Daar El-Qolam: Setengah Abad Mencerahkan Negeri

Pesantren adalah salah satu tempat kita belajar dan memperdalam ilmu agama. Dan dari pesantren-pesantren pula-lah banyak melahirkan tokoh-tokoh agama islam yang sangat berpengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sabtu, 20 januari 2018 kemarin Pondok Pesantren Daar El-Qolam yang berlokasi di Jalan Raya Serang KM. 35, Pasir Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten.  Merayakan hari jadinya yang ke 50 tahun. Pesantren yang berdiri sejak tahun 1968 oleh Drs. K.H. Ahmad Rifa’I Arief ini sudah menjadi pesantren terkemuka. Meski semuanya membutuhkan proses. Dengan santri yang awalnya cuma berjumlah 22 orang, kebanyakan mereka mulanya berasal dari sanak keluarga. Tapi kini para santrinya datang tidak hanya dari warga Tangerang, bahkan sudah menjangkau hingga ke luar pulau Jawa.

Maka tak heran, tepat perayaan 50 tahun kemarin banyak tamu-tamu spesial yang datang untuk ikut merayakan hari jadinya, dari Mantan Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, mantan panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo, hingga bapak bupati Kabupaten Tangerang Zaki iskandar pun turut hadir meramaikan.

Pondok yang sudah lama berdiri ini pun telah banyak menghasilkan para santri-santri yang berkontribusi besar untuk Indonesia. Salah satu santri yang kita kenal luas adalah pendakwah kondang Alm. Ustad Jefri Al-Buchori. Beliau merupakan jebolan dari ponpes yang terkenal ini.

Kini dengan semakin megahnya bangunan dan sistem pengelolaan yang baik, ponpes ini sekarang sudah menampung lebih dari 5000 santri. Dan sudah memiliki empat institusi, Daar El-Qolam 1, Daar El-Qolam 2, Daar El-Qolam 3, dan Daar El-Qolam 4.

Para santri ini di didik dengan diajarkan ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum melalui metode berbasis yang serupa seperti sekolah. Penanaman disiplin dalam hidup dan ibadah juga menjadi hal yang prioritas, dengan harapan agar para santri memiliki bekal wawasan pengetahuan yang cukup dan tetap disiplin dalam urusan agama sebagai makhluk Tuhan yang taat, santun dan toleran.

Kegiatan para santri ini pun tak hanya di kelas dengan memperdalam ilmu pengetahuan umum dan agama. Para santri juga dapat menyalurkan bakat-bakatnya dengan bergabung dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler. Begitu banyaknya pilihan kegiatan ekstrakulikuler membuat para santri dapat memilih dimana mereka benar-benar bisa menyalurkan hobi dan keahliannya tersebut. Meski ada beberapa santri yang memilih eskul sebagai alternatif mengisi waktu luang saja. Ya, tentu tak apalah asalkan produktif.

Keseharian para santri nya pun tergolong padat. Mereka harus bangun pukul 04.00 untuk segera menuju masjid dan bertadarus. Kemudian dilanjutkan sekolah dan mengikuti berbagai macam kegiatan pengajian. Dan terakhir ditutup Menjelang petang dan malam sehabis solat isya dengan belajar bersama.

Kegiatan yang padat ini dapat dinikmati oleh santri karena memang sudah menjadi rutinitas nya mereka. Di tambah lagi dengan fasilitas yang mencukupi, seperti perpustakaan, laboratoruim, koperasi dan kantin.

Yuni Novita selaku alumni menggambarkan sedikit bagaimana ponpes itu memiliki kedekatan emosional kepadanya. “disana saya belajar selama 6 tahun untuk tahap tsanawiah dan aliyah. Disana pula kami belajar bagaimana rasanya ikhlas dan sabar. Daar El-Qolam adalah rumah, tempat yg tidak bisa kami temukan dimanapun, disana bukan jadi persoalan makanan dan ruang tidur nya yang tidak ber-AC. Tetapi momen dan suasana damailah yg selalu membuat kami sebagai santri selalu rindu.”

Harapan tentunya muncul seiring dengan bertambahnya usia ponpes. Rifka Dwi Aryanti sebagai alumni yang turut hadir di hari perayaan itu juga mengungkapkan “Semoga Daar El-Qolam semakin berjaya,sukses, dan teruslah menjadi sarana mulia bagi insan penerus bangsa. Tetaplah menjaga amanah,merawat tradisi dan merespon modernisasi.”

Komentar

Penyuka karya Dewi Lestari dan berhasrat ingin bertemu sang Supernova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *