Egosentris: Sudut Pandang yang Berbeda

Beberapa bulan lalu saya dibelikan sebuah novel berjudul Egosentris. Novel ketiga dari Syahid Muhammad. Buku ini bergenre romantis dan menurut saya tidak mengecewakan. Setidaknya saya mendapatkan beberapa pelajaran dari novel ini.

Sebelum novel ini ada, Syahid Muhammad telah telah menulis novel Kala dan Amor Fati, hadil kolaborasi dengan Stefani Bella. Bisa dibilan Egosentris adalah debut buku tunggal pertama dari Syahid Muhammad sekaligus menjadi buku ketiganya.

Egosentris sendiri bisa diartikan ketidakmauan seseorang untuk melihat dari perspektif orang lain. Hal ini bisa dilihat dari isi cerita buku ini. Novel ini bercerita tentang tokoh-tokoh yang memiliki banyak perbedaan sudut pandang. Tokoh dalam novel, Fatih, mengalami mental illness bersama kedua sahabatnya, Fana san Saka. Mereka bertiga adalah mahasiswa psikologi di salah satu universitas di Bandung. Mereka bersahabat sangat erat meskipun memiliki karakter dan latar belakang yang amat berbeda.

Diketahui meskipun Fana dan Saka telah menjadi sahabat Fatih sejak lama namun mereka menganggap belum mengenal tentang Fatih sepenuhnya. Fatih selalu memendam rahasia di balik dirinya, mereka menganggap Fatih memiliki kepribadian ganda dan sifatnya sangat susah untuk ditebak.

Awalnya saya merasa bosan membaca novel ini. Di awal ceritanya terkesan datar, terlalu klasik dan dengan sombong saya menebak ending ceritanya. Namun saya salah, setelah saya baca lebih lanjut hingga pada puncak konflik tebakan saya semakin jauh.

Fatih mempunyai masa lalu yang kelam perihal kematian ayahnya yang meninggal dikeroyok orang karena dituduh mencopet. Ia dan keluarga pun begitu terpukul. Sampai akhirnya Fatih merasa geram mendengar dan membaca berita tentang ayahnya di berbagai media yang tidak sesuai kenyataan. Bahkan Ia menjadi sangat benci dengan postingan-postingan yang ada di media social. Menurutnya, orang-orang yang ada di media sosial membuatnya muak!

Akibat kejadian itu Fatih deresi dan mengalami mental illnes (gangguan mental). Semenjak itu Ia menjadi penuh dengan misteri. Ia menjadi sangat susah menerima perspektif orang lain. Puncaknya, Ia menjadi sangat sensitif terhadap orang-orang yang sering berkomentar di media sosial. Kerap juga terjadi cek-cok dengan teman kampus atau kedua sahabatnya hanya karena perspektif yang berbeda dan dengan sosok yang keras kepala.

Fana dan Saka setia mendampingi hari-hari Fatih. Meskipun terkadang mereka berdua kesal dengan sikap Fatih yang keterlaluan egois. Namun mereka tetap sabar mendampinginya, sedangkan teman-teman kampus yang lain lebih memilih menjauh.

Penulis begitu lihai dalam mengemas ceritanya, kalimat-kalimat yang dipakai pun sukses dalam membentuk emosi pembaca. Endingnya pun benar-benar menyentuh perasaan. Tak disangka-sangka penulis akan menutupnya dengan demikian rupa hingga membuat pembacanya tercengang seperti saya ini.

Dalam berbicara kita juga perlu melihat psikis seseorang. Mungkin, bagi sang penutur kata-kata yang dilontarkan terasa biasa saja, namun bisa saja dari pihak pendengar kata-kata terasa sangat menyakitkan. Setiap orang memiliki perasaan dan perspektif yang berbeda, maka dari itu kita pun harus menghargainya agar tidak melukai orang lain.

Tentu di balik kepribadian seseorang pasti ada sebab-akibat kenapa kepribadian itu muncul. Seperti halnya Fatih yang memiliki masa lalu yang sangat pedih, bahkan ketika dewasa pun ia masih harus merasakan kepedihan yang mendalam. Dari novel ini saya juga belajar, bahwa terhadap sesama kita harus saling memahami satu sama lain.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *