feminisme pada sosok Marni sebagai wanita yang gigih dan penuh ambisi. Namun, kelemahannya tetap ditonjolkan ketika Marni berurusan dengan penguasa. Marni yang tangguh tetaplah wanita. Sedangkan Rahayu adalah anak yang terdidik dari bangku sekolah. Apa yang Rahayu pelajari dan yakini di sekolah berbanding terbalik ketika melihat ibunya, Marni. Ini menjadi konflik kepercayaan yang seru melibatkan ibu dan  anak. Walaupun begitu, Rahayu juga wanita utuh yang tetap merindukan kasih sayang ibunya.

Persoalan sosial politik menjadi pokok utama dalam novel ini. Okky menggambarkan penguasa saat itu sangat kuat dan rakyat menjadi kebo yang selalu manut pada tuannya. Menurut saya, keberanian Okky yang sebenarnya adalah ketika menceritakan bagian ini. Cerita tentang sosial politik ini menjadi referensi  yang lain. Di mana pihak pemerintah tidak selalu berada pada posisi yang benar. Sentuhan dalam cerita cukup menggambarkan situasi politik pada masa orde baru. Kekuasaan yang otoriter.

Oh ya, Okky termasuk berani memasukkan isu-isu tentang PKI. Sebuah partai yang kalah waktu itu. Ini bisa dilihat ketika tentara-tentara selalu menuduh rakyat yang menentang dengan cap orang PKI. Dan orang PKI kala itu harus hidup susah. Jadi, hidup orang PKI atau bukan tetap tak sebebas sekarang. Yang tidak setuju kebijakan pemerintah, dianggap PKI. Lalu hidup mereka susah. Apalagi PKI, tidak mungkin bisa hidup.

Secara keseluruhan novel ini cukup bagus. Walaupun cerita ini diambil dari dua sudut pandang, namun ceritanya mengalir dengan bahasa yang renyah. Novel ini sangat recommended dipajang di rak buku untuk dibaca kala sepi dan ditemani kopi.

Novel Entrok | Sumber: Prelo.co.id

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: Gramedia Pustaka

Jumlah halaman: 288

ISBN: 978-979-22-5589-8

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *