Daan Mogot yang Bukan Sekadar Nama Jalan

Selama ini masyarakat kita kerap mengenal nama Gatot Subroto atau TB Simatupang sekadar sebagai nama jalan. Kalau Soedirman, memang sebagian kita masih mengingatnya sebagai seorang jendral besar yang jadi pimpinan pertama angkatan bersenjata kita. Tapi kalau yang lain, agaknya tidak banyak yang tahu.

Hal serupa juga menimpa nasib Daan Mogot. Nama tersebut memang menjadi jalan yang terbentang sepanjang Tangerang-Jakarta. Menjadi jalan besar yang menghubungkan kota ini dengan ibukota. Menjadi jalan tempat orang mengais rezeki setiap harinya. Sebatas itu saja pengetahuan umum soal Daan Mogot yang kepahlawanannya cukup melegenda di Tangerang.

Jarang agaknya yang tahu kalau pemuda asal Minahasa ini adalah pejuang yang gugur di Tangerang kala mempertahankan kemerdekaan Republik dari para penjajah. Upaya pendirian akademi militer darurat yang dinamai Militaire Academie Tangerang tak lepas dari keberadaannya.

Lahir dengan nama lengkap Elias Daan Mogot pada 28 Desember 1928 di Manado, Ia hidup dalam lingkungan keluarga polisi dan tentara. Ayahnya, Nicolaas Mogot adalah pejabat pemerintahan di Hindia Belanda. Ia pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat pada masa penjajahan), dan membawa serta keluarganya kala untuk pindah ke Batavia.

Karir militer Daan bermula kala Ia berusia 14 tahun. Saat itu, Belanda baru saja menyerah pada Jepang dan tentara Nippon mengambil alih kekuasaan politik di Hindia. Ia menjadi salah satu anak muda yang terpilih untuk mengikuti latihan Seinen Dojo (Pelatihan Pemuda) di Tangerang. Setelah lulus dari pelatihan ini kemudian Daan bergabung dengan barisan Pemuda Tanah Air yang merupakan kelompok tentara sukarela buatan Jepang.

Saat bergabung dengan PETA, Daan diberi pangkat sebagai Shodanco atau Letnan dalam strata perpangkatan hari ini. Ia menjadi salah satu anggota termuda karena waktu itu baru berusia 15 tahun. Meski berusia muda, dalam pengakuan beberapa orang Daan dikenal sebagai sosok cerdas. Karena itu Ia pernah ditunjuk menjadi asisten instruktur pelatihan militer anggota PETA di Bali.

Pada masa cemerlang karirnya di militer, pemerintahan Jepang justru menyerah pada sekutu. Saat itu, Ia beserta rekan-rekannya di PETA harus memilih berada di sisi mana: sekutu atau Republik Indonesia yang baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya. Dan Ia memilih berada di pihak republik dengan bergabung bersama Barisan Keamanan Rakyat dengan pangkat Mayor.

Untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman sekutu, Daan Mogot kemudian mendirikan akademi militer Tangerang untuk mendidik perwira guna perjuangan revolusi kemerdekaan. Di usianya yang masih terbilang remaja, 17 tahun, Ia telah menjadi pimpinan dari sebuah akademi militer untuk orang sebayanya. Semua itu terjadi pada bulan November 1945.

Baru dua bulan akademi berjalan, Daan Mogot harus gugur setelah pecah pertempuran senjata antara pasukannya dengan pasukan Jepang yang menolak menyerahkan senjata pada Republik. Pada awal masa kemerdekaan, para tentara Jepang yang telah kalah memang dipaksa untuk menyerahkan senjatanya pada pasukan republik. Sayang, tak semua tentara Jepang mau menyerahkan senjatanya, seperti yang terjadi di Lengkong ini.

Semua bermula dari upaya perundingan agar tentara Jepang menyerahkan senjatanya secara sukarela. Namun kala perundingan antara Daan Mogot dan pimpinan tentara Jepang berlangsung, di luar justru pecah pertempuran antara pasukannya dengan tentara Jepang. Berada di markas musuh dengan persenjataan yang terbatas menjadi alasan kekalahan mereka. Daan Mogot tewas, beserta rekan dan anak-didiknya.

Beberapa hari kemudian mereka yang tewas dimakamkan di dekat penjara anak Tangerang yang kini menjadi Taman Makam Pahlawan Taruna. Dalam pemakaman itu hadir petinggi militer Tangerang juga tokoh seperti Sutan Sjahrir.

Puluhan tahun berlalu, Daan Mogot pun diangkat menjadi Pahlawan Nasional Nasional karena jasanya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di Lengkong, tepat di lokasi pertempuran tersebut terjadi juga didirikan sebuah monumen yang dinamakan Monumen Lengkong. Tanggal 25 Januari yang menjadi hari saat pertempuran itu terjadi juga diperingati sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer.

Dan tak ketinggalan, tentu saja, nama Daan Mogot turut diabadikan sebagai nama jalan yang membentang sepanjang Kota Tangerang dan Jakarta Barat. Sebuah jalan penting yang tak pernah sepi walau macet dan banjir menghadang. Tidak pernah sepi walau tak ada yang tahu siapa pejuang tampan asal Minahasa yang menjadi nama jalan tersebut.

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *