COVIDIOT: Istilah Untuk Orang Menyebalkan Di Saat Wabah Covid-19

Di tengah wabah COVID-19 yang sedang marak terjadi di berbagai belahan bumi, saat ini ada saja tingkah laku sebagian orang yang sungguh buat saya sebel. Alih-alih mewaspadai persebaran corona, mereka justru terlihat memperburuk keadaan. Melakukan serangkaian hal yang membuat orang lain jadi kesusahan, dan mereka ada di sekeliling kalian.

Selama beberapa hari ini, saya melihat kanal twitter ramai dibanjiri oleh istilah baru yaitu ‘Covidiot’ dan itulah mereka. Sebuah predikat yang disematkan untuk orang-orang egois, serakah atau apapun itu. Istilah ini muncul di kalangan masyarakat urban, yang secara harfiah mendefinisikan Covidiot sebagai seseorang yang mengabaikan peringatan tentang kesehatan atau keselamatan publik. Yang bikin parahnya lagi adalah orang ini menimbun barang. Dasar tamak!

Di Amerika, keadaan tergambarkan parah sebab orang yang selanjutnya kita sebut Covidiot, memborong bahan pokok, tisu toilet, masker, dan kebutuhan primer lainnya. Di lain sisi, orang yang kurang beruntung dibuat kesulitan, apalagi buat yang tak punya banyak uang, ujung-ujungnya mau tidak mau cuma bisa beli bahan seadanya.

Keadaan terasa mencekam, seperti kiamat, egoisme bertebaran. Yang kaya, dengan uang yang mereka miliki menimbun dan membuat rumahnya seperti surga, semua yang diinginkan tersedia dalam jumlah besar. Sementara si miskin, hanya bisa menjaga diri semampunya sambil berharap Tuhan berbaik hati tak mengizinkan virus itu hinggap di tubuhnya—bentuk kepasrahan setulus-tulusnya.

Di Indonesia? Covidiot tentu banyak sekali. Dari berbagai kalangan masyarakat, dan mungkin di lingkaran pertemanan kalian, ada Covidiot. Mari saya beri tau, seperti apa bentuk Covidiot yang mungkin kalian temui, kemarin-marin, besok atau beberapa hari kedepan.

Mereka adalah yang keras kepala, dengan segala bentuk keegoisannya, mengabaikan peringatan tentang social distancing. Tetap mengadakan kegiatan yang menimbulkan kerumunan. Atau yang menganggap bahwa kerumunan adalah hal yang tidak jadi soal. Sebut mereka Covidiot! Mereka yang masih menganggap bahwa virus ini tak akan hinggap di mereka, tetap menjalankan aktivitas biasanya tanpa melakukan antisipasi agar tidak terpapar. Sebut mereka Covidiot!

Baca Juga :  Buku-Buku Untuk Kamu Yang Sedang Bersedih

Mereka yang membeli masker dan hand sanitizer dalam jumlah banyak, menimbunnya, membuat barang tersebut menjadi langka, kemudian menjualnya lagi dengan harga selangit. Sebut mereka Covidiot! Mereka yang masih bias paham, mencocok-cocokkan keadaan sekarang pada—seperti simbol, angka, atau bentuk lainnya—agama yang mereka anut, dengan maksud seakan inilah tanda akhir dari peradaban, peringatan Tuhan, menebar ketakutan. Sebut mereka Covidiot.

Mereka yang membuat lelucon di tengah wabah, dengan dalih menghibur, tanpa mementingkan perasaan orang lain yang mungkin sedang berduka atas kepergian orang tersayang. Sebut mereka Covidiot!

Mereka yang menyebarluaskan informasi ke orang lain tentang pandemi ini, di media sosial, grupchat, tanpa mau mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Sebut mereka Covidiot!

Keadaan sekarang memang akan menimbulkan berbagai macam reaksionis pada diri seseorang. Tapi, apakah tak bisa untuk mengontrol reaksi tersebut sejenak agar setidaknya tak menimbulkan kerugian pada orang lain? 

Percayalah, bahwa ketika kita tak menimbulkan reaksi berlebih, cukup dengan ikuti anjuran yang diberlakukan guna memutus rantai pandemi ini, niscaya keadaan bisa akan cepat membaik. Kawan, ini hanya butuh waktu dan persoalan sabar. Dunia tak menuntut kalian melakukan hal heroik. Setidaknya tetap bermoral dan punya segenap empati, serta ikuti peringatan dan anjuran. Itu sudah jauh lebih dari cukup.

Untuk saat ini, yang kita butuhkan juga adalah solidaritas umat manusia. Kuatkan satu sama lain, tularkan virus semangat saling mengingatkan, bahwa kita bisa menjalani masa sulit ini bersama. Teruntuk kalian yang sudah mempertaruhkan hidup untuk orang banyak di tengah wabah ini, saya haturkan hormat setinggi-tingginya. Juga kepada kawan-kawan gerakan atau siapapun, termasuk yang menggalang dana untuk membantu sesama, terima kasih sebesar-besarnya.

Baca Juga : Cerita Bumi Tahun 2683: Keberlangsungan Hidup, Perjuangan Bangsa Burung Dan Kekejaman Manusia

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *