Elang Terbang Kolektif: Acara Musik Sampai Jalinan Kasih

Rasanya Tangerang sudah lama dikenal hanya sebagai tempat industri, penyangga Ibukota, dan banyak memuat perantau. Jarang terdengar berita lain, selain kasus kriminal yang kadang aneh-aneh. Mungkin naasnya, mereka datang di saat pandemi seperti ini, tidak dapat menikmati acara musik hingga festival yang sering diadakan di kota ini.

Pernah suatu hari, seseorang yang berasal dari luar Tangerang mencibir “Tangerang mah gak ada hiburan apa-apa..” dengan santainya di depan saya. Tidak bermaksud primordialis, namun sebetulnya ada banyak hiburan yang cukup menarik.

Salah satunya adalah Elang Terbang Kolektif. Sebuah grup kolektif penyelenggara acara musik dari Tangerang yang diprakasai 13 orang di belakangnya. Saya berhasil mewawancara seorang di antaranya: Gerry, yang mana juga seorang vokalis dari band asal Tangerang: Hong.

Ketika ditanya mengapa namanya Elang Terbang Kolektif, Gerry menjawab “biar kayak Elang Indosiar. Agar terbangnya bisa semakin tinggi.” Mereka memiliki slogan: Menjadikan Tangerang yang barokah, amanah, sakinah, dan salahudah!

Baca Juga : 3 Rekomendasi Toko Buku Ciamik Di Tangerang

Elang Terbang Kolektif terbentuk pada 10 Mei 2017 di Jogja Studio yang ada di Cimone. Bertujuan membantu band luar untuk tour ke Indonesia melalui Tangerang. Agar tempat ini juga masuk ke dalam mapping tour dunia. Tentunya acara ini juga sering diadakan di Jogja Studio karena akses yang mudah.

Awalnya konten yang dibuat bernama Salahudah, kemudian disusul konten lain: Berhura-hura, yang khusus dibuat untuk tur band lokal. Terhitung sudah banyak sekali musisi yang bergabung di acara ini, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya: Swedia, Perancis, Inggris, Denmark, hingga Amerika Serikat.

Tidak dibatasi genre musik, apa saja diperbolehkan tampil dalam acara ini. Emo, math rock, noise, garage rock, punk, bahkan folk pernah tampil sebelumnya. Namun garis besarnya yang dimuat adalah band D.I.Y alias Do It Yourself, yang melakukan semuanya sendiri. Dari memproduksi lagu, hingga memasarkan karyanya yang dilakukan mandiri oleh musisi tersebut.

Tapi nyatanya, ini bukan hanya sekadar acara musik. Gerry dan kawan-kawannya pernah membantu seorang solois Perancis untuk menemukan kembali keluarga aslinya.

Musisi ini lahir di suatu daerah di pulau jawa namun diadopsi oleh orang tua angkatnya yang kewarganegaraan Perancis. Sampai dia tumbuh besar di sana. Acara jalinan kasih dan sejenisnya yang penuh gimmick di televisi itu tidak apa-apanya menurut saya dibandingkan dengan ini (halo harry tani).

Mereka juga pernah mengadakan dua kali gig yang hanya dipersiapkan satu hari sebelumnya. (Bandung Bondowoso and their evil friends left the chat).

Ketika ditanya apa saja kendala yang dialami selama empat tahun membuat acara ini, Gerry mengaku tidak ada. Sebab, dia dan teman-temannya melakukan ini atas dasar senang-senang dan ikhlas. Jadi mereka tidak merasakan beban sama sekali.

“yah pandemik aja yang bikin semua jadi harus berhenti sementara” tambahnya.

Untungnya, kini pandemi nampaknya tidak semakin parah. Sudah mulai bermunculan lagi acara yang memuat banyak orang, dari pernikahan meriah dengan banyak tamu, perkuliahan, sekolah tatap muka, hingga acara musik yang diadakan langsung.

Termasuk juga gig Elang Terbang Kolektif yang sudah berlanjut lagi. Mereka berharap, ini akan terus berlanjut dan bisa terus membantu musisi untuk tur di Indonesia, khususnya Tangerang.

Untuk kalian yang ingin menonton acara ini, silakan datang ke Jogja Studio yang ada di depan Plaza Sinta. Harga tiket yang sangat terjangkau, dengan suguhan musik yang bagus, rasanya sayang buat dilewatkan. Untuk info selengkapnya, bisa disimak di akun instagram mereka di @elangterbangkolektif

Baca Juga : Tips Membeli Buku Agar Tak Berperilaku Implusive Buying

Komentar
Puspita Anggraini

constantly posting about cats on her socmeds.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *