Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Dibalik Marchela FP dan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Marchella FP, bagi saya, adalah penulis yang brilian dan cerdas. Dua hal itu lah yang membuat karya-karyanya mampu punya ruang sendiri di hati kita. Generasi 90an yang membuat kita bernostalgia, serta Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yang membuat temlen media sosial kita ramai, eh, maksud saya, yang membuat kita merasa bahwa apa yang kita rasakan ini memang harus diceritakan.

Saya tidak asal bicara bahwa Kak Chella –saya ngga tahu nama panggilannya- itu brilian sekaligus sekaligus cerdas, karena dibalik dua buku yang laris itu, ia berhasil mewujudkan apa yang ia cita-citakan. Khususnya Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, buku ini dibuat dengan harapan yang sangat oke mantap: agar toko-toko buku kembali ramai.

Respon masyarakat yang luar biasa kemudian membuat NKCTHI diangkat ke film yang akan tayang bulan ini, trailernya disambut meriah. Saya adalah satu dari sekian banyak orang  yang ingin menonton film yang ini. Kisahnya menarik, bercerita tentang Awan, seorang ibu yang menulis cerita untuk anak-cucunya di masa depan. Meski sampai sekarang tidak tahu akan menonton dengan siapa.

Tapi, kita semua perlu tahu, dibalik kedua buku yang membuat nama Kak Chella –sekarang saya jadi sok kenal- ini melejit, ada banyak cerita yang membuat saya kagum. Buku pertamanya ternyata adalah sebuah tugas akhir; skripsi. Siapa sangka, skripsi yang sepengalaman saya bajingan ini ditangannya bisa menjadi buah pikiran yang disenangi banyak orang.

Meski sempat ditolak oleh beberapa penerbit, bukunya akhirnya terbit dan mendapat respon yang luar biasa. Bagi saya, buku itu adalah sebuah gambaran jika kebahagiaan bisa kita rasakan dengan sederhana, hanya dengan bertamsya waktu, selain soal kemasannya menarik, ternayata mengenang apa yang terjadi pada 90’an memang menyenangkan.

“Suatu saat nanti, kalau aku sudah enggak di bumi, aku ingin meninggalkan buah pikirku. Seperti juga yang ditulis oleh beliau (Buya Hamka, idolanya)” saat sesi wawancara dengan craftres.

Saya tidak ingin membahas lakunya Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yang entah sudah dicetak berapa kali, karena yang membuatnya menarik memang soal bagaimana ia mengemasnya. Seolah sadar di era digital itu penting, Kak Chella, menyentuh banyak ruang dengan quote-quote tentang kehidupan dengan desain yang menarik di instagram. Banyak mungkin yang menggunakan formula ini, tapi yang jadi pembeda, cara bertuturnya memang sederhana tapi punya banyak makna.

Buku ini juga digarap dengan waktu yang lama, butuh 2 tahun. Karena menurut penuturannya, ia sangat sulit mencari mood menulis. Tapi coba lihat, apa yang ditulis dengan tulus memang membuahkan banyak hasil, IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menobatkannya sebagai Writer of The Year 2019.

Memang tidak semua orang otomatis suka dengan NKCTHI, tapi entah kenapa, buku ini menurut saya sangat personal dan dekat dengan apa yang dialami oleh manusia, khususnya saya. Marchella, menyederhankan apa yang sebenarnya kita rasakan tapi sulit diungkapkan. Semua seolah tentang memori, tumbuh, berkembang, jatuh, bangkit, cara pandang, serta beberapa hal yang membuat kita ketakutan.

Saya jadi ingat ketika beberapa tahun lalu diajari menulis oleh Cak Ibil. Dalam satu jeda saat semua diam, Cak Ibil bilang “saya itu orang yang percaya jika setiap kata itu punya ruh, dan kalimat-kalimat itu hidup” . Iya, guru saya benar, hari ini saya sadar Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini membuktikan itu.

Terakhir, saya akan tuliskan salah satu quote yang bagi saya terekam secara spontan dari buku itu:

Pulang jadi kata paling nyaman

Setelah proses pencarian panjang

Nanti kita cerita tentang hari ini

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *