ENDORPHIN: Tentang Hal Ketidakjelasan Jadi Sebuah Penghilang Rasa Sakit Terbaik

Saat saya bertemu dengan buku Endorphin. Di saat itu pikiran sedang kalut, terhimpit berbagai macam masalah, pokoknya sulit dirumuskan dan kepada siapa saya ingin lampiaskan keluh kesah nampaknya pun susah. Barulah titik cerah naik ke permukaan ketika saya ambil sebuah buku yang nampak terkesan aneh.

Saya telusuri terlebih dahulu definisi dari kata Endorphin. Di keterangan KBBI termuat bahwa Endorfin adalah zat penghilang rasa sakit terbaik. Okelah kalau begitu sekiranya selaras dengan niat saya agar rasa sakit ini dapat terobati. Lanjut, saya terjun untuk mengikuti alur ceritanya.

Dalam buku Endorphin berisi 22 kumpulan cerita, tentang raja, penyihir, pulau, laut, orang mati, malaikat, dan hal-hal konyol lainnya. Di sisi lain, hal yang menarik yang dimiliki buku ini saat kisah telah tamat, tapi tokoh dapat muncul kembali di situasi cerita yang berbeda. Tidak hanya satu tokoh saja, melainkan beberapa tokoh hingga mereka bertemu dan terungkap karakter antagonis maupun protagonis nya.

Seperti kisah misteri yang terjadi pada Suleiman, Boris, Rudolfo dan Eduardo, DR. Timotius dan dr. Kunkun. Mereka semua bertemu perlahan-lahan ketika terjebak di dalam kastil yang menyeramkan. DI dalamnya berisi banyak vampir dan tentunya mempunyai Raja dan Nenek Moyang vampir yang punya watak jahat. Sesaat sebelum konflik itu berakhir, saya melihat ada tokoh yang mempunyai relevansi kuat dengan sang vampir, bersumber dari kisah cerita di bagian-bagian halaman awal. Tapi, jujur ketika saya katakan bahwa Suleiman adalah orangnya, Anda pasti timbul Praduga. Kecuali bagi yang sudah kenal Suleiman sebagai sosok perenung pemberani yang mengenyam S2 jurusan ilmu kebatinan dengan mata kuliah Materialisasi.

Penugasan tokoh-tokoh yang cerdik, dungu, gagah, serakah, sombong dan penuh tipu muslihat ada dalam tokoh-tokoh buku Endorphin, yang sebenarnya merupakan wujud nilai representatif di kehidupan nyata manusia. Demikian pada satu cerita yang sangat saya suka, berjudul Granat. Ketika Suleiman berhasil lulus magna cum laude dan menjadi pelatih akademi mliter. Ia memerintahkan beberapa calon prajurit untuk mengigit granat di mulut hingga meledak. Atas perintahnya itu banyak yang berpura-pura dan gagal. Yang saya tak habis pikir akhirnya ada yang tertarik. Mengigit dan melemparkan ke kumpulan calon prajurit.

“Seorang panglima kecil melangkah ke depan. Ia mengambil granat, menarik kunci pengaman, menggigitnya. Lalu secepat kilat meludahkannya kearah barisan. Granat meledak seketika. Tiga orang tewas, sisanya luka-luka.”

“Guoblok! Kenapa kau ludahkan granat itu ke tengah barisan?”

“Siap! Aku enggak suka rasanya. ASEM Komandan!”

Buku ini juga bisa dibilang super absurd, keanehan-keanehannya mengajak saya untuk berpikir dari batas normal. Ditambah lagi dengan beberapa ilustrasi rupa yang membuat saya banyak menerka dan wujud yang ada pada setiap cerita. Namun secara logika saya sendiri berpikir ini tentu ada kaitannya.

Inilah yang mungkin melatarbelakangi R.E Hartanto selaku penulis buku Endorphin untuk mengemas kumpulan ceritanya dengan rupa agar banyak menerka dan membuat kesan supaya pembaca tidak cepat merasa jenuh. Saya apresiasi maksud dan tujuan beliau tersebut kiranya apabila tidak tersirat. Namun, malangnya saya tidak dapat memahami rupa tersebut, mungkin kalian yang mengerti rupa dapat memahami maksud gambar di beberapa cerita ini.

Tapi saya sarankan apabila ingin membaca buku ini janganlah separuh hati, jangan juga sampai tersendat-sendat dan melompat ke bagian yang hanya ada sisi menariknya saja. Sebab, meski kumpulan cerita ini sangatlah pendek haruslah tetap baca secara berurutan. Karena seperti yang sudah saya katakan tadi bahwa ada beberapa karakter yang dimunculkan kembali, semacam ada benang merahnya, sehingga pembaca akan nyaman dengan sudah mengenal tokoh-tokoh tersebut di permulaan.

Endorphin bukan sebuah buku duka atau malapetaka, justru saya melihat ketakutan dimana Anda merasa kesal sendiri bahwa alur yang disajikan penuh ketidkjelasan dan mengandung banyak satire. Buku yang mencoba mengajak untuk bermain imajinasi ini sangatlah cocok bagi yang suka berandai-andai khususnya tentang keanehan, hal ganjil yang biasanya jarang terjadi dalam hidup. Bagaimana rasanya mati dan membantai manusia dengan seketika, daraha-darah yang berceceran hingga aksi seorang pembunuh yang mulanya melakukan demi uang beralih menjadi keseringan membunuh demi dapat melihat wajah teman masa lalu yang tewas di tangannya. Itu semua dimunculkan di beberapa cerita buku ini.

Bila sakit hati. Bacalah Endorphin dengan senang hati

 

Judul                           : Endorphin: Kumpulan Cerita dan Rupa

No. ISBN                      : 9786021318379

Penulis                         : R.E. Hartanto

Penerbit                       : Buku Mojok

Jumlah Halaman           :164

Kategori                        : Fiksi

 

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *